Dosenku Pacarku (40)


"All Over Again"

Mau dengar lagunya, klik disini

Turn down the lights, turn up the radio./There's a fire in your eyes
an' it's keepin' me warm./Hold on to me like it was yesterday,/When
we both felt our spirits collide.

I remember the moment, bein' struck down by lightnin',/since The
first time I saw your face, and you smiled.
Come an' lay down with me; feel the space that's between us./Find the
magic that keeps love alive.

*) This time can be like the first time:/Close your eyes an' soon
we'll be there. An' no mind could ever guess what we're feelin'./Turn
a spark to a flame; make a wish;
Close your eyes, watch it start all over again./Just like the first
time that you touched my skin. (All over again.)
I tasted Heaven, take me there again.(All over again.)
Your smile, your touch, your taste,/It turns me on and on and
on:/Then I fall in love with you all over again.

Come an' step through the stars, take a ride through the universe./As
long as we're here, let's take the whole thing in.
What I'm tryin' to say is that you are so beautiful,/Let me say it
all over again.
*)
================== 39 =================
Sebelum aku menanyakan kepada ibu, kenapa om Hendra ikut bersamanya,
Hendra lebih dulu menjelaskan "kebetulan aku tugas ke Arizona, ibu
mengajaku sama. Sebenarnya, dinasku baru minggu depan," terang
Hendra. Aku merasa lega, padahal pikiranku sedikit curiga.
(Bersambung)
===================================

Aku mengantarkan Hendra ketempat saudaranya di "Orange County",
perjalanan memakan waktu setengah jam dari airport.


Didalam mobil, setelah mengantar Hendra, ibu menanyakan, apa mungkin
Hendra dapat menghadiri wisudaku. Aku hanya mendapat jatah dua orang,
satu untuk ibu dan satu lagi telah aku janjikan mau memberikan kepada
teman kostku, Gina, perempuan Turki.

Gina memahami penjelasanku, akhirnya undangan itu aku serahkan kepada
om Hendra. Sehari sebelum wisuda, ibu menyuruh agar aku menjemput
Hendra pada hari "H".

Aku terangkan kepada ibu, kalau hari itu sibuk mempersiapkan
keperluanku, dan aku harus ke kampus pagi hingga siangnya. Tetapi ibu
ngotot harus menjemput om Hendra. Aku mengalah.

Diam-diam tanpa sepengetahuan ibu, aku telephon om Hendra,
memberitahukan aku nggak bisa menjemputnya, karena kesibukanku. Om
Hendra mengerti, "nggak apa-apa, nanti saudara yang mengantarkan ku"
ujarnya. Aku lega.

Air mata ibuku mengiringi tangisan kebahagaiannya, ketika aku selesai
diwisuda. Aku juga terisak sedih, teringat ayahku yang telah pergi
untuk selamanya, semestinya ayah mendampingi ibuku bukan om Hendra.
Lama sekali ibu memelukku sambil menangis, hingga akhirnya om Hendra
menegur aku dan ibu," sudah, nanti dirumah lagi kalian lanjutkan,"
ujarnya.

Om Hendra memberiku ucapan selamat, sembari mencium tanganku. Hal
yang sama dilakukannya kepada ibu. Aku menolak ajakan om Hendra untuk
makan siang esok harinya.

" Lain kali saja om, aku mau bawa ibu ke "Universal Studio" dan
esoknya lagi ke " Disneyland".ujarku kala itu. Sebelum kembali
ketanah air, aku puaskan ibu menikmati beberapa daerah kota wisata;
Fresno, San Francisco kemudian mampir ke Sacramento, ibukota
California.

Selama dalam perjalanan ibu selalu bercerita tentang kebaikan om
Hendra. " Orangnya rendah hati dan tulus, meski jabatannya cukup
tinggi," ujar ibu. Aku tak begitu tertarik dengan cerita ibu.

Aku jadi teringat, ketika itu, saat aku mau berangkat ke California,
Hendra datang kerumah, bicara dengan ibu agak lama, aku tak tahu apa
yang mereka bicarakan.

Dalam hatiku, ah..ibu mungkin ada main dengan om Herman. Tetapi,
apakah secepat itu ibu dapat melupakan ayah. Buru-buru pikiraanku
segera kualihkan, aku tak tega menduga-duga, apalagi ibu yang kukenal
selama ini adalah yang taat beragama.

Zung..., seminggu setelah wisuda, aku dan ibu kembali ketanah air.
Tiba dirumah, airmataku mengalir deras melihat foto ayah, aku dan
ibu, -ketika wisuda sarjana- tergantung diruang tamu.

Aku terhempas, bersimpuh didepan foto ayah dan menangis sembari
memanggil ayah. Ibu memelukku, kami berangkulan sambil melepaskan
rindu dalam tangis mengingat ayahku yang terbaring diperaduannya,
menyendiri.

Aku tak tahan menanggung rindu, segera aku ajak ibu ke pusara ayah.
Sepanjang perjalanan, aku tak kuasa menahan tangis. Dari tepi jalan
menuju pusaranya, aku berlari sambil menjerit memanggil -mangil
ayahku, " ayah...aku telah kembali, ayah bangun...aku telah pulang,
bangun ayah. Ayah tega meninggalkan Susan dan ibu, bangunlah ayah,
aku telah berhasil menggapai cita-cita luhurmu.

Aku terus memeluk pusara dan menciumi batu nisan ayah. Ibuku berusaha
membujukku supaya aku berhenti menangis, tetapi rinduku belum
terpuaskan. Rasannya hidup ini begitu cepat.

Aku kelelahan menjerit, menangisi pusara ayah. Ibu mengajakku
pulang, tubuhku begitu lemah dan hatiku rapuh. Selama seminggu aku
tak ingin keluar dari rumah, meski ibu telah berulang-ulang
mengajakku berkunjung ke rumah om dan tanteku.

Hampir setiap malam aku dan ibu duduk diam, seakan merenungi "nasib"
seorang janda dan putri sebatangkara. Aku semakin tak tahan melihat
wajah ibuku senantiasa dirundung kesedihan.

Aku segera"bangkit dari kubur nestapa" ini. Aku tak mau dijerat masa-
masa lalu, aku harus mengayunkan langkah menyongsong matahari terbit.
( Bersambung)

Los Angeles, September 24, 2008

Tan Zung

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar