Dosenku Pacarku (86)


"I Hate You Then I Love You"

Mau dengar lagunya, klik disini...
I'd like to run away from you/ But if I were to leave you I would
die/I'd like to break the chains you put
Around me/And yet I'll never try

No matter what you do you drive me crazy/I'd rather be alone
But then I know my life would be so empty/As soon as you were gone

Impossible to live with you/But I could never live without you
For whatever you do / for whatever you do/I never, never, never/Want
to be in love with anyone but you

You make me sad/You make me strong/You make me mad/You make me long
for you / you make me long for you
You make me live/You make me die/You make me laugh/You make me cry
for you / you make me cry for you

*) I hate you/Then I love you/Then I love you/Then I hate you/Then I
love, I love you more
For whatever you do/I never, never, never/ Want to be in love with
anyone but you

You treat me wrong/You treat me right/You let me be/ You make me
fight with you / I could never live with out you
You make me high/You bring me down/You set me free/You hold me bound
to you
*)
I never, never, never/I never, never, never/I never, never, never/
Want to be in love with anyone but you
But you

================= 85 ============
" Buru-buru Susan menuangkan air teh ke gelas dan mengantarkannya, "
ini tuan paduka," ujarnya bergurau. Magda tertawa mendengar
percakapan ku dengan Susan.Ketika akan pulang, Susan memaksa Magda
duduk didepan mendampingi ku. " Magda, kau duduk didepan sebelum tuan
paduka murka." gurau Susan. ( Bersambung)
============================

Susan mengajak kami makan malam di rumahnya. Aku tak dapat menolak
setelah Magda menyetujui ajakan Susan. Sebenarnya aku tak rela lagi
mampir dirumah itu, terlalu banyak kenangan yang terajut disana,
mulai dari sofa, ruangan bar kecil dan tempat tidur; kesemuanya
menjadi saksi bisu selama -kurang lebih sepuluh minggu -- berhubungan
dengan Susan.

Seperti biasanya, Susan tak pernah membiarkan pembantunya melayani
aku dan Susan ketika makan bersama.
Aku berbisik kepada Magda agar ikut ke dapur mempersiapkan makanan.
Aku menyusul setelah Magda kedapur. Kami bertiga di dalam dapur
mempersiapkannya meski Susan melarangnya. Di meja makan, Susan
menarik tangan Magda duduk disampingnya, menghadap ku.

" Magda, kita duduk disni menghadap tuan paduk yang mulia," ujar
Susan bergurau. Magda ketawa mendengar guyonan Susan. Suasana makan
malam penuh kehangatan seperti tiga bersaudara sekandung.

Aku dan Magda meniggalkan Susan dengan hati berat, karena telah
terjalin kumunikasi yang akrab dan tulus diantara kami bertiga. Susan
mencium pipi Maga dan memelukku erat dihadapan Magda, " Bang, hati-
hati dijalan," pesannya. Selama dalam perjalanan, wajah Magda kurang
ceria.

" Ada apa, kenapa wajah mu muram seperti itu,? tanyaku.
Suara Magda tersendat ," Aku tak sangka Susan begitu hangat dan
tulus. Beda ketika dia sedang memberi kuliah. Lain waktu, aku akan
ajak Mawar main kerumahnya.

" Sekarang baru Magda rasakan kehangatan Susan. Hal yang sama aku
rasakah sehingga aku larut dan melanbrak tatanan kewajaran." ujar
ku, disambut anggukan Magda.
****
Tiga hari berikutnya, Susan datang kerumah ku, kebetulan aku sedang
dirumah Magda. Magda selalu menelephon ku jika pada siang hari
belum juga "melapor" kerumahnya. Suatu waktu di pernah kesal karena
aku tak datang kerumahnya. "Abang mentiko , sudah tahu mau pergi
masih melalak kemana-mana," ujarnya kesal.

" Magda juga ikut-ikutan memasung ku." ucap ku.
" Bangngng....aku tidak mau memasung. Abang sebentar lagi sudah mau
pergi.!" teriaknya.
" Duh...masih gadis begini sudah darah tinggian," ujarku ngenyek.

" Bangng... aku bukan marah. Abang nggak mengerti perasaan ku,"
balasnya lembut sambil meraih kedua tanganku dan menempelkan di sisi
wajahnya. " Abang salah mengerti." imbuhnya. Sikapnya kala itu,
membuat ku setengah pesong, benci tapi rindu.?

Ketika aku tiba di rumah, ibu kost ku memberikan sebuah titipan dari
Susan berisi surat singkat dan tiket pesawat Medan - Jakarta-Medan
dengan status "open date."

Menurut ibu kost Susan menuliskannya diruang tamu. " Zung, maafkan
aku tak bisa mengantarkan mu ke airport. Aku ragu, tak kuasa menahan
diri ku kertika melepaskan mu pergi.

Aku juga tak mau melukai hati adik ku Magda yang aku sangat sayangi.
Selamat jalan bang. Kalau tidak keberatan setelah abang di Jakarta,
sesekali telephonlah aku kekantor.

Aku pasti sangat merindukan mu. Abang sudah tahu jadual ku di kampus,
bukan? Jangan biarkan aku tersiksa dengan rindu ku. Aku merelakan mu
pergi dengan adik ku Magda, aku hanya ingin mendengar suara mu."
Akhir tulisannya, "Peluk cium ku, Susan Raharjo Hendra."

Dua malam terakhir sebelum berangkat, Magda dan maminya mengajak ku
menginap dirumahnya. Aku menyetujuinya kebetulan kedua orang tuaku
tak jadi datang karena kesibukan.

Setelah makan malam, aku dan Magda diruangan tamu hingga larut malam.
Magda kesal ketika aku mau pergi tidur, " Zung, besok lusa kan mau
berangkat. Kok tega amat abang mau tidur baru pukul dua belas,"
katanya kesal.

Sebelumnya tak ada niat memberi surat Susan kepada Magda. Tetapi
karena Magda ingin memperpanjang durasi pembicaran, aku menyerahkan
surat Susan yang ditujukan pada ku.

" Magda mau baca surat Susan yang terakhir, ? tanya ku.
Magda semangat, segera berdiri menarik tangan ku, " ayo bang
ambilkan, aku mau baca,"

Aku memberikan envelope titipan Susan berisi tiket dan suratnya.
Sebelum Magda membaca isi suratnya, terlebih dahulu aku mengingatkan
Magda: " Susan salah mengerti tentang hubungan kita. Dia menduga
hubungan kita kembali seperti sediakala. Magda, aku tak pernah
sekalipun berbicara tentang kamu. Aku harap Magda tidak salah
mengerti."

Magda menatap ku setelah selesai membaca surat itu. Magda menyeka air
matanya, dan melemparkan surat itu keatas meja. Aku kaget. Aku tak
menyangka kalau Magda masih menyisakan hati yang terluka atas
hubungan kami.( Bersambung)

Los Angeles. November 13, 2008

Tan Zung

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar