Dosenku Pacarku (25)


"Right here waiting for you"

Mau Mendengar Lagunya, Klik disini

Oceans apart day after day/And I slowly go insane/I hear your voice
on the line/But it doesnt stop the pain
If I see you next to never/How can we say forever

*) Wherever you go/Whatever you do/I will be right here waiting for
you/ Whatever it takes/Or how my heart breaks/I will be right here
waiting for you

I took for granted, all the times/That I thought would last somehow/I
hear the laughter, I taste the tears/ But I cant get near you now/Oh,
cant you see it baby/Youve got me going crazy
back to *)

I wonder how we can survive/This romance/But in the end if Im with
you/Ill take the chance

Oh, cant you see it baby/Youve got me going crazy
Repeat *)
=================== 24 ========
" Abang genit. Ayo.... abang duluan...nanti kita terlambat." desaknya
sambil menarik tanganku.Sari tersenyum mendengar percakapan singkat
aku dan Ira.(Bersambung)
=============================
Sari dan Ira memperkenalkan kepada manajer baru, aku adalah kakak
kelasnya dan akan mengantar - jemput mereka. Sari dan Ira
mengantarkanku ke meja disudut ruangan. Sebentar Sari dan Ira duduk
bersamaku sebelum discotik dibuka.

"Sari sejak kapan ada kesapakatan kita, aku antar jemput kalian? Aku
hanya "mengawal" kalian setelah discotik tutup."

Keduanya tertawa, " Memang tidak ada bang. Sari sengaja bicara
seperti itu, supaya kita dapat potongan setengah harga." jawab Sari.

Aku meninggalkan discotik setelah kedatangan beberapa tamu. Aku takut
tak dapat menahan diri,mimum. Bisa-bisa pembayaran kost tak lancar.
Setoran tukang parkir telah berhenti setelah aku pindah "keujung
bumi".
******
Aku kembali ke discotik setelah lelah berjalan keliling sepanjang
jalan Kesawan. Aku kaget melihat Susan duduk disudut ruangan,
tempatku duduk sebelum discotik dibuka.

Aku segera memutar tubuhku sebelum dia melihatku, kabur. Aku buru-
buru melangkah keluar. Sakit hatiku belum pulih atas hujatan Susan
kemarin malam. Sukar sekali melupakannya. Aku mendengar sepasang
langkah mendekatiku dari belakang.

" Bang..! Susan menunggumu di dalam." ujar Ira.
" Ira, jangan beritahu aku ada disini."
" Kenapa bang?. Ira sudah mengaku kalau abang tadi siang dirumahku
dan kita pergi sama ke kampus. Sari juga bilang, kalau nanti malam
kita pulang bersama."

" Untuk apa kalian beritahu semuanya.?"
" Bang, kami ditanyain terus sama dia.Ira bilang saja apa adanya."
" Nanti kalau ditanya, katakan aku sudah pulang. Nanti aku tunggu
kalian disudut jalan sana, ok ?."

" Ayo bang, ikut Ira saja. Abang duduk dibelakang saja, di ruang
tunggu karyawan."
Ide bagus, dari pada tersiksa diluar, aku ikut Ira ke ruang tunggu
karyawan melalui jalan samping.

Aku dikejutkan suara Susan ketika aku dan Ira jalan dari samping
discotik. Suaranya lembut memanggil namaku. Aku pura-pura tak
mendengar.

Ira menghentikan langkahku, "bang aku nggak enak, pergi sajalah
dengan Susan. Susan sudah melihat kita, nanti aku bisa dipecat kalau
Susan melapor yang tidak-tidak kepada manager. Ayo bang temuin
dia.." desak Ira.

Susan segera menyusulku disamping gedung discotik ketika aku masih
bicara dengan Ira. " Zung boleh aku bicara sebentar?...sebentar
saja." tanyanya lembut.

Segera Ira permisi meninggalkan aku dan Susan . " Ira, terimakasih,"
ucap Susan lembut, tak kalah lembutnya ketika menyapaku.

" Susan, apa lagi yang kamu harap dari seorang bandit... hah...?"
" Zung, kita bicara didalam saja, abang boleh marah-marah disana,
tapi jangan disini. Aku malu dilihat orang, " ujarnya sambil memegang
kedua tanganku, wajahnya memelas kearahku.

Sialan, hatiku langsung terenyuh mendengar ajakannya, lembut
menghanyutkan. Aku boleh marah? Berarti, dia telah menyadari
kesalahannya kemarin malam. Bagiku, itu kesalahan mahaberat. Aku
ikutin dia masuk kesudut ruangan tempatku semula.

"Abang mau minum? Aku nggak bang, takut nanti keterusan, masih banyak
tugasku yang belum selesai."

" Susan, ngapain kamu kesini?. Tempat ini bukan ruangan memberi
kuliah, bukan juga tempat bertemu dengan bandit dan buaya."
Susan hanya menatapku sendu, tak bicara. Aku tak tahan menatap
matanya, kasihan. Untuk menutupi kegugupanku, aku panggil
pramuria,Ira. " Ira, aku mau mimun, satu "shoot" saja."

" Susan nggak mau minum?.Minum juice saja iya..bu.!" ucap Ira.
" Bolehlah, biar ada teman abang minum." jawab Susan.

"Zung, aku tadi mampir dirumah mu."
" Untuk apa Susan datang kegubukku lagi, masih belum cukupkah
amarahmu tadi malam? Sekarang, Susan menemuiku lagi ketika aku
bersama dengan perempuan malam ?

Susan, sepertinya, aku lebih cocok berteman dengan perempuan-
perempuan malam itu. Memang, aku pria tak tahu diri, berteman dengan
seorang perempuan yang bukan"level" ku." ujarku sambil mereguk habis
isi gelasku.

Susan melarang Iran menambah minumanku ketika aku meminta tambah.
" Ira, cukup dulu." cegah Susan.
" Susan..! kenapa mencampuri urusanku ?. Aku mau mampus, mau mati,
itu bukan urusan mu. Aku cukup dewasa untuk menentukan apa yang aku
mau. Susan cukup mengurus skripsiku, itupun kalau masih mau. Susan
juga harus tegas, mau atau tidak menyelesaikannya. Atau aku harus
pindah ke dosen lain, yang mau memperhatikan nasibku."

Ira kaget ketika aku berucap tengik kepada Susan dosenku.
Susan diam, tak melayani ocehanku. "Ira, nanti aku panggil, kalau
abang mau tambah." ujar Susan kepada Ira yang berdiri kebingungan.
" Iya..bu." ujar Ira buru-buru meninggalkanku dan Susan. (Bersambung)

Los Angeles, September 10, 2008

Tan Zung

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar