Dosenku Pacarku (82)


"KETULUSAN KU"

Mau dengar lagunya, klik disini...
Lebih dari cinta yang kuberi/lebih dari rindu yang pernah kurasa
masih banyak waktu yang kan di jalani/ masih banyak rahasia
kehidupan 'tuk kita

'ku akan selalu mencintai mu/sampai akan tinggalkan dunia ini
ketulusan ku tak akan berubah/walau kita tak mungkin bersatu

maafkan ku harus meninggalkan mu/maafkan bila hatimu terluka
tetapi hatiku hanya milik mu/karena engkaulah yang terbaik untuk
diri ku

aku akan selalu mencintaimu/sampai aku akan tinggalkan dunia ini
ketulusan ku tak akan berubah/walau kita tak mungkin bersatu

================== 81 ========
" Begitu nasib orang baik, selalu mendapat hadiah yang terbaik," ujar
ku menggoda.
" Baik katamu, isternya pun kamu pacarin." balasnya ( Bersambung)
=============================

Aku terdiam mendengar "tembakan" Magda. Sadar dia kecolongan, segera
Magda berdiri dan memeluk ku, dia menempelkan pipinya dipipi ku. "
Zung maafkan aku, mulut ku latah." bujuknya.

" Aku mau datang kesini karena memenuhi permintaanmu , bukan
mendengarkan hujatan dan mengungkit masa lalu yang aku sedang
berusaha melupakannya.

" Maaf bang, aku keceplosan. Aku tahu abang berusaha melupakannya
malah mulutku negelantur. Maaf iya Zung."
" Jangan ulang lagi, atau aku tidak akan mau datang kesini untuk
selamanya," ancam ku.

Tiba-tiba Magda berdiri dengan posisi sikap sempurna sambil
mengangkat tangannya di sisi lengannya: " demi abang ku yang baik,
aku berjanji tidak akan mengungkit masa lalu abang ku yang berwajah
jelek," suaranya lantang.

Aku tertawa gelak dengan tingkahnya. Aku berdiri menarik tangannya
duduk disampingku.
" Magda masih mau tolong aku?"
" Kalau bisa kenapa nggak?" jawabnya.

" Malam minggu depan om Hendra mengajak ku ke diskotik. Tapi aku
nggak punya teman, Magda mau pergi dengan ku,?"
Matanya terbelalak mendengar ajakan ku. " Abang mimpi? Nggak ah...aku
nggak mau. Nanti aku dikirain orang perempuan nakal."

"Pikiran mu sama dengan orang kebanyakan, keliru. Mereka
beranggapan, juga kamu,kalau berkunjung ke diskotik adalah orang-
orang nakal; bahkan, mengangap orang yang rajin beribadah lebih suci
dari mereka.

Ira salah seorang korban anggapan sempit itu. Ira tak pernah
melacurkan dirinya meskipun dengan cara itu dia mendapatkan uang
lebih banyak dan lebih gampang. Dia bekerja sebagai pramuria karena
butuh uang membiaya perkuliahannya, " ujarku.

" Iyalah bang, aku mau temani abang kesana, tetapi abang angkat janji
dulu, tidak lagi mau mengulangi masa lalu, mabuk-mabukan. Ayo
berdiri, ucapkan janjimu." desaknya sambil ketawa.

Dengan terpaksa aku menirukan gayanya ketika "angkat janji". Kami
tetawa bersama usai aku mengucapkan janji: " Aku berjanji dihadapan
ito ku ratu cerewet, tidak akan mabuk dan ugal-ugalan."

" Aku nanti hanya duduk temanin abang. Jangan buat yang aneh-aneh
kalau nggak mau ku tinggal. Aku jangan ditawarin minum, aku nggak
biasa minum alkohol. " ujarnya

" Magda nanti minum minuman ringan. Kehadiran mu, akan membatasi diri
ku minum dan mungkin Susan agak enggan mengajak ku minum berlebihan
seperti beberapa bulan lalu." Magda akhirnya setuju pergi bersama ku
ke diskotik.

Malam minggunya, aku dan Magda berangkat ke diskotik. Di dalam mobil,
Magda mengingatkan ku lagi, jangan minum berlebihan, boleh minum
tetapi sekedar. Magda mengancam ku. "Bila nanti minum banyak, abang
akan ku tinggal."

"Itu makanya aku ajak Magda biar ada yang mengontrol ku," balas ku
Hendra dan Susan menyambut aku dan Magda sembari menyalami kami. "
Selamat kepada doctoranda Magdalena," ucap Hendra hangat. Magda
tersipu karena meyebut gelar akademis didepan namanya.

Susan merasa "suprise"melihat kehadiran Magda. Tanpa merasa sungkan
Susan berbisik di teligaku, " Zung, dulu kami bilang, hubungan mu
dengan Magda tidak akan mungkin bersatu lagi. Kok malam ini abang
datang bersama Magda.!?"

" Hubungan ku dan Magda sebatas teman saja, karena dulu kami pernah
bersahabat erat, " ucap ku pelan, sementara Magda asyik bicara dengan
Hendra.

Selama kami di diskotik, Susan hanya sekali mengajak ku ke " floor'
tetapi agak lama. Aku khawatir Magda akan merasa bosan menunggu kami
yang sedang hanyut mengikuti alunan musik.

Berulangkali aku melepaskan pelukan Susan, tetapi dia selalu membujuk
ku, " Bang malam ini untuk yang terakhir. Abang jadi berangkat ke
Jakarta? Kapan, ? tanyanya tangannya masih melingkar leher ku.
" Aku berangkat akhir bulan ini," jawab ku.

Susan melepaskan tangannya setelah mendaratkan bibirnya dipipi ku.
Aku menggandeng Susan kembali duduk kesisi Hendra. Magda menyambut
Susan dengan senyuman.

Tidak lama setelah aku duduk tangan Magda mencubit paha ku, tapi
matanya menuju ke Susan. Hendra membujuk Magda untuk turun berdansa,
tetapi dengan sopan Magda menolak.

Aku berbisik kepada Magda: " Pergilah! Itu hanya sopan santun dalam
dunia persahabatan. Nggak apa-apa kok.! " ujar ku. Magda mencubit
paha ku lagi dan besbisik, " bang, diam .!"
***
Aku dan Magda mohon diri, Susan dan Hendra berusaha membujuk kami
untuk tinggal sebentar lagi. " Aku mau menjemput mami," jawab Magda
berdalih.

Didalam mobil, Magda marah-marah, " Ngapain abang suruh aku berdansa
dengan om itu hah...!?
" Itu hanya sopan santun...," jawabku.

" Makan sopan santun mu itu. Kenapa bukan abang yang ajak aku?"
" Lho, aku nggak tahu kalau Magda mau .?"

" Mau! Mau gamparin abang. Tadi di mobil sudah aku ingatkan jangan
minum banyak, tetapi abang minum sembunyi- sembunyi. Dimeja mu hanya
sedikit, tetapi ketika dengan Susan aku lihat berapa kali abang
menambah bersama Susan."

" Aku hanya menambah sedikit. Buktinya aku masih bisa ngomong
normal," ujar ku membela diri.
" Lain kali aku nggak mau lagi ikutin abang."

" Iya nggak lagilah. Aku kan mau berangkat ke Jakarta kok .!
" Abang jugul.!"

" Terserah Magda bilang apalah. Bagaimanapun aku tetap mengucapkan
terimakasih; malam ini kamu telah menyelamat kan ku. Kalau tadi Magda
nggak ikut, pasti aku akan kembali seperti dulu mabuk berat.

Kemarin motor mu menyelamatkan ku, aku nggak jadi nginap dirumah
Susan. Malam ini giliran mu menyelamatkan ku. Kebaikan hatimu tak
akan dapat aku lupakan." ujarku serius.

" Zung tak perlu mengucapkan terimakasih seperti itu," ujar Magda
mengelus pipi ku. " Bang, nggak usah coba-coba lagi minum biar
sedikit juga. Nanti abang kembali jadi manusia brutal, tak karuan,"
nasihatnya lembut.

" Tadi Magda bilang mau jemput mami. Mami dimana?"tanyaku
" Di rumah.! Tadi aku bilang menjemput mami, supaya kita bisa pulang,
dan merekapun nggak tersingung. Itu sopan santun bersahabat," ujarnya
ngenyek menirukan ucapakan ku sebelumnya."( Bersambung)

Los Angeles. November 11, 2008

Tan Zung

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar