Dosenku Pacarku (35)


"Time After Time"

Mau dengar lagunya, klik disini

Lying in my bed I hear the clock tick,/And think of you/Caught up in
circles confusion/Is nothing new/ Flashback warm nights / Almost left
behind / Suitcases of memories,/Time after Sometimes you picture me/
Im walking too far ahead/ Youre calling to me, I cant hear/ What
youve said/Then you say go slow/I fall behind/The second hand unwinds

If youre lost you can look and you will find me/Time after time/If
you fall I will catch you Ill be waiting/Time after time(2 x)

After my picture fades and darkness has/Turned to gray/Watching
through windows youre wondering/If Im ok
Secrets stolen from deep inside/The drum beats out of time
If youre lost you can look and you will find me/Time after time/If
you fall I will catch you Ill be waiting/Time after time

You said go slow/I fall behind/The second hand unwinds

If youre lost you can look and you will find me/Time after time/If
you fall I will catch you Ill be waiting/Time after time (2X)
Time after time/Time after time/Time after time

=================34 ===========
Ah...kaki sajapun tak sudi disentuh apalagi yang lain. Memang sudah
patah arang. Segera kuakhiri "diplomasi kaki", sebelum dia meronta
minta pulang.( Bersambung)
===============================
Selama percakapan, tanpa mereka sadari banyak kata-kata bijak
terlontar dari mulut mereka. Meskipun Magda masih sakit hati, tetapi
dia masih memperhatikan "langkah"ku.Kejadian pagi hari --ketika
keluar dari mobil Susan-- meyakinkan rumor yang didapatkannya melalui
teman satu kampus, bahwa aku telah kembali ke kehidupan lama, mabuk
dan liar.

Julukan "malaikat" yang aku berikan kepadanya,menurutku, sangat pas,
walau juga aku belum pernah melihat sosok malaikat sesungguhnya.

"Bang, kalau nggak keberatan, setelah skripsimu telah selesai dan
ditandatangani sama ibu itu, hindarilah dia. Terserah abang bagaimana
caranya. Untuk kiat-kiat yang seperti itu kan abang gurunya," ujar
Magda ngenyek.

" Bantulah aku, abang mentok nih. Abang juga sudah niat buat jarak,
sebelum Susan mengharap lebih jauh."
" Apa yang mau diharap dari abang ? Paling juga abang
dijadikan "piaraan.!"

" Masa orang kau bilang piaraan, kayak hewan piaraan," balasku renyah.
" Kenapa nggak? kelakuan orang juga kadang melebihi hewan..!"

"Eh...Magda, kamu ngomong apaan tuh..?" selah Mawar mengingatkan.
Magda langsung tersipu sambil menutup mulutnya, " maaf bang, maksudku
bukan abang..." ujarnya sambil merapatkan kedua telapak tangannya
didepan wajahnya seperti sikap menyembah.

Sebenarnya aku tidak merasa tersinggung dengan ucapannya, hanya saja
dia keceplosan lidah saja. Kebetulan pula nggak ada lagi hubungan
kasih dengannya, kalau nggak, habislah dia. Bisa-bisa cerber inipun
bertambah dua lagu ( capek kalipun nyarinya..) dan dua halaman, mulai
dari marah, ngambek, isak tangis, bujuk dan akhirnya ketawa...iya
kayak film India jugalah.

Aku turunkan ujung jari tangannya keatas meja, Magda masih merasa
besalah, " Maaf bang, mulutku latah." ujarnya sambil menatapku.
" Nggak ada yang perlu dimaafkan, Magda benar. Banyak manusia
kelakuannya melebihi dari makhluk yang kamu sebutkan tadi, membunuh
anak, orang tua, menyiksa isteri, beristeri lima...."
" Heh...sudah bang, kok jadi khotbah" selah Mawar disambut tawa Magda.

" Bagaimana, kalau pulang ke kampung dulu, setelah kuliah kita minggu
depan usai. Abang bisa memenangkan diri sebelum meja hijau. Jadi, ada
alasan abang menghindari ibu itu. Aku yakin, ibu itu akan dapat
menerima alasanmu." usul Magda.

" Terimakasih usulan mu cemerlang. Ternyata, masih ada yang tersisa
hasil "trainning ku." ujarku sambil menyalamnya.
" Apa bang...? trainning...?" balas Magda sambil memelototkan
matanya kearahku.

" Nggak.., anggap saja aku juga latah. Aku setuju usulmu dan aku
akan berangkat minggu depan, setelah skripsiku selesai cetak. Biar
cepat, mau nggak kalian bantuin mengetik ulang skripsiku.?"

" Halah....gaya abang dari dulu nggak berubah. Bilang saja mau minta
tolong, kok pakai bahasa bersayap." ucap Magda tertawa.
" Iyalah aku minta tolong, kita bagi tiga pengetikannya. Nanti kalau
punya Magda sudah selesai, abang akan bantuin."
" Bantuin maho..." ucapnya ketus.

Ingin rasanya hari Sabtu -janji dengan Susan pergi ke Berastagi-
cepat berlalu, Aku ingin segera pulang sekaligus menenangkan diri
untuk persiapan sidang meja hijau. Beruntung aku punya teman seperti
Magda, hatinya tulus dan rendah hati. Usulannya, seperti mendapatkan
mata air di padang pasir. ( Bersambung)

Los Angeles, September 18, 2008

Tan Zung

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar