Dosenku Pacarku (88) - Tamat


My Love, Goodbye

Mau dengar lagunya, klik disini...
Hear the wind sings a sad old song/it knows I'm leaving you today
please don't cry oh my/heart will break/when I'll go on my way

*)
goodbye my love goodbye/goodbye and au revoir
as long as you remember me/ I'll never be too far

goodbye my love goodbye/I always will be true
so hold me in your dreams til I/come back to you

see the stars in the skies above/they'll shine wherever I may roam
I will pray every lonely night/that soon they'll guide me home
goodbye

======================" 87 ============
" Sudah puas rindu mu amang sama bapauda.?" tanyanya.
Aku mengangguk, " Iya inang uda, rindu ku telah puas. Aku kini merasa
lega berangkat ke Jakarta." jawab ku tersendat.
Jonathan memelukku erat sekali," Bang kemana saja? Selamat bang, maaf
aku nggak bisa hadir pada acara wisuda lalu,"ujarnya sambil menyalam
ku. (Bersambung)
===========================

Magda mengantarkan ku ke airport tanpa kehadiran Mawar. Berapa saat
aku dan Magda duduk diruang tunggu. Sengaja kami berangkat lebih awal
agar lebih lama mengobrol sebelum berpisah. Aku dan Magda berbicara
penuh rasa persahabatan dan kekeluargaan.


Suasana berubah ketika Maya dan kakaknya Lisa datang menemuiku,kecut.
Magda menyongsong mereka ke luar ruang tunggu. Aku bergabung dengan
mereka. Maya menarik tangan ku memisahkan diri dari kakaknya dan
Magda.

Maya bersedih melepaskan ku, dan minta maaf karena tidak pernah
menemuiku. " Aku kemarin datang kerumah abang, tetapi kata ibu kost
abang jarang di rumah." ujarnya.

Aku tidak menanggapi ucapannya. "Sampaikan salam ku kepada om mu
itu." ujarku sambil menarik tangannya bergabung kembali dengan
Magda dan kakaknya. Maya dan Lisa meninggalkan aku setelah mereka
menyalami ku. Aku dan Magda masuk keruang tunggu melanjutkan obrolan
yang terputus.

Kali ini, Magda tak dapat menahan rasa sedihnya. "Bang, jangan lupa
telephon Magda kalau sudah tiba di Jakarta. Hati-hati jangan lagi kau
sakiti hati perempuan. Cukuplah aku bang." ucapnya.

"Magda, kenapa lagi kau mengingatkan masa lalu kita.?"
" Aku sudah berusaha bang, tetapi kadang kala kenangan itu datang
sendiri. Sukar sekali melupakannya. Lima tahun waktu yang cukup lama
kita saling mencinta.

Kemudian abang datang lagi, meski ruang hatiku telah tertutup kepada
siapapun. Aku akui, kadangkala aku sukar membedakan antara saudara
dan asmara; Abang telah memberikan keduanya.

Namun kali kedua, waktu jua yang memisahkan kita. Zung, aku ingin
mencium mu untuk yang terakhir sebagai orang yang pernah kau kasihi
dan juga sebagai saudara," ucapnya.

Magda menyandarkan wajahnya diatas dadaku usai mencium ku, sambil
menyeka air mata dengan saputangannya.
" Magda, waktu jua yang akan memisahkan kita. Ternyata pemilik waktu
itu tidak merestui kita. Magda telah tulus melepaskan ku? Jawablah
aku Magda. Dalam beberapa menit lagi kita sudah akan berpisah." desak
ku.

Magda diam, membisu. Akhirnya dia perlahan menggelengkan kepalanya,
kembali dia membenamkan wajahnya dalam pelukan ku. " Aku nggak tahu
bang, apakah aku tulus atau tidak. Seperti aku tadi katakan, aku
sukar membedakan antara saudara dan asmara.

Abang telah memberikan keduanya. Tetapi percayalah, aku tidak
memendam meski itu sangat menyakitkan. Aku berdoa tulus kepada mu,
semoga abang mendapatkan perempuan yang lebih dari ku," ucapnya.

" Kaulah yang terbaik bagi ku, tetapi sang pemilik waktu itu tidak
mengijinkan kita duduk bersanding dalam pelaminan," balasku seraya
menghapus airmatanya.

Tak lama berselang setelah aku dan Magda melepaskan cetusan hati yang
terakhir, aku melihat Susan datang tergopoh-gopoh menuju keruang
tunggu.

Aku tidak menyangka kalau Susan akan datang ke airport, karena
sebelumnya Susan menyatakan dalam suratnya tidak akan ikut
menghantarkan ku. Magda pergi berpura-pura membeli susuatu ke sebuah
kios kecil di airport itu, membiarkan ku bicara berduaan dengan
Susan.

" Zung, aku mencoba melupakan mu dalam beberapa hari ini, ternyata
tak semudah itu. Aku juga tak dapat membohongi diri ku. Aku ingin
menghantarkan mu, barang kali ini adalah pertemuan kita yang
terakhir, walupun aku mengharap tidak. Zung, jangan lupa telephon aku
kalau sudah tiba di Jakarta." Aku menggangguk, "Iya aku janji akan
menelephon mu, " jawab ku.

http://www.youtube.com/watch?v=V9N5qhBE_oU

Magda kembali bergabung denganku dan Susan. Tak ada perasaan canggung
diantara kami bertiga. Pembicaraan kami mengalir bagaikan air sungai
bening dimana aku, Magda dan Susan berenang bersama beberapa hari
sebelumnya.

Pengumuman dari maskapai penerbang mengakhiri pertemuan ku dengan
Magda dan Susan. Susan mengecup pipiku lembut, dia dapat menguasai
emosinya meski matanya memerah, " Zung, selamat jalan sayang,"
bisiknya di telingaku sambil melepaskan pelukannya.

Magda....? Akh sama "galak"nya terhadap ku akhir-akhir ini, demikian
juga "galak"nya ketika akan berpisah. Magda tak dapat menguasai
dirinya. Dia memeluk ku sangat erat dan menciumi pipiku kiri kanan.
Magda menangis sesunggukan.

" Zung segera pulang. Aku nggak ada teman bang, " ujarnya sambil
membaringkan wajahnya diatas bahu ku. Susan juga ikut terharu melihat
tangisan dan ucapan lirih Magda di atas bahu ku.

Aku berusaha menahan pahitnya perpisahan ini, tetapi kedua kelopak
mata ku tak kuasa membendung cairan bening berderai membasahi wajah
ku. Aku meraih tangan kedua mantan kekasih ku. Magda dan Susan
membiarkan aku mencium tangan mereka bergantian.

Magdalena menyeka air mata ku hingga suara lirih kudengar, " Zung,
selamat jalan. Bang pergilah..pramugari telah menunggu mu di tangga
pesawat, "ujar Magda seraya menyeka air mataku lagi dengan
saputangannya.

" Bawalah ini bang," ucapnya sambil menyerahkan ketangan ku
saputangan yang basah oleh airmata kedua insan yang pernah saling
mengasihi. Wajah Susan tampak terharu memperhatikan "adegan" ku dan
Magda.

Dari ujung tangga pesawat, aku menoleh kepada mereka. Aku melihat
Susan meletakkan tangan kanannya diatas bahu Magda.

Tangan kedua mantan kekasih ku itu melambai menghantarkan ku
mengarungi perjuangan serta kehidupan baru.

Vaya Con Dios my darling.... Vaya Con Dios my love... Goodbye, my
hopeless dream ( S e l e s a i)

Los Angeles. November 13, 2008

Tan Zung

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar