Dosenku Pacarku (33)


"If Tomorrow Never Comes"

Mau dengar lagunya klik disini

Sometimes late at night /I lie awake and watch her sleeping /She''s lost in peaceful dreams /So I turn out the lights and lay there in the dark

And the thought crosses my mind /If I never wake up in the
morning /Would she ever doubt the way I feel /About her in my heart

Chorus:
If tomorrow never comes /Will she know how much I loved her /Did I
try in every way to show her every day /That she''s my only one /And
if my time on earth were through

And she must face the world without me /Is the love I gave her in the
past /Gonna be enough to last /If tomorrow never comes

''Cause I''ve lost loved ones in my life /Who never knew how much I
loved them /Now I live with the regret /That my true feelings for
them never were revealed

So I made a promise to myself /To say each day how much she means to
me /And avoid that circumstance /Where there''s no second chance to
tell her how I feel

back to Chorus:
So tell that someone that you love /Just what you''re thinking of /If
tomorrow never comes

================ 32 ============
Aku nggak lagi...terserah abang mau kemana, yang penting aku sudah
utarakan isi hatiku. Abang mau main dengan perempuan manapun itu
urusanmu."
" Lho, kok jadi serius.?"
" Abang sendiri yang mangkak/ge-er." (Bersambung)
==========================
Kali pertama aku jadi"sopir" ibu dosen ke kampus. Sebelum tiba di
kampus, aku menghentikan mobil dihalte dekat persimpangan kampus.
Susan awalnya keberatan ketika aku turun sebelum kampus. Tetapi
akhirnya setuju setelah kujelaskan alasannya: " gossip pasti
bertebaran kemana-mana kalau ada melihat aku dan Susan satu mobil."

Setelah mobil Susan menjauh, aku segera balik arah, pulang kerumah,
bolos. Aku tidak ke kampus, kepala pusing karena kurang tidur. Tante
menyambutku dengan senyuman.

" Bagaimana bapa, sudah aman dengan ibu dosen itu. Bapa menginap
dirumahnya ?"tanyanya
" Iya nggaklah, aku tidur dirumah teman." jawabku

" Kurasapun, nggak baiklah tidur dirumah ibu itu. Apa kata orang.?"
Sebelum tante melanjutkan ocehannya aku masuk kekamar, tidur.

Selang beberapa jam, tante membangunkan, " bapa,..bapa... dua
perempuan kemarin dulu datang lagi."

Mawar dan Magdalena menyapaku dengan ramah....sepertinya kami tidak
ketemu tahunan. Magdalena tidak menolak ketika aku mencium pipinya
setelah dia menyalamku, aku benar-benar rindu, juga dengan Mawar.

" Kenapa nggak masuk tadi,?" tanya Mawar
" Aku kurang sehat, kepala pusing." jawabku.
" Abang kami tunggui kemarin, kok nggak datang ?

Kali ini terpaksa aku berbohong, kalau nggak mau dikucilkan
selamanya. Soalnya aku kelupaan karena "mengawal" Ira pulang dari
discotik, "kemarin aku kurang enak badan," jawabku

"Sabtu besok abang ada waktu.?"
" Ada acara apa ?" tanyaku.
" Nggak ada acara spesial, hanya ngumpul dengan teman-teman kita dulu
waktu belajar bersama." jawab Mawar.

****
Aku benar-benar kangen dengan kedua sahabat lamaku ini. Sebenarnya
aku ingin hadir acara itu, tetapi aku sudah janji menemani Susan
keluar kota. Seandainya, urusan perkuliahanku telah usai, aku bisa
batalkan ikut dengannya.

Kini aku masih "terpasung" dengan Susan. Aku merasakan kembali "muda"
setelah bertemu dengan Mawar dan Magdalena. Pada hal aku belum ada
seminggu berteman (dekat) dengan Susan yang berusia lima tahun
diatasku, bawaanku seperti amat dewasa.

Aku ingin melepas rasa kangen dengan kedua sahabatku. Aku ajak
mereka ke tempat kami(dahulu) rendezvous di Kp.Keling. Mawar setuju,
tetapi sepertinya Magdalena keberatan.

Dia tidak menolak langsung, juga tidak setuju. Sejak kedatangannya
kerumah, Magdalena hanya diam mendengar percakapanku dengan Mawar.
Aku bujuk kesediaannya, " Magda aku kangen, ikut iya, "bujuk ku.

Magda tidak menjawab. Tetapi aku masih ingat tanda-tanda perubahan
wajahnya ketika kami berhubungan selama lima tahun. Aku yakin dia
mau, meski tidak menjawab. Aku segera berkemas ganti pakaian. Sengaja
kupilih t-shirt hadiahnya ketika ulang tahunku.

" Magdalena pergi dengan Mawar atau dengan abang.?" tanyaku.
" Magdalena masih tidak mau bicara, dia putuskan berboncengan dengan
Mawar setelah menyerahkan kunci motornya padaku."

Aku bingung sikap Magdalena, pada hal beberapa waktu lalu dia " so
nice" ketika berjumpa denganku, sudah mau bercanda, bahkan
menantangku siapa diantara kami duluan menyelesaiakan skripsi.

Direstaurant, aku sengaja duduk dekatnya. Sungguh, aku sudah kangen
sekali duduk bersanding dengannya. Mawar tersenyum melihat tingkahku,
aku tak peduli. Aku memulai pembicaraan mengenai akhir perkuliahan
minggu depan, juga mengenai skripsi.

"Magda, waktu lalu kamu nantangin siapa duluan siap skripsi kita.
Skripsimu sudah selesai.?" tanyaku

Magda mulai semangat ketika bicara menyinggung skripsi, " belum bang,
kata pembimbingku minggu depan, "jawabnya, seraya menambahkan, abang
pasti sudah selesailah iya.!"
" Magda kok tahu.?"
" Iyalah.., habis abang sudah lengket dengan ibu itu.!"(Bersambung)

Los Angeles, September 17, 2008

Tan Zung

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar