Dosenku Pacarku (15)


http://www.youtube.com/watch?v=CnkjCm8ghI0
I need to know.
They say around the way you've asked for me/ There's even talk about
you wanting me
I must admit that's what I wanna hear/But thats just talk until you
take me there

**) If it's true don't leave me all alone out here/Wondering if
you're ever gonna take me there
Tell me what you're feeling cause I need to know/Girl you gotta let
me know which way to go

Cause I need to know, I need to know /Tell me baby girl cause I need
to know /I need to know, I need to know/ Tell me baby girl cuz I need
to know

My every thought is of this being true/It's getting harder not to
think of you
Girl I'm exactly where I want to be/The only things I need you here
with me
Back to **)

========== 14 ==================
" Zung, bukan....tolonglah...aku..."
" Apa yang bisa kutolong..?"
" Nanti bang aku ceritakan, siapa aku dan suamiku sesungguhnya."
" Kapan.." tanyaku tak sabaran.
" Kamis depan."
" Lho, lama sekali....pembaca nggak sabaran nih..." ( Bersambung)
===============================
SUSAN mengantarkan aku pulang ke rumah kost ku. Sebelum tiba di
tempat tujuan, Susan memberitahukan, kalau tempat kami tuju adalah
tempat kostnya dulu, dibilangan Polonia.



" Susan, kamu mau bernostalgia? "
" Aku mau abang tinggal disana. Masa abang tinggal di
pinggiran?"ucapnya serius.

" Susan kenapa kamu tidak bicarakan dulu, kalau ada rencana seperti
itu. Tidak Susan, aku tak mau kesana, antarkan aku pulang."
Susan menghentikan mobilnya disisi bahu jalan. Dia menarik nafas
sembari menatapku, " Aku mau memberi yang terbaik untuk mu bang.
Kenapa rupanya kalau abang tinggal di Polonia?" ujarnya sedih.

" Terimakasih atas perhatian mu. Tapi, mestinya kita bicarakan dulu.
Susan masih ada waktu ? kita bicara dululah."
" Iya bang, aku siapkan waktu khusus untuk mu. Kita bicara dimana
sayang..?"

Aku mengajaknya ke restauran dimana aku dan mantan pacarku
selalu "rendezvous."
"Janganlah bang, disana banyak mahasiswa " dating" suasananya tidak
nyaman." ujarnya.

Aku baru sadar, kalau temanku sekarang "kelas"nya berbeda dengan ku,
mahasiswa. "Terserah Susan , hanya tempat itu yang sering kami
kunjungi dulu."
Susan langsung menyambar, " dengan Magda iya."
"Susan, tolong jangan menyebut nama itu lagi, perasaan ku terganggu."
" Iya bang, sorry..... Kita sekalian makan malam saja ?"
" Terserah, tapi cari restauran yang menyediakan gado-gado atau mie
pangsit." ucap ku iseng.

Susan ketawa sambil melirik ku. " Bang, jualan gado-gado hanya di
warung atau restauran kecil. Aku juga suka , nanti aku buatkan
khusus, gado-gado dan mie pangsit untuk bang Tan Zung.?"
"Terserah ibu lah." ucapku sambil tersenyum.
Sejenak Susan memandangku sembari menyetir mobilnya, "hati-hati bu,
perhatikan jalannya."

"Aku tahu, abang angekin aku. Teruskan bang...ayo lanjut... " ujarnya
sambil meraih tanganku, dia mencium,lembut. Kubiarkan dia
mempermainkan jemariku sepuasnya hingga tiba di sebuah hotel
berbintang yang belum lama di resmikan.

" Susan,nggak apa-apa pakaianku seperti ini ? Sepertinya kurang
pantas berjalan dengan mu. Nanti orang pada bingung; kok, sopir jalan
mesra dengan majikan.! Kita lebih baik ke restaurant yang lebih
sederhana, aku malu."

" Zung, kenapa malu, aku bangga berjalan dengan lelaki "gagah"
berhidung mancung," ujarnya ngumbang.
" Jadi kamu tidak malu jalan dengan aku.?
Susan langsung menggaet tanganku, "Ayo bang, apa perlu kucium sembari
kita jalan, seperti di film itu.?"

Rasa percaya diri ku tumbuh ketika Susan menggandeng ku seperti
remaja sedang jatuh cinta. Sejenak aku terdiam, ketika aku menyadari,
pakaian luar ku ( jeans dan t-shirt) adalah pemberian dua orang
perempuan.

T-shirt "UCLA" yang aku kenakan pemberian Susan. Sementara jeans ku
adalah kado Magdalena pada saat ulang tahun ku. Sejak aku dan
Magda "bercerai" jeans itu sudah ku simpan dalam tas, masuk kategori"
out of order". Tetapi karena tidak ada pilihan lain, terpaksa aku
pakai. Memang sejak aku pindah, rasa malas selalu muncul, karena
harus menimba air dari sumur, namanya juga di kampung.

Susan terus menggadeng tangan ku hingga masuk "dining room" hotel
itu. Dia mengambil tempat duduk persis disebelahku, beda dengan
sebelumnya posisi kami berhadapan. Kini aku yang salah tingkah,
sesekali aku melirik kesekeliling, jangan-jangan ada teman mahasiswa
atau dosen teman Susan.

Hatiku lega setelah mataku menyapu bersih tak ada seorangpun yang aku
kenal, aman. Seorang "waitress'" menyapa dan menyodorkan "menu book"
kearahku. Tanpa kusadari aku menatap wajahnya sedikit lama, aku coba
mengingat wajahnya mirip siapa.

Susan menegur ku," bang, awas matanya copot. Ceweknya cantik iya?"
tegurnya sambil mencubit paha ku, kuat.
" Nggak juga, lebih cantik kamu. Aku cuma ingat-ingat mirip siapa.
Dia mirip dengan Ira yang mengantarkan ku malam minggu lalu." ujarku
lembut.

Wajah Susan sedikit "redup" hanya gara-gara pandangan ku sama
waitress, oh...iya..ya cinta, tapi kok iya, cemburunya berlebihan.
(Bersambung)

Palm Spring, September 03, 2008

Tan Zung

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar