Dosenku Pacarku (79)


"Sihol na dirohangki"

Mau dengar lagunya, klik disini...
Sihol na dirohangki holan tu ho jala sasada ho/rinduku hanya pada mu,
hanya untuk mu seorang
holong na dirohangki holan tu ho ito pargaulan/kasih ku hanya hanya
pada mu baby
lungun ku ito lungunhu doi sa panghilalaan/rindu mu juga rindu
ku ,love each others

janji na tabahen asa tongtong taringot hasian/ agar janji yang kita
padu senantiasa dalam ingatan
padan na pudun i sotung adong be namangose i/ sumpah yang kita rajut
jangan ada yang ingkar
anggiat lam saut sangkap ta ito na di rohangki/ kiranya niat hati
kita terujut sebagaimana dalam benak ku

*)
sapala na marjanji uang be sirang/ kalau sudah berjanji jangan lagi
berpisah
molo naung marpadan unang be mose/ kalau sudah bersumpah jangan lagi
diingkari
ingkon sisada roha hita nadua au dohot ho/kita harus sehati, aku dan
diri mu
ho dohot ahu na ingkon saut/ engkau dan aku harus berpadu kasih
==================== 78 ============
" Hati-hati di jalan bang.!" ucap Susan
Satu beban berat terlalui tanpa harus menyakiti. Karena demikan
senangnya, aku tidak langsung pulang kerumah. Aku menuju kerumah
Magda memberi "laporan". ( Bersambung)
==================================

" Zung, ada apa? Kata mu mau pakai motor sampai besok. Kenapa sudah
kembali? Wajah abang cerah sekali.!?"
" Magda, motor mu "menyelamatkan" ku. Tadinya Susan mengajak ku
menginap, tetapi aku beri alasan motor harus ku kembalikan malam ini,
akhirnya Susan "menyerah". Aku selamat Magda, beban berat ku
berkurang."

" Abang bilang apa sama ibu itu?"
" Aku nggak bilang apa-apa. Kebetulan suaminya pulang minggu depan.
Aku selamat. Aku juga sudah beritahu kalau akan ke Jakarta. Untuk
yang terakhir kali, aku nanti menemaninya menjemput suaminya ke
bandara Polonia.

" Selamat bang ! sekarang tinggal masalah Maya. Oalah.. abang, tak
habis- habisnya masalah mu ," ucapnya sambil mengelus kepala ku.
"Zung kita ke dapur, bantuin aku masak. Bang, segeralah selesaikan
masalahmu dengan Maya, jangan biarkan berlarut-larut; nanti itu akan
menyiksa dirimu sendiri." ujar Magda.

" Aku nggak ada masalah dengan Maya.! Om John "sibagur tano " itu
yang punya masalah. Aku juga kasihan kepada Maya dikekang seperti
anak kecil. Sudah sesuci apa rupanya om John itu, ?" kata ku geram.
" Apa itu " sibagur tano" bang. Aku nggak pernah dengar, " tanya
Magda cekikian.

" Aku pun tak jelas. Itu jenis binatang purbakala dan hidupnya hanya
ada dekat comberan," jawab ku tertawa. " Siibagur tano sejenis kodok,
mukanya paling jelek diantara jenis kodok didunia ini." imbuhku.

" Kok tega benar mengolok-olok om itu, dosa lho bang," ingatnya.
" Ah....nggak apa-apa, dosaku juga paling sebesar kodok. Dosa om itu
lebih besar, sebesar gajah hamil ," ujarku, disambut tawa Magda.
Sementara aku dan Magda asyik ngobrol, mami menjumpai kami ke dapur
sedang memasak.

" Bah Magda ! kau biarkan ito mu motong sayur.? Keterlaluan kau
inang.!" hentak maminya.
Magda sewot, " mami jangan disini, kerjanya ngomel melulu. Memang
kenapa rupannya kalau si abang motong sayur? Nih..lagi bang, iris
kecil-kecil," perintahnya di depan mami, sambil menyerahkan bawang
merah.

Mami, pergi meningalkan kami sambil geleng-geleng kepala.
"Magda nggak boleh seperti itu kepada mami," ingat ku.
" Halah...abang sok nasihati. Cepatan bawang merahnya," ujarnya
diiringi senyum.

"Zung, aku sedih kalau abang jadi ke Jakarta. Nggak ada lagi teman ku
ribut. Nggak ada lagi bantuin aku motong cabe, sayur dan bawang,"
ujarnya bergurau. "

Sementara aku asyik motong bawang dia menggebrak meja dengan sendok
besar, " Bang! dengar nggak aku ngomong," suaranya menghentak
bergaya galak.
" Iya aku dengar, gara-gara kamu galak, tiada hari tanpa ribut. Maka
aku pergi jauh." balas ku, disambut gelak Magda.

Aku dan Magda seharian diliputi rasa ceria, iya sebagai mantan
kekasih, tetapi kini lebih kental sebagai" ito".
Masih didapur, Magda mengajukan rencana setelah wisuda pergi wisata
ke danau Toba satu malam.

" Kalau abang mau biar aku ajak Mawar. Nanti kita nginap di villa om
dokter."
Aku setuju usulannya. " Tetapi jangan langsung malam harinya, karena
orangtua ku datang menghadiri wisuda itu."
" Terserah kapan yang penting abang mau. Nggak apa-apa kalau Maya
ikut." ujarnya.

" Magda, jangan kau buat perkara baru lagi , " ujar ku.
" Iya nggak usah kalau abang nggak mau," balasnya sambil menuju ruang
depan untuk menghubungi Mawar.

Magda kembali kedapur, " Zung, kita jadi berangkat. Mawar senang,
pesannya hanya kita bertiga saja."
" Magda, beberapa hari nanti aku nggak bisa datang kesini, aku mu
pulang dulu. Orangtua ku pasti menunggu berita hasil sidang ku."

" Zung, jangan kelamaan disana, akhir bulaan ini abang mau berangkat
ke Jakarta. Jangan lupa tanyakan bapa tua kalau abang mau kerja di
Medan, aku dan mami bantuin abang." ( Bersambung)

Los Angeles. November 06, 2008

Tan Zung

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar