Dosenku Pacarku (32)


"Why do I Love You"

Mau dengar lagunya, klik disini

Suddenly she's /Leaving /Suddenly the /Promise of love has gone
Suddenly /Breathing seems so hard to do /

Carefully you /Planned it /I got to know just /A minute to late, oh
girl /now I understand it /All the times we /Made love together /Baby
you were thinking of him

*) Why do I love you /Don't even want to /Why do I love you like I
do /Like I always do /You should've told me /Why did you have to be
untrue (love you like I do) /Why do I love you like I do

Ain't gonna show no /Weakness /I'm gonna smile /And tell the whole
world I'm fine / I'm gonna keep my senses /But deep down /When no one
can hear me /Baby I'll be crying for you

back to *)
Can't go back /Can't erase /Baby your smiling face oh no /I can think
of nothing else but you /Suddenly

back to *)

============ 31 ===========
"Bang, pakai sekarang saja. Aku sakit hati kalau nggak mau
terima.Tinggalkan pakaian yang abang kenakan, biar dicuci pembantu."
ujarnya. Kami serapan bersama, Susan sendiri menyiapkan semua
hidangan. Dia memilih duduk disampingku. (Bersambung
==========================
Dimeja makan, kami mengobrol layaknya sebagai seorang sahabat lama.
Sesekali aku pancing dia perihal "kecengengannya". Dia hanya tertawa
sambil mencubitku, mesra.

Susan juga menyinggung tentang skripsiku yang telah selesai
diperbaikinya. " Zung, skripsimu parah. Aku suruh kamu perbaiki malah
semakin kacau." ucapnya
"Jadi aku harus ulang lagi.?" tanyaku
" Tidak, aku sudah rombak total bab itu. Nanti kau pelajari lagi. Aku
khawatir, nanti dosen penguji lain akan menanyakan itu padamu.
Setelah habis kuliah, mampir ke ruanganku."

" Bagaimana skripsi Magdalena dan Mawar.?"
" Skripsi Mawar sudah beberapa minggu lalu selesai, Magdalena aku
belum tahu, nanti aku tanyakan sama pembimbingnya. Masih terus ingat
Magdalena iya bang...?"

" Iya, Magda nantangin aku, skrispsi siapa duluan selesai, aku atau
dia.!"
" Kemudian...apa.?"
" Nggak ada apa-apa. Hanya menunjukkan bahwa aku juga mampu seperti
dia.Itu saja." ucapku sedikit kesal.

" Lho, kok abang marah."
" Nggak marah, pertanyaanmu penuh selidik."
" Aku nggak boleh bertanya.?"
" Boleh.! Susan, aku dan Magda tidak akan mungkin bersatu lagi. Aku
tahu dia sangat sakit hati. Kalaupun nanti Susan melihat kami akrab
seperti biasanya, itu hanya sebagai pelipurlara, tidak lebih dari
situ."

Susan tertawa, " Abang sangat sensitif kalau menyinggung nama
Magdalena."
"Sudah..ah, kita berangkat, nanti Susan terlambat." ujarku sambil
meningalkannya masih tertawa dimeja makan.
***
Susan marah ketika kusuruh duduk dibelakang," kalau ada orang lihat,
biar aku dikira sopir pribadimu."ucapku.
"Abang malu kalau aku duduk bersamamu di depan.?"
"Nggak juga, hanya menjaga nama baikmu saja." ujarku.

Sepanjang perjalanan kami melanjutkan pembicaraan kami seputar
perkuliahan dan rencanaku berikut setelah lulus. Susan juga
mengingatkan rencana keberangkatan ke Berastagi.

Hampir juga ribut, ketika aku mulai berdalih, mengelak ikut
dengannya. Seperti biasa, wajahnya langsung cemberut, tak bergairah,
padahal aku cuma bilang, "lihat nantilah."

Kadang aku suka melihat tingkahnya, seperti anak remaja, merajuk. Aku
sudah tahu kiat"melumpuhkan" kecengengannya, putar lagu
kesayangannya, aman.

Aku iku bersenandung mengikuti lagu, kutarik suara
tiganya...haha.... "sempoyangan" dia. Selain menikmati suaraku, dia
juga menikmati wajahku, sesekali aku menoleh kearahnya, seiring lirik
lagu, mirip film India.

" Zung, belajar nyanyi dimana.? Aku baru dengar abang bisa nyanyi,
bagus. Nanti mau nyanyi di arisan ibu-ibu di Brastagi.?"
" Kecilkalilah aku kau anggap, kelasku bukan ditingkat arisan, ibu-
ibu lagi."jawabku sambil ketawa.

" Sombong sekali, baru dipuji langsung mangkak," ujarnya sambil
mencubit lenganku.
" Ok...aku mau, tetapi Susan siap menananggung resikonya.!"
" Resiko apa..?"
" Jangan salahkan aku kalau diantara ibu-ibu ada yang jatuh hati,
karena suaraku. Susan siap.?"

" Halahh...bisa aja abang. Nggak, aku nggak cemburu." jawabnya.
" Aku nggak yakin. Bicara sebentar dengan Nani kau merengut, Ira
mencium pipiku kamu cemburu."

" Aku nggak lagi...terserah abang mau apa, yang penting aku sudah
utarakan isi hatiku. Abang mau main dengan perempuan manapun itu
urusanmu."
" Lho, kok jadi serius.?"
" Abang sendiri yang mangkak/ge-er." balasnya sambil menciumi pipiku
seakan tak mau dilepas. (Bersambung)

Los Angeles, September 17, 2008

Tan Zung

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar