Dosenku Pacarku (39)


Angel


Mau dengar lagunya, klik disini

Spend all your time waiting/for that second chance/for a break that
would make it okay/there's always one reason
to feel not good enough/and it's hard at the end of the day/I need
some distraction/oh beautiful release
memory seeps from my veins/let me be empty/and weightless and
maybe/I'll find some peace tonight

in the arms of an angel/fly away from here/from this dark cold hotel
room/and the endlessness that you fear
you are pulled from the wreckage/of your silent reverie/you're in the
arms of the angel/may you find some comfort there

so tired of the straight line/and everywhere you turn/there's
vultures and thieves at your back
and the storm keeps on twisting/you keep on building the lie/that you
make up for all that you lack
it don't make no difference/escaping one last time/it's easier to
believe in this sweet madness oh
this glorious sadness that brings me to my knees

in the arms of an angel/fly away from here/from this dark cold hotel
room/and the endlessness that you fear/you are pulled from the
wreckage/of your silent reverie/you're in the arms of the angel/may
you find some comfort there/you're in the arms of the angel/may you
find some comfort here

================ 38 ==========
" Nggak lama kemudian ibu menjemputku, tetapi malam itu aku tak bisa
tidur. Aku sakit hati."
" Mestinya dia minta baik-baik !" ucapku iseng.
Lagi-lagi Susan menampar wajahku sambil membalikkan tubuhnya, masih
dipangkuanku. Susan mogok lagi.( Bersambung)
============================
" Jadi hanya karena mau dicium, kamu jadi trauma dan tak mau berteman
dengan pria manapun sejak es-em-a hingga perguruan tinggi. Malang
sekali nasibmu.Kamu lewatkan masa-masa indah yang tak akan pernah kau
ulang lagi. Ah..aku pikir Susan pasti ada kelainan." ucapku.



" Zung...kamu mau dengar atau mau mengguruiku,?" tanyanya.
"Mau, cuma hatiku nggak enak...aku benci kali sama dia itu, kalau aku
ada saat itu, aku hajar habis dia, anak kurang ajar itu. Kecil-
kecil,mau minta ciuman, masa kau dianggap murahan."

Susan tertawa mendengar ocehanku, "bang..mau aku teruskan nggak ?"
" Iya , teruskanlah, palak kali aku sama pria itu." ocehku lagi.

" Sejak saat itulah bang, aku tak mau bertemaan dengan pria manapun
hingga aku tammat dari perguruan tinggi."
" Jadi bagaimana Susan menikah dengan suamimu.?"

Susan menghela nafas, sepertinya melepaskan kepenatan jiwa yang
sangaat berat, aku bujuk dia dengan lembut, aku berbisik
ketelinganya, " Susan, teruskan aku masih mau mendengar ceritamu,
ayolah...., atau aku buatkan dulu teh hangat untukmu.?"

Sebelum aku bangkit, Susan mendekapku, nafasnya sengal," bang aku mau
tidur, aku capek." ujarnya.
"Susan , aku juga lelah, tetapi aku telah siapkan waktuku hanya untuk
mendengar kisahmu, bukankah Susan mengatakan akan mengungkapkan
sebagai ungkapan cintamu yang tulus padaku,? Susan
ayo...teruskanlah...!"

Zung, ayahku sangat berambisi agar aku menjadi perempuan terpandang
ditengah keluarga besar ayahku. Setelah aku diwisuda sarjana, ayah
memberangkatkanku ke California melanjutkan studi lanjutan. Ayah pada
saat itu berkeja di perkebunan menjabat salah seorang direktur.

Tahun kedua, ketika aku di California ayahku mengalami kecelakaan
pulang dari Jakarta. Tidak biasanya ayah pergi atau pulang dari
Jakarta mengenderai mobil. Tapi naas bagi ayah, ditengah perjalanan
sopir ayah mengantuk, mengakibatkan mobil ayah jatuh kejurang. Hampir
kami tidak mengenal wajah ayah setelah berhasil diangkat dari jurang
kedalam puluhan meter.." tuturnya.

Susan diam sejenak, butiran bening keluar dari kelopak matanya.Aku
biarkan dia dalam isakannya. " Susan berapa bersaudara," tanyaku
lembut sambil mengusap airmatanya.

" Nggak punya bang, aku putri tunggal," jawabnya, nafasnya masih
sesak sembari melanjutkan kisahnya.

Sebenarnya aku nggak mau lagi melanjutkan sekolahku setelah ayah
meninggal. Ibu nggak setuju keputusanku, aku harus menyelesaikan
sekolahku, bahkan ibu mau menjual rumah peninggalan ayah untuk biaya
sekolah ku di California.

Dua minggu kemudian aku berangkat ke California.Semua biaya
perkuliahanku lancar, juga biaya kehidupan sehar-hari bercukupan. Aku
tidak tahu berapa nilai rumah yang terjual, mungkin ayah masih
mempunyai tabungan, pikirku. Tapi Ibu tak pernah memberitahu, setiap
aku menanyakannya. Selama di California, aku berusaha agar secepat
mungkin es-dua-ku selesai.

Aku ingin segera pulang, kasihan dengan ibu yang ditinggal sendirian.
Meski aku dihimpit rasa rindu kepada ibu dan kesedihan atas kepergian
ayah yang begitu cepat, aku berusaha tegar menjalani hidup. Usahaku
tak sia-sia, aku berhasil menyelesaikan es-dua-ku tepat pada
waktunya.

Sebelum wisuda aku kaget ketika menjemput ibu di airport. Ibu datang
bersama om Hendra ( nama disamarkan). Ibu tidak pernah memberitahukan
kalau dia datang bersama Hendra, teman sekantor dengan ayah masa
hidupnya.

Sebelum aku menanyakan kepada ibu, kenapa om Hendra ikut bersamanya,
Hendra lebih dulu menjelaskan "kebetulan aku tugas ke Arizona, ibu
mengajaku sama. Sebenarnya, dinasku baru minggu depan," terang
Hendra. Aku merasa lega, meski pikiranku sedikit curiga. ( Bersambung)

Los Angeles, September 23, 2008

Tan Zung

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar