Dosenku Pacarku (18)


Making Love Out Of Nothing At All - Air Supply
I know just how to whisper, and I know just how to cry;
I know just where to find the answers; and I know just how to lie.
I know just how to fake it, and I know just how to scheme;
I know just when to face the truth, and then I know just when to
dream.

And I know just where to touch you, and I know just what to prove;
I know when to pull you closer, and I know when to let you loose.

And I know the night is fading, and I know that time's gonna fly;
and I'm never gonna tell you everything I've got to tell you,
but I know I've got to give it a try.

And I know the roads to riches, and I know the ways to fame;
I know all the rules and then I know how to break `em
and I always know the name of the game.

But I don't know how to leave you, and I'll never let you fall;
and I don't know how you do it, making love out of nothing at all
(Making love) out of nothing at all, ( 8X)
..................
================ 17 =========
Tapi akhirnya, ayahku mengerti, bahkan dia terharu ketika kujelaskan,
seperti baru kujelaskan pada mu. Susan, biarkanlah hidup ini mengalir
sebagaimana ada. Aku tahu ukuran baju yang akan aku pakai."
"Bang, sudah...aku mengerti keputusan mu.!" ujarnya sambil menyeka
air matanya.( Bersambung)
=============================
" Susan, tak ada yang perlu ditangisi. Aku juga mengerti maksud
kebaikan hatimu; Ingin mengangkat "harga" diriku dari "kemelaratan"
ini, bukan?"



Susan mendekatkan wajahnya ke wajahku berucap pelan, berdesah. "
Tidak, aku tak pernah berpikir abang melarat, nggak bang. Abang salah
mengerti. Aku ingin agar abang lebih tenang belajar, mempersiapkan
meja hijau mu. Aku sendiri pasti membantumu.!"

" Itu sudah lebih dari cukup.!"
Wajah Susan ditempelkan dipipiku, masih berkata renyah:" tetapi nanti
yang menguji bukan hanya aku, masih ada dosen lainnya. Abang butuh
konsentrasi, jangan terlalu membebani pikiran mu, paling tidak
sementara ini.

Kalau abang tidak keberatan aku dahului dulu biaya kostmu selama tiga
bulan ini. Yang penting abang dapat belajar dengan fasilitas yang
cukup."

" Terimakasih atas perhatian mu. Susan aku tinggal dirumah tante,
juga ingin membantu keluarga itu, meski tidak banyak. Ibu itu
ditinggal mati suami, mempunyai dua anak yang masih kecil. Sisa uang
kost ku dapat sedikit membantu mereka. Kebetulan pula dia namboru
jauh/tante"

Segera dia mengangkat wajahnya, menatapku dengan padangan
heran; "Membantu...? Ok...aku setuju jalan pikiran mu, ingin mebantu
orang lain, itu baik, sangat baik.! Tapi bantu dulu dirimu sendiri,
ujian sudah dekat bang, jangan buang kesempatan.

Tahu resikonya bila gagal? Abang harus menunggu tahun depan. Selain
buang-buang waktu, juga buang uang. Katanya mau bantu orangtua, kok
abang malah jalan pikirannya mutar-mutar.?"

"Susan, berikanlah aku kesempatan berpikir, malam ini. Lagi, aku
belum kenal mereka bekas tempat kost mu, aku butuh waktu menyesuaikan
diri lagi, kapan aku bisa konsentrasi belajar.?"

" Aku mengenal keluarga ini, sangat baik, tidak banyak maunya. Aku
juga berani tawarin sama abang, karena aku merasa dekat abang."
" Dekat atau jatuh cinta?. Susan mengenalku dari sisi luarnya saja,
kita baru ketemu dua hari ini kok.!"

" Abang salah lagi. Abang sudah berkali-kali datang kerumah membawa
skripsi mu. Aku juga tahu kalu abang sering curi pandang ketika aku
memeriksa skripsi mu. Bang, aku punya indera ke enam ." ujarnya
tertawa. Kebetulan abang dan Magda sekarang telah"cerai" abang
semakin "nekat".

"Susan, nggak salah? Indera ketujuh ku mengatakan, sejak awal
kedatangan ku, Susan sengaja memperlambat pemeriksaan skripsiku
bahkan menyuruh ganti bab terakhir. Padahal, sebelumnya Susan sudah
mengatakan, ok, tinggal menggandakan.

Tetapi aku nggak mau protes, takut Susan marah dan menggantung meja
hijauku..Iya kan ?" Susan hanya tersenyum, hanya malu saja mengatakan
iya, sungguh dan benar....

" Kok kita jadi ngelantur...bagaimana setuju , abang pindah....?"
" Susan, besok aku pasti beri jawabannya. Tapi nggak apa-apa kalau
sekarang kita kesana, sambil lihat-lihat situasi rumah dan
lingkungannya."

" Halah..abang seperti gadis centil saja, pake lihat-lihat dulu.
Menjeng kalilah abang."

****
Usai makan, kami menuju tempat kostnya dahulu. Susan memperkenalkan
ku kepada nyonya rumah. Susan dan pemilik rumah meninggalkan ku
diruang tamu, "sebentar bang, kami kebelakang " ujarnya. Aku tak tahu
apa yang mereka bicarakan.

Sementara aku menunggu Susan, seorang putri berparas elok,
menghantarkan minuman. Rambutnya terurai hingga ke
pinggang....hah..mengingatkan rambut mantan pacarku. Hidungnya
kembaran dengan Magdalena, bercelana pendek pula.

" Silahkan minum bang." ujarnya dengan sesungging senyuman.
Sebelum dia meninggalkan ku, aku sapa dia; " terimakasih, namanya
siapa dik?"
" Nani..bang.." jawabnya.

Sengaja ku ajak bicara terus, supaya dia tetap bersama ku, sekaligus
ingin mengundang rasa cemburunya Susan.Nani pun tak sadar"jeratan"ku.
Dia malah duduk didekatku.

"Sudah punya pacar belum.?"
" Belum, ada teman abang ?
" Bagaimana kalau dengan abang sendiri?"
"Nanti, tante Susan marah...?"
" Lha...dia kan dosen aku.?"

" Nani sekolah dimana, kelas berapa?"
" Di es-em-a Methodis. Nani kelas tiga, jurusan ipa."
Aku sengaja pancing mengobrol tentang dunia remaja, agar Nani betah
bicara dengan aku.

" Nani, abang serius nih. Abang baru putus dengan pacar ku, mau nggak
kita pacaran. ?"
Nani serius pula nanggapinnya. " Apa nanti nggak ada cewek lain yang
marah bang...?"
" Tidak ada, serius. Aku baru putus dengan pacarku."
" Kenapa putus bang?"

Ah....ini anak bau kencur mulai selidik. Aku alihkan pembicaraan, "
sudah pernah pacaran belum.?
" Sudah tapi nggak lama, cuma sebentar. Aku nggak suka, anaknya
perokok dan mabuk-mabukan."
" Kebetulan abang paling tidak suka merokok, suka minum, tapi air
putih...!" Nani tertawa cekikian. Hanya sebentar telah terjalin
percakapan akrab, hmmm...kok aku jadi kepicut... (Bersambung)

Los Angeles, September 04, 2008

Tan Zung

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar