Dosenku Pacarku (21)


Tragedy
Time after time/You turn on what I thought was good
And leave me behind/You should have loved me like you know that you
could
But oh- no this won't be no hard goodbye/Oh- no you can't hurt me
this time
*) She doesn't love- On my lord/It doesn't mean it's a tragedy,
tragedy
She doesn't mean it - say that she don't /This dosen't have to be a
tragedy, tragedy

All of my life/I was searching for the love that we had
Without knowing why/You turned around and treat me so bad
But oh- no I'll just hold my tears inside/ oh - no maybe you'll find
another lover who will cry
Back to *)
On the phone for hours/But we had very little conversation
We spoke of words with no meaning/We spoke of love with no end/I'll
tell myself agian
Back to *)
============= 20 ==============
Tidak Susan , aku pun tak layak pergi ke istanamu bersama keangkuhan
mu. Selamat malam tuan putri.!" ujar ku sambil melepaskan kedua
tangannya .( Bersambung)
===============================
Susan segera menghadangku, melingkarkan tangannya diatas leherku. "
Iya ....iya bang, aku mau. Aku mau mampir kerumah mu." ujarnya
sambil membujukku masuk ke dalam mobil.



" Zung kita ke mobil dulu...ayo temanin aku ke mobil, jalannya gelap
bang...ayo bang." bujuknya, dia memaksa ku ikut ke mobil. Bujukannya
meruntuhkan amarahku. Aku tuntun dia ke mobil.

" Zung maafkan aku. Aku terlalu sayang pada mu. Tidak tahu kenapa,
aku sangat cemburu kalau abang melihat atau bicara dengan perempuan
lain. Iya...abang benar...cemburuku berlebihan, mohon abang memahami
perasaanku..iya bang.!"

Susan menyeka air mata ,"menata" wajahnya serta rambut yang sedikit
aut-autan. Aku bantu membersihkan noda hitam diujung kelopak matanya.
Susan mencari kaca mata dalam laci mobilnya, ingin menutupi mata yang
masih sembab hasil"karya" ku.

" Susan, tidak usah khawatir dengan mata sembab, tak bakal kelihatan,
rumah hanya diterangi lampu teplok."
" Iya bang..!" jawabnya sambil turun dari mobil.
Aku tuntun dia melangkah ditemaran rembulan malam menuju rumahku.

Susan menyapa ramah namboru/tante. " Selamat malam bu. Maaf , aku
mengantar Tan Zung agak malam."
" Susan, ibu dosen dan pembimbing skripsi ku." ujarku memperkenalkan
kepada tante.

Aku meninggalkan Susan dan tante bercakap-cakap ringan, sementara aku
bergegas kebelakang menyiapkan air minum.

"Zung...tidak usah repot, duduk saja disini. " ujarnya sambil
mengembangkan senyumnya. Susan benar-benar telah menguasai dirinya.

Hebat, dia menujukkan wibawanya sebagai seorang guru alias dosen
dalam sikapnya berbicara dan merespons setiap pembicaraan ku dan
tante. Bahkan Susan tidak mau melayani guyonan ku didepan tante.
Memperhatikan sikap Susan, aku sadar, didepan orang lain aku harus
menghormatinya sebagai seorang dosen.

Ibu kost --tante-- beranjak dari duduknya setelah kami bercakap-cakap
selama belasan menit. Tante menyuguhkan dua gelas air hangat, "
silahkan minum bu, maaf, hanya air putih."

" Bapa sudah makan..aku tadi bikin pecal dan goreng ikan asin ?"
tanya tante sambil meninggalkan aku dan Susan.
" Iya , sudah tadi sore. Aku makan dulu dirumah ibu Susan sebelum
berangkat."

Ditengah cahaya lampu teplok, aku melihat perubahan wajah Susan,
setelah mendengar tante memanggilku "bapa". Aku mulai gelisah,
khawatir Susan memaknai lain, panggilan"bapak" terhadap ku, kebetulan
tante sudah janda.

Aku takut Susan bereaksi mendadak seperti sikapnya ketika melihatku
berbicara akrab dengan Nani. Kembali tante memanggilku bapa, ketika
memberitahu lampu petromaknya kehabisan minyak.

Susan menatapku tajam. Jantungku berdegup keras, aku takut Susan
mengulah. Betapa capeknya lagi aku harus membujuk, sementara akupun
sudah tak punya perbendaharaan kata bujuk rayu.

" Bu, minum airnya, mungkin ibu mau pulang sebelum larut malam,"
ucapku setengah mengusir, capek otakku sudah.
Tante menimpali," bu, silahkan diminum airnya, hangat kok."
" Iya bu.." ujarnya sambil mengangkat gelas minumannya.jawab Susan
ramah.

Kembali tante bergabung dengan kami. Susan masih mau nimbrung setiap
pembicaraan aku dan tante dengan wajah "ramah". Susan tak mau lagi
menoleh aku meski dia masih mau menimpali pembicaraan ku.

" Tadi pagi, ada perempuan mencari bapa, dia menunggu agak lama. Aku
pikir bapa pulang setelah kuliah."

Oalahh..tante menambah persoalan lagi, bicara perempuan lain didepan
Susan. Aku tak merespon ucapan tante. Aku yakin, hati Susan terbakar,
marah. Aku mencoba mengalihkan pembicaraan, tetap saja tante balik
ke perempuan yang mencariku pagi hari.

" Kalau nggak salah namanya Ira. Katanya, bapa ada janji dengan dia
besok malam di..di mana iya... aku lupa, tapi katanya dekat kantor
pos besar, lapangan Merdeka. Pesannya, besok siang, bapa mampir
kerumahnnya temani dia ke kampus, setelah itu baru ketempat kerjanya.
Oh...iya dia meninggalkan surat untuk bapa, sebentar aku ambil dulu."

Susan berusaha bersikap tenang, tetapi rona wajah tak dapat menutupi
kedongkolan hatinya. Dia menggoyangkan ujung kakinya "over
konpensasi" kegalauannya.

Tante menyerahkan envelopenya, pakai lem pula. Susan semakin galau,
aku tahu dari kakinya, goyangannya semakin cepat.

Aku membuka envelope sementara mataku melirik Susan, wajahnya tegang.
Dia mengalihkan rasa gelisah dengan membuka tas tangannya, seakan
mencari sesuatu. ( Bersambung)

Los Angeles, September 09, 2008

Tan Zung

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar