Dosenku Pacarku (84)


"Almost Lover"

Mau dengar lagunya, klik disini...
Your fingertips across my skin/The palm trees swaying in the wind
Images/ You sang me spanish lullabies/The sweetest sadness in your
eyes/Clever trick/I never want to see you unhappy/I thought you'd
want the same for me

*)Goodbye, my almost lover/Goodbye, my hopeless dream/I'm trying not
to think about you/Can't you just let me be?/So long, my luckless
romance/My back is turned on you/I should've known you'd bring me
heartache/Almost lovers always do

We walked along a crowded street/You took my hand and danced with
me/Images/And when you left you kissed my lips/You told me you'd
never ever forget these images, no
I never want to see you unhappy/I thought you'd want the same for me
*)
I cannot go to the ocean/I cannot drive the streets at night/I cannot
wake up in the morning
Without you on my mind/So you're gone and I'm haunted
And I bet you are just fine/Did I make it that easy
To walk right in and out of my life?
*)
================ 83 =============
" Aku berangkat akhir bulan ini," ujar ku. " Kalau sampai sebulan
nggak dapat kerja, aku segera kembali," imbuh ku. Susan terus
berusaha mempengaruhi ku, agar membatalkan niat ku ke Jakarta. (
Bersambung)
=================================
" Zung , bagaimana dengan pekerjaan yang aku tawarkan itu. Bolehlah
abang pergi tapi kembali lagi setelah sebulan," bujuknya.
Tidak elok menolak langsung tawarannya, aku berucap: " Aku akan
pikirkan ulang usulan mu setelah aku di Jakarta."


Dalam pembicaraan hampir satu jam itu, Susan sesekali mengulang
kenangan kisah kasih kami. Susan mengajakku ke rumah mungil dan kebun
peninggalan ayahnya. " Zung, nggak rindu dengan sungai kala aku dan
abang mereguk kasih dalam kebeningan sungai,? " tanyanya menukil
kenangan.

Iya, aku amat merindukannya, airnya begitu jernih dan sejuk. Aku
terkesan dengan batu-batu besar dan indah ditengah sungai seakan ada
tangan yang menyusunnya. Suara gemercik sungai menggelitik syaraf ku
untuk menuliskan ke kaguman ku tentang ke Maha Besaran sang Pencipta.

Beberapa tulisan pendek berhasil ku torehkan didalam catatan harian
ku berisi tentang kemolekan dan kecentilan sungai mengalir menyusur
hingga ke samudera luas.

Diantara catatan harian pernah ku torehkan antara lain;
" Senandung mu berdesah mengiring geliat gemulaimu menyusuri alur
berliku bebatuan. Geliat mu bagaikan gadis jelita meliukkan tubuh di
depan mata ku.

Senyuman dan kebeningan penampakan mu mengundang nafsu berahi ku
untuk menyetubuhi mu. Engkau pasrah ketika aku mencumbui mu hingga
aku terkulai dalam pelukan mu.

Engkau memberi ku kehangatan dalam jiwa mana kala aku terpasung dalam
kegalauan sukma. Aku mencicipi kemolekanmu penuh gairah. Engkau
memberi ku sejuta rasa, mengalir, laksana madu membasahi
kerongkongan ku." Diakhir tulisan itu ku tuliskan, " Aku, penikmat
cipta surgawi."

Entahlah mungkin Susan sengaja menukil kenangan ku dan dia. Oh
iya...kala itu, Susan bergayut manja di pangkuanku pada akar pohon
yang membentang kokoh diatas permukaan sungai. Aku sengaja melepaskan
pelukan ku sehingga dia terjungkal kedalam sungai, gelegapan.

Tangannya menggapai ku. Aku menghampirinya setelah aku puas
mempermainkannya. Dia memukul-mukul dadaku seraya berujar, " abang
nakal." Ciumanku menghentikan tangannya memukul dadaku. "Bang, aku
kedinginan ." ujarnya mengharap aku memangku ketepian sungai. Susan
menghentakkan ku dari kenangan sekilas.

" Zung, besok suamiku Hendra akan berangkat ke kantor pusat
memberikan laporan perjalananannya selama di London. Abang mau temani
aku ke kebun ,?" tanyanya.

" Aku mengganguk tanda setuju. Susan tidak merasa keberatan bila aku
mengajak Magda dan Mawar ikut ke kebun dan rumah mungil peninggalanan
ayahnya.

Setelah Susan pulang, aku segera berangkat ke rumah Magda memberi
laporan terakhir tentang Susan. Aku dan Magda ada semacam perjanjian
tak tertulis, semua kegiatan ku di Medan sebelum aku ke Jakarta harus
melaporkannya, termasuk mengenai Maya dan Susan. Kesepakatan tak
sengaja ini, muncul ketika kami di danau Toba menikmati liburan
setelah wisuda..
****
Magda baru saja siap mandi datang menyongsong ku ke teras rumah, "
Ada berita baru bang.?"

Magda tahu, setiap kedatangan ku diluar jam bertamu, akan melaporkan
sesuatu yang baru.
" Magda, ini perintah.! Tak ada alasan mu untuk menolak, kecuali
Magda bersedia tak cakapan dengan ku untuk seumur hidup." ujar ku.

" Kelakuan abang tak berubah, main paksa," ujarnya sambil
mengeringkan rambutnya - yang baru saja dikeramas- dengan handuk .

" Besok siang kita ke sungai tempat kita dulu" retreat". Aku ingin
berenang disana bersama mu sebelum aku berangkat." ujar ku bergurau.

" Abang baru minum iya? Berapa botol abang minum hah...?" tanyanya
serius sambil mengibaskan handuknya ke wajah ku.

Aku tertawa melihat tingkahnya, tempramennya langsung "on", wajahnya
berubah galak. Aku merebut handuk dari tangannya dan membelitkan ke
lehernya sambil tertawa. Magda sadar dia aku "kerjain". Dia merajuk
dan meniggalkan ku sendiri di ruang tamu.

Mendengar kami" huru - hara" maminya keluar dari kamar, sementara
Magda sudah menghilang. Maminya masuk lagi setelah aku jelaskan, kami
bukan ribut. " Kok baru pulang kalian sudah ribut.!" kata maminya.

" Apa lagi yang mau diributin hah..." tanya Magda berlagak marah,
setelah maminya masuk ke dalam kamar
" Magda, tenangkan dulu dirimu. Hidupmu tiada hari tanpa marah,
cerewet."

" Abang yang selalu bikin gara-gara. Ayolah nggak usah berteletele,
ada masalah apa lagi.?"

" Nggak ada masalah. Ibu Susan mengajak ku melihat kebunnya,
sekaligus mengajak ku mandi bersama lagi. Ibu itu setuju kalau Magda
dan Mawar ikut bersama ku. Kamu nggak boleh menolak dengan alasan
apapun kecuali oleh kematian. Magda harus ikut, selamatkan ku." pinta
ku sambil ketawa.

Magda diam beberapa saat. " Abang serius? Susan nggak keberatan
kalau aku dan Mawar ikut, ? tanyanya.
" Iya, aku serius. Telephonlah Mawar sekarang," ujar ku.
" Mawar nggak ada waktunya," ujar Magda setelah menghubungi Mawar
melalui telephon.

" Kita berdualah, " ujar ku
" Apa Susan nggak cemburu?" tanyanya.
" Itu yang aku harap. Semoga keikutsertaan mu, secara perlahan dapat
menghapuskan cinta kami yang terajut," ujar ku.

Magda menatap ku serius dan berucap, " Apapun menurut abang yang
terbaik, Magda akan membantu mu."
" Aku tak salah memilih sahabat meski ratu cerewet, " ujarku seraya
mengelus pipinya, lembut. Magda membalasnya dengan jeweran
dikupingku, " Terimakasih raja perajuk.!" ( Bersambung)

Los Angeles. November 12, 2008

Tan Zung

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar