Dosenku Pacarku (19)


"Bleeding Love"
Closed off from love /I didn't need the pain /Once or twice was
enough /And it was all in vain /Time starts to pass /Before you know
it you're frozen
Ooooh...
But something happened /For the very first time with you /My heart
melted into the ground /Found something true /And everyone's
looking `round /Thinking I'm going crazy
Chorus:
But I don't care what they say /I'm in love with you / They try to
pull me away /But they don't know the truth /My heart's crippled by
the vein /That I keep on closing /You cut me open and I

Keep bleeding /Keep, keep bleeding love /I keep bleeding /I keep,
keep bleeding love /Keep bleeding /Keep, keep bleeding love /You cut
me open
Oooh, oooh...
Trying hard not to hear /But they talk so loud /Their piercing sounds
fill my ears /Try to fill me with doubt /Yet I know that their
goal /Is to keep me from falling
Hey, yeah!
................
================== 18 ===========
"Aku nggak suka, anaknya perokok dan mabuk-mabukan."
" Kebetulan abang paling tidak suka merokok, suka minum, tapi air
putih...!"
Nani tertawa cekikian. Hanya sebentar telah terjalin percakapan
akrab,hmmm...kok aku jadi kepicut... (Bersambung)
================================
Memang, setelah pisah dengan mantan pacarku, mataku
selalu "mengembara" melihat perempuan, apalagi berparas elok seperti
Nani dan Ira pramuria discotik itu, bahkan sama ibu dosenku pun aku
hanyut.



Pokonya asal bersisik, ikanlah itu. Syukur aku belum pernah ketemu
jenis yang bersisik lainnya, ular.

Padahal, ketika aku pacaran -selama lima tahun-tidak sekalipun mata
apalagi hati terpaut dengan perempuan secantik apapun. Mawar..? masih
belum jelas.

Percakapan ku dengan Nani mulai melebar kearah lebih "serius" tentang
pacaran. Nani, mulai memberi hati pula. Dia mengajak ku ke pesta
ulang tahun temannya. Nah...lho, mentok dengan "schedul" ibu dosen ke
Brastagi ikut arisan ibu-ibu.

Nani mulai menunjukkan ketertarikannya kepada, tampak dari gaya
bicara dan sikapnya. Padahal durasi percakapan kami, baru sekitar
kurang lebih duapuluh menit.

Aneh, dengan Susan baru beberapa jam langsung "jungkir balik". Dengan
Magdalena baru dapat kesentuh setelah tahun ketiga. Dengan Mawar,
nul.

Sementara pembicaraan kami semakin asyik, Susan muncul dengan ibunya
Nani. Wajah Susan sedikit berubah melihat keakraban aku dengan Nani
yang baru saja hatinya aku buat berbunga-bunga.

Sebelum aku dan Susan meninggalkan rumah, Nani mendekatiku, " bang ,
malam minggu nanti datang iya ? Temani Nani, aku tunggu." pintanya
manja. Ibu Nani senyam senyum saja mendengar rayuaan putrinya.

Sebelum aku jawab, Susan mendahuluinya, " Malam minggu nanti, aku
pinjam dulu abangnya iya. Tante mau ke Brastagi dengan abang Tan
Zung. Lain kali saja iya Ni..."

Wajah Nani tampak murung, " hanya malam minggu ini saja..tan,
temanku ulang tahun, aku nggak punya teman kesana."
" Terserah bang Tan Zung." jawab Susan sambil menatapku.
" Iya bang, temanin aku malam minggu, sekaliiii...saja."
" Nanti, abang telephon Nani. Nomor berapa telephon mu.?"

" Aku punya." ujar Susan ketus sambil dia bergerak menuju mobil.
" Betul iya bang, aku tunggu telephonnya...dadadag..abang...dadaaag
tante..."

Susan masuk ke mobil tanpa menoleh kearahku, wajahnya sedikit
merengut. Didalam mobil, aku awali pembicaran sambil menatap
wajahnya. Susan diam, ketika kutanyakan hasil pembicaraannya dengan
tuan rumah.

Aku tahu dia cemburu, sangat cemburu. Sesekali tangannya ditopangkan
ke sisi pintu mobil diiringi suara berdesah sambil menyetir mobil.
Aku ikut i "ritme' hatinya. Aku diam. Sepanjang perjalanan kami tidak
bicara, diam membisu.

Tiba di rumah kostku, aku ucapkan terimaksih sebelum aku turun. Susan
masih diam. Aku urungkan turun dari mobil, bertahan duduk dalam
mobil. Kucoba lagi berbicara, Susan masih ngambek, dia menyandarkan
kepalanya diatas sandaran jok mobil.

" Bagaimana kepastian hari Sabtu, jadi kita pergi ? Kalau nggak biar
aku pergi dengan Nani.!" Sekalianlah biar terbakar, pikirku.
" Susan.....! Aku jadi ikut nggak ? Lho, marah benaran? Kok sama
anak bau kencur kamu cemburuan?

Bagaimana bu, beri aku kepastian. Kebetulan aku ada dua janji nih
sama Nani menghadiri ulang tahun temannya, dan Ira ke discotik.!"
Susan tetap membisu. Perlahan di gerakkan mobilnya ke bahu jalan, dia
matikan mesinnya.

Aku tanyakan nomor telephon Nani. Aku yakin, Susan tidak akan mau
memberikannya, aku sengaja membakar hatinya. Susan masih diam. Aku
turun dari mobil, meninggalkan dia sendirian. Aku terus melangkah
kerumah.

Hatiku gusar, aku kembali ke mobil setelah beberapa saat dirumah.
Susan masih tetap parkir di bahu jalan. Dari kaca jendela mobil, ku
lihat wajahnya masih murung, tangan kanannya menempel dikeningnya.
Aku kembali masuk ke mobil.

" Susan, mau mampir kegubuk ku ? Ibu kost ingin berkenalan dengan
ibu dosen, iya pacarku.!" Susan bergeming, dia tetap diam, nafasnya
masih tersengal.

" Ayo ngomong, nanti hansip datang lho, dikirain kita ngapa-nagapain
disini. Susan, nyalakan mobilnya. Apa nggak malu kalau kita
digelandang kepos hansip, kemudian dinikahkan. Besoknya kita masuk
koran lagi dengan berita," Seorang dosen tetangkap basah berduaan
dengan mahasiswanya dipinggir jalan."!

Susan hanya menatap ku, wajahnya tampak kuyu. Susan, kita tidur di
mobil atau di kamar ku? Susan tetap diam membisu, matanya terus
menatap kedepan.

" Susan, aku harus bagaimana ? Aku bicara, kamu diam. Katakan,
maunya apa? Kok...kita ribut melulu. Talak tiga..? nikah saja belum."
mulut ku terus ngoceh. ( Bersambung)

Los Angeles, September 04, 2008

Tan Zung

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar