Dosenku Pacarku (29)


"When You Say Nothing At All"

Mau Mendengar Lagunya, klik disini

It's amazing how you can speak right to my heart/ Without saying a
word, you can light up the dark
Try as I may I could never explain/ What I hear when you don't say a thing

[Chorus:]
The smile on your face let's me know that you need me/ There's a
truth in your eyes saying you'll never leave me
The touch of your hand says you'll catch me if ever I fall/You say it
best when you say nothing at all

[Verse 2:]
All day long I can hear people talking out loud/ But when you hold me
near, you drown out the crowd
Try as they may they can never define/ What's being said between your
heart and mine
[Chorus twice]
============== 28 ===========
" Kenapa ? Abang tega meninggalkan aku sendirian ? Abang buru-buru
mau pulang atau kerumah Ira?"
" Kerumah Ira..? Ngapain...?"
" Barangkali tadi masih kurang..."
" Kurang apanya.?"
" Zung, kamu sering berpura-pura. Aku tadi melihatmu ciuman dengan
Ira." (Bersambung)
=========================
Oala.....ketangkap basah, tadinya aku tidak mengharap "hadiah" dari
Ira, padahal masih ada hari esok.
" Susan, kami tidak ciuman, masa aku ciuman didepan Sari, Ira spontan
saja mencium pipiku. Aku tidak sempat mengelak, dan kasihan Ira kalau
aku menolak. "

" Mengelak...? Memang itu maunya abang.!"
" Apa perlu, aku mengembalikan ciumannya ?" ucapku sambil
meninggalkannya didapur. Aku ke kamar mandi, cuci muka.
" Nih....tak sedikipun tertinggal bekas ciuman Ira di pipiku, sudah
puas.?"

"Bang, jangan marah begitu. Aku hanya bilang apa yang aku lihat."
ujarnya sambil menyeka wajahku-- yang sengaja kubiarkan basah--
dengan kedua tangannya.

" Kamu melihat degan perasaan bukan dengan matamu."
" Iya, bukankah hati dilihat dengan perasaan.?

" Bisa, tetapi harus pakai logika.!"
" Logika bang..? Itu aku yang nggak mengerti. Aku adalah dosenmu,
kamu mahasiswaku. Aku sudah punya suami, tetapi aku jatuh hati kepada
mu. Lalu, dapatkah logika ini diterima ? Kecuali, cinta? Zung...hanya
cinta itu yang dapat menguraikannya, dengan perasaan dan hati, bukan
dengan mata.!"

" Lalu, itu sebabnya, cemburu mu membabibuta? "

" Salahkah aku mencemburui orang yang aku kasihi. Siapa yang dapat
membatasi hati kecuali diri sendiri!? Meski apapun terjadi, aku
mencintaimu dengan sepenuh hati. Soal bagaimana nanti, mari kita
lihat akhir perjalanannya,akupun tak tahu dimana cintaku akan
berlabuh. Yang pasti bang--dalam sanubariku-- aku akan mengabadikan
cintaku itu seumur hidup, sebab abanglah orang pertama yang aku
cintai dengan tulus.Aku tidak perduli, apakah abang juga mencintaiku."

"Susan, kamu menempatkan cintamu tidak pada orang yang tepat."
" Siapa yang menentukan tepat tidaknya cinta bersemi? Bukankah
sipemilik cinta itu sendiri?"

"Siapa pemilik cinta itu?"
" Aku.... aku yang abang anggap perempuan bodoh dan tak berharga."
ucap Susan masih lemah, seraya menambahkan, aku tahu abang menemaniku
hanya karena punya kepentingan.

"Betulkah...?"
Bang...skripsimu sudah selesai kuperiksa, tadi kita kelupaan mampir
dikantorku mengambil skripsimu. Besok boleh kamu ambil kekantor.
Untuk selanjutnya, terserah abang, mau menemuiku atau tidak sama
sekali terserah. Sampai kita ketemu dalam meja hijau.

Ucapan Susan menohok tajam. Iya benar, aku rela menemaninya hanya
karena aku punya kepentingan, menyelesaikan skripsiku. Tetapi malam
ini aku mau mengubah semua "skenario" yang sudah tersusun rapi
sebelumnya dalam benak ku: " siap melayani Susan hingga skripsiku
berakhir". Kini, Susan menggetarkan sendi-sendi "kemanusiaan"ku.

Susan sosok perempuan yang layak mencintai dan dicintai. Tetapi, aku
belum dapat memberi kesimpulan, apakah aku benar-benar mencintainya.
Aku semakin tak mengerti, bagaimana Susan membagi cintanya, untukku
dan suaminya.

" Susan, mau mengusirku? Tidak dapatkah aku mengutarakan apa yang
ada dalam hatiku.Seperti kamu telah mengutarakan apa yang ada dalam
hatimu.?"

" Zung, aku tak membutuhkan jawaban dari mulutmu. Aku dapat merasakan
getaran hati. Getaran hati yang tak dapat membohongi ku, juga dirimu
sendiri. Itu yang dapat kurasakan, yang dapat dilihat oleh mata
hatiku."

"Susan, cukup dulu "khotbah"mu malam ini. Pikirkan dulu kesehatanmu.
Masih ada waktu untuk membicarkannya."

" Waktu...? Siapa pemilik waktu itu ? Hanya, aku dan abang."
" Belum Susan," waktu" itu belum kita miliki sepenuhnya. Itu hanya
perasaamu saja."

" Bang, disitulah kebodohanku. Aku selalu menempatkan pada tempat
yang salah, seperti abang katakan. Ajarkan aku bang, bagaimana aku
harus menempatkan pada tempat yang tepat dan benar."

" Biarkan "waktu" yang berbicara padamu sendiri."
" Aku telah memiliki "waktu" itu, siapapun tak dapat merampas dariku.
Aku juga tidak tahu "waktu" yang kumiliki itu hanya fatamorgana.

Bang, "waktu" jualah kelak memberi jawaban akhir, entah kapan.Yang
pasti, kini, hatiku telah memilikinya. Susan, bangkit dari sofa,
suaranya pelan: "bang, akulah pemilik waktu itu."

Tataplah mataku, abang akan melihat relung-relung hatiku yang gundah.
Cukup lama aku merasakan itu. Ada satu yang kupinta darimu: " jangan
menganggapku perempuan pengemis cinta, dan, jangan membohongi
dirimu." ( Bersambung)

Los Angeles, September 11, 2008

Tan Zung

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar