Dosenku Pacarku (73)


"Jangan Sampai Tiga Kali"

Mau dengar lagunya, klik disini...
Satu kali kau sakiti hati ini masih kumaaf kan
dua kali kau sakiti hati ini juga ku maafkan
tapi jangan kau coba tiga kali jangan oh jangan lah
cukuplah sudah cukuplah sudah jangan kau ulang lagi

*)
sedari dulu aku sudah aku katakan siapa diri ini
sedari dulu sudah aku katakan janganlah kau sesali
tapi kini kau selalu menyakiti ku mengapa oh mengapa
hati bertanya mungkin ada orang lain yang kau sayangi

kalau memang ada yang lain yang kau sayangi selain diriku
katakan sejujurnya jangan janganlah kau bersandiawara
aku tak mau aku tak mau kalaulah memang begini adanya
lebih baik berpisah dari pada nanti hati ini terluka
*)
================================
" Maaf aku terlalu merasa. Maya sakit apa? Ketika aku tinggalkan
malam itu, dia sehat, akupun tidak melihat ada gejala sakit. Kak,
katakan saja sesungguhnya apa yang terjadi dengan Maya." ( Bersambung)
===============72===============
" Ketika kamu pulang, tante ribut dengan om John. Tante nggak setuju
kalau om John mencampuri urusan ku dan Maya perihal berteman dengan
lelaki manapun, kecuali yang sudah bersuami. Om John ngotot, silahkan
Maya berteman dengan lelaki manapun asal bukan dengan Tan Zung."


" Apa dasar keberatan om John aku berteman dengan Maya ?" tanyaku.
" Aku juga nggak tahu pasti, tetapi kemungkinan, karena dia tahu kamu
berhubungan dengan Susan." jawab Lisa.

" Baiklah ! menurut kakak aku harus bagaimana,?"
" Aku mendukung hubungan kalian, nggak usah terlalu dipikirkan sikap
om John. Mungkin setelah Tan zung selesai sidang dan dia tahu kalau
kamu tidak lagi berhubungan Susan, om pasti berubah."

" Jadi maksud kakak, aku dan Maya selama sebulan ini "puasa" dulu,"
kata ku.
" Kan nggak lama itu, " ujar Lisa sambil mengajak ku pulang.
****
Magda heran melihat ku ketika tiba dirumahnya. " Abang bilang mau
tinggal di kampung dua minggu, kok baru seminggu sudah kembali, abang
rindu kepada Susan.?"

" Iya aku rindu kepada kalian bertiga."
" Kok bertiga,?" tanya Magda serius
" Magda, Susan dan tongkat ku."

Magda tak dapat menahan ketawanya, " Aku sudah bakar tongkat abang."
ujarnya masih ketawa.
" Iya aku tahu itu, aku mencium baunya hingga kekampung. Paling tidak
sekarang, aku mau melihat abunya."

Seperti biasanya, maminya Magda menyambut ku hangat. Aku bercerita
tentang pernikahan Sinta, sebelumnya aku menyampaikan salam dari
kedua orang tuaku. Magda bersemangat menanyakan pesta pernikahan
Sinta.

" Abang dapat sahabat baru disana?" tanya Magda.
Maminya segera meninggalkan kami setelah mendengar pertanyaan Magda
dan berujar, " ehhh tahe borungkon/ oalah...putriku ini"

" Iya aku ketemu, tetapi dia sekarang sedang di pasung," ujar ku.
" Zung serius?"
" Serius lah, tak kau lihat abang lemas tak bergairah."
" Oalah nasib mu bang. Ada perempuan bebas, abang memasungkan diri.
Sekarang abang sudah bebas, sahabatmu yang terpasung, kasihan.!"
ucapnya berpura-pura sedih.

" Magda, jangan kamu tambahkan penderitaan ku. Telephon lah Mawar
biar kita mulai diskusi."
" Diskusi tentang perempuan yang terpasung?" tanyanya ngenyek.
" Magda bilang mau belajar, mengulang, kok sekarang bicara mu
ngelantur.?"

" Iya, mana buku abang, pena juga nggak punya.?"
" Kan kau punya. Apa bedanya buku ku dengan buku mu." sahut ku
" Nggak, abang pulang ambil buku, catatan dan skripsi mu." balasnya
lagi dengan setengah berteriak.

Mami Magda kembali keruangan tamu menemui aku dan Magda sambil geleng-
geleng kepala, " kapan kalian bisa damai. tiap ketemu pasti ribut."
" Si abang buat gara-gara. Mau belajar tapi nggak bawa apa-apa, enak
saja si abang." katanya kesal.
"Apa bedanya dengan buku mu, namanya belajar bersama itu harus
akuran." ujar maminya.

Magda pergi melengos mendengar pembelaan maminya kepada ku. Magda
menelephon Mawar supaya bergabung dengan kami. " Mawar kesini, bapak
Tan Zung sudah datang. Bawa buku mu." ucapnya ditelephon.

Aku geli mendengar Magda berucap " bapak Tan Zung "
" Bagaimana bu, sudah boleh kita mulai,?" tanya ku.
" Si Susan ibu mu bukan aku," balasnya masih merasa kesal
meninggalkan aku diruang tamu.

Magda keluar dengan membawa sejumlah buku, tampak dia keberatan
menahan beban dalam pangkuannya . Aku menyusul ingin menolongnya
tetapi dia tidak mau melepaskan satu bukupun aku pegang.
" Berikan sama ku sebagian, atau aku pangku kau berikut buku-bukunya
ke teras, mau?" ancam ku.

" Huh...nih, abang," ujarnya seraya menyerahkan semua yang ada
ditangannya. Magda mengomel ketika buku-buku itu bertaburan di
lantai, " abang sok mau memangku orang, buku sajapun tak dapat
abang pangku," ujarnya sambil membantu ku mengangkat buku yang
bercereran, Magda terus mengoceh sambil berjalan ke teras.

(Bersambung)
Los Angeles, November 04, 2008

Tan Zung




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar