Dosenku Pacarku (34)


Chlark - What hurts the most


Mau dengar lagunya, klik disini

I can take the rain on the roof of this empty house/That don't bother
me/ I can take a few tears now and then and just let them out/I'm
not afraid to cry every once in a while

Even though going on with you gone still upsets me/There are days
every now and again I pretend I'm ok/ But that's not what gets me

What hurts the most/Was being so close/And having so much to say/And
watching you walk away
And never knowing/What could have been/And not seeing that loving
you/Is what I was tryin' to do

It's hard to deal with the pain of losing you everywhere I go/But I'm
doin' It/ It's hard to force that smile when I see our old friends
and I'm alone/Still Harder

Getting up, getting dressed, livin' with this regret/But I know if I
could do it over/I would trade give away all the words that I saved
in my heart/That I left unspoken

What hurts the most/Is being so close/And having so much to say/And
watching you walk away
And never knowing/What could have been/And not seeing that loving
you/Is what I was trying to do (2 x)

Not seeing that loving you/That's what I was trying to do
Ooohhh....

============= 33 ===========
Magda mulai semangat ketika bicara menyinggung skripsi, " belum bang,
kata pembimbingku minggu depan, "jawabnya, seraya menambahkan, abang
pasti sudah selesailah iya.!"
" Magda kok tahu.?"
" Iyalah.., habis abang sudah lengket dengan ibu itu.!"(Bersambung)
===========================
Aku terperanjat mendengar celutukannya, " Magda sok tahu. Darimana
kamu tahu abang lengket dengan ibu itu.?
" Dari semangat abang."
" Aku nggak mengerti maksudmu.?"

" Ah...abang pura-pura kaget. Tadi pagi dekat persimpangan kampus,
aku melihat abang begitu semangat ketika keluar dari mobil ibu itu,
bahkan abang sengaja tidak melihatku padahal motor aku klekson."

Mawar merasa " surprise" mendengar kesaksian Magda.
" Jadi abang satu mobil dengan ibu itu, hebat. Selamat, abang pasti
lulus." ujar Mawar.

Aku tak dapat mengelak, terpaksa mengakuinya, " Iya, aku tadi yang
bawa mobilnya. Tadi pagi aku kesana menjemput skripsiku, kebetulan
sopir ibu sedang pulang kampung, jadi aku yang nyetir."
" Tadi pagi abang kesana..?" tanya Magda
" Iya ..kenapa.?"
"Siapa yang bohong, abang atau ibukost abang?

Kata ibu kost, abang baru pulang tadi pagi.!"
Oalah sempit kalilah dunia ini, ketangkap basah lagi, kepala bagai
dipalu. Aku coba lagi meyakinkan bahwa aku kesana hanya urusan
skripsi, " Iya...tadi malam aku menginap dirumah teman, paginya aku
kesana."

" Bang..., Magda nggak punya urusan, mau tiap hari, mau tiap malam
abang kesana. Tapi malulah...ibu itu kan sudah punya suami. Sejak
dulu, aku sudah ingatkan abang, hati-hati dengan ibu itu, abang saja
keras kepala."

" Aku nggak ada apa-apa dengan ibu itu. Masa gara-gara tadi pagi,
Magda punya kesimpulan aku ada "affair" dengan dia.?"
" Bang, apa peduliku abang pacaran atau nikah dengan dia. Tetapi
sebagai teman, aku hanya ingin mengingatkan. Apa abang belum dengar,
kawan-kawan heboh gara-gara abang berdansa dengan ibu itu di discotik
minggu lalu?" tanya Magda.

" Aku belum dengar rumor itu. Tapi malam itu dia dengan suaminya
kok.!" terangku.
" Orang mana peduli ada atau nggak ada suaminya, yang pasti mata
orang melihat abang sedang berdansa, minum bersama dengan ibu itu.
Idihhhh... malu kalilah aku bang." ucapnya.

Mawar ngomporin lagi," abang hebat iyah.. sekarang mainannya ibu-ibu,
dosen lagi."
" Bang, sebelum makin jauh, akhirilah hubungannya dengan ibu itu."
pinta Magda.

" Iya..tetapi aku tunggu selesai sidang meja hijau duluah. Aku takut
nanti kalau langsung menjauh, aku ditekan dalam ujian. Atau menurut
mu ada cara lain.?"

" Lho, abang yang melakukan, abang senidiri yang lebih tahu. Aku dan
Mawar hanya penonton. Hanya nggak enak saja kami dengar rumor
dikalangan teman. Kebetulan mereka tahu, kita pernah bersahabat."

" Memang, kita nggak bersahabat lagi.?"
Mawar ketawa mendengar percakapan kami, agak serius, sementara Magda
menatapku dalam, entahlah pikirannya berkata apa, mungkin saja dia
bilang, " abang lanteung!."

Diselah-selah percakapanku dengan Magda, aku coba mengakrabkan diri
lewat gesekan kakiku dibawah meja. Tetap selalu kakinya menghindar
setiap kakiku menyentuhnya, tidak seperti sediakala, dia selalu
membalasnya, lembut.

Ah...kaki sajapun tak sudi disentuh apalagi yang lain. Memang sudah
patah arang. Segera kuakhiri "diplomasi kaki", sebelum dia meronta
minta pulang.( Bersambung)

Los Angeles, September 18, 2008

Tan Zung

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar