Dosenku Pacarku (38)


"Cry"

Mau dengar lagunya, klik disini...

I'll always remember/ It was late afternoon/It lasted forever/And
ended to soon/You were all by yourself
Staring up at a dark gray sky/And I was changed

*) In places no one would find/All your feelings so deep inside/It
was then that I realized That forever was in your eyes
The moment I saw you cry

It was late September/And I'd seen you before/You were always the
cold one/But I was never that sure
You were all by yourself/Staring up at a dark gray sky/I was changed

[Chorus]

I wanted to hold you/I wanted to make it go away/I wanted to know
you /I wanted to make your everything, all right
I'll always remember.../It was late afternoon
[Chorus 2xs Out]

==================37 =====================
" Zung...ceritanya sangat panjang. Iya aku pasti kututurkan kepada
abang, pertanda aku memang mencintaimun sepenuh hati. Tapi
bang.....kenapa akhir-akhir ini abang marah terus?. Sejak aku
menyatakan cintaku yang tulus sama abang, aku juga sudah katakan, aku
tak perduli abang mencintaiku atau tidak. Tetapi Zung..jangan marah-
marah seperti ini," isaknya sambil merangkulku.
==========================================
"Zung, kita lupakan yang baru saja terjadi." ujarnya, dia masih
memelukku.
"Susan, maaf, barangkali itu hanya ekspresi kekecewaanku. Aku juga
tidak tahu kenapa aku kesal mendengar jawabanmu, padahal
sepatutnyalah kamu harus mendengar suamimu.

Susan menarik tanganku sembari menciumku, " Bang, aku putarkan lagu
kesayangamu, tetapi abang harus nyanyi. Ayo bang temani aku ,"
bujuknya manja.

" Aku capek, dan lagi sudah terlalu malam," balasku.
Berulangkali Susan membujuk agar aku bernyanyi mengikuti lirik lagu
yang diputarnya," suaranya pelan saja bang, aku ingin menikmati
suaramu..ayo bang...bernyanyilah untukku malam ini," bujuknya seraya
mendekapkan wajahnya diatas dadaku.

Susan meraih kedua tanganku, melingkarkankan diatas pinggulnya. Dia
mulai melangkah pelan mengikuti senandung berirama lembut. " Zung,
bawalah aku malam ini dengan langkahmu...ayo bang...kenapa diam,?"
tanyanya.

Sementara aku masih putar otak, kapan waktu yang pas aku membujuknya
(lagi) menuturkan kisah pernikahannya, aku dikagetkan dengan hentakan
suaranya, " bang......ayo..kataku, melangkahlah untukku, kenapa
diam." ujarnya sambil memukul-mukul dadaku dengan kedua tangannya.

Segera aku memeluknya, erat, " iya...iya...aku akan ikut langkahmu."
ucapku. Susan mendekapku erat sekali sembari memperlambat langkahnya
hingga diakhir lagu.
" Zung, aku lelah, temani aku tidur," ajaknya sambil menarik kedua
tanganku.

" Susan, aku akan menemanimu tidur setelah kamu turturkan kisah
pernikahanmu seperti yang kamu janjikan, atau aku pulang."
"Iya...bang, aku aku tuturkan sambil rebahan. Badanku pegal bang."
"Tidak , aku mau mendengarkan disini," ujarku sambil mengangkat
tubuhnya keatas sofa.
Susan segera bangkit dari sofa, dia meneguk sisa minuman dari
gelasnya.

" Ok...bang, aku mulai dari mana."
" Terserah dari mana, mau dari awal atau akhir asal jangan dari
tengah, susah mengikuti ceritanya." pintaku.
Susan merebahkan tubuhnya diatas pangkuanku, sebelumnya dengan gemas
menggigit daguku, " Hah........Zung...akhirnya aku menemukan seorang
pria yang mau mendengar "sengsara" yang kutahan bertahun-tahun.

Semoga penuturanku ini dapat melepaskan derita batin yang sangat
menyiksa. Tapi , Zung...berjanjilah, bahwa abang tidak akan pernah
menceritakan semuanya ini kepada siapapun."

" Tidak, tidak Susan, aku akan menyimpan semua tuturanmu malam ini,
aku janji." ucapku sambil memberi dia ciuman hangat tanda apresiasiku.
Susan memulai kisahnya dengan gaya bertutur, setelah aku agak lama
aku menunggu.

" Zung, seperti pernah aku utarakan, sejak es-em-a aku tidak pernah
bersahabat dengan seorang pria, setelah aku mengalami trauma ketika
di es-em-pe. Pengalaman buruk itu membuat aku benci dan muak melihat
setiap pria, apalagi kalau pria itu ingin mendekatiku."

" Susan pernah diperkosa, berapa kali ?" tanyaku tak sabar.
" Nggak bang," jawabnya, tangannya menampar wajahku.

" Maaf...aduh aku nggak sabaran, ayo sayang teruskan," desakku. Susan
hampir mogok, terpaksa aku beri"amunisi" lagi, sambil membujuknya.

" Ketika itu, habis ujian, kelas kami menyelenggarakan acara
perpisahan dirumah teman. Sebenarnya ibu tidak mengijinkan aku pergi,
tetapi karena aku beritahu bahwa acaranya dirumah teman pria itu--
ayahnya satu kantor dengan ayahku-- ibu akhirnya mengantarkanku.

Usai acara malam itu, aku tinggal sendirian menunggu dijemput. Teman
pria itu menemaniku diteras rumahnya. Seperti biasanya disekolah,
kami sering bergurau. Tetapi entah kenapa malam itu, dia seperti
kesetanan mau menciumku. Aku kaget, mau berteriak, tetapi aku takut
dia akan memukulku. Aku lari masuk kerumahnya, untung ibunya belum
tidur."

" Jadi dia belum sempat menciummu, kenapa nggak kau ludahi
mukanya...?" tanyaku.
" Bang......diam dulu," teriaknya manja.
" Nggak lama kemudian ibu menjemputku, tetapi malam itu aku tak bisa
tidur. Aku sakit hati."

" Mestinya dia minta baik-baik !" ucapku iseng.
Lagi-lagi Susan menampar wajahku sambil membalikkan tubuhnya, masih
dipangkuanku. Susan mogok lagi.( Bersambung)

Los Angeles, September 23, 2008

Tan Zung

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar