Dosenku Pacarku (68)


"Manduda Bayoni"

Mau dengar lagunya, klik disini...

Mau dengarnya, silakan klik disini...

Rap hita nadua hasian manduda bayon i/kita berdua kasihku "manduda"
pandan
Rap hita nadua hasian tu parmahanan i/kita berdua kasih ku mengembala
Laos hu galmit ma ito da hurum i/ sembari ku elus pipimu
mengkel suping ho tu ahu hasian/ engkau tersenyum pada ku kasih
Holan ho na ma ito/ hanya dikau kasihku
holan hoi nama ito bunga di ateate ki./ hanya dikau bunga di dalam
kalbu

Pos do rohami tu au ito songoni au tu ho/ Engkau percaya terhadapku
demikian juga daku
songon aek tu a ma uas i/ bagaikan air pada orang yang dahaga
sihol hi tu ho ito/rindu ku pada mu

Molo so pajumpang ahu dohot ho/ bila aku tak ketemu dirimu
mar sahali sadari / sekali dalam sehari
Sai busisaon ahu sai busisa on ahu/ Aku gelisah, aku gelisah
alani holong hi tu ho /karena kasih ku pada mu

Ias do holong mi tu ahu ito/cinta mu tulus pada ku, kasih
songon bontar ni bajumi/ bagai putih baju mu
Ndang hasuhatan burjumi lagu mi tu ahu ito/ tidak terukur kebaikan mu
pada ku kasih

Ingkon ho nama ito/ingkon ho nama ito /lao ho parmaen ni da inang i.
2 X / Hanya engkau yang layak menjadi mantu ibunda.

================== 67===========
Maya diam ketika ku tanyakan siapa pacarnya sekarang, malah
bertanya, mengenai hubungan ku dengan Magda. Jawab dulu pertanyaan
ku, baru aku menjawab pertanyaan mu, " siapa lelaki beruntung yang
mendampingi mu.?" ( Bersambung)
=================================

" Nggak ada." jawabnya singkat.
" Hubungan ku dengan Magda telah berakhir. Maya mau pacaran dengan
ku,?" ujar ku berguyon.
Maya "keok" wajahnya menunduk, modalnya hanya senyum. Aku tahu dia
tak akan mampu "ber manuver" seperti Magda, Mawar dan Susan.


Sekampung tahu, kalau urusan berpacaran, Maya "zero kilometer". Malam
ini ketemu pula sama lelaki yang" kilometernya" sudah hampir kembali
ke zero lagi."

Aku mengulang pertanyaanku seakan serius,"mau nggak?. Maya tak
menjawab hanya memandang ku kemudian menunduk sambil menikmati
makanannya.

Sebelum dia menjawab " iya atau tidak", segera kua alihkan
pembicaraan kepesta pernikahan Sinta esok paginya. Sungguh, saat
itu, aku belum terpikir untuk "menenun " lembaran baru.

Sepertinya, hati mulai jenuh berurusan dengan api asmara yang
menghanguskan, apalagi dalam waktu dekat aku harus mengahadapi
masalah baru, "bercerai" dengan Susan. Aku juga ingat pesan
Magda, "jangan ada lagi korban baru."

Makan malam kami akhiri tanpa ada "komitmen" antara aku dan dia,
meski aku merasakan, Maya menaruh perhatian pada ku.
****
Ibu menegur ketika melihat ku belum berkemas setelah bangun pagi. Aku
tak bergairah pergi ke pesta pernikahan Sinta. Tidak hanya ibu
menegurku, semua keluarga termasuk tamu dirumah "mengeroyok" ku agar
segera berkemas.

Milhat aku bergeming dengan keroyokan mereka, tanpa sepengetahuan ku
ompung pergi menjemput Maya ke rumah. Maya datang bersama ompung.
Maya "pasang badan" dan membujuk ku agar segera berkemas.

" Zung, sebentar lagi acara pemberkatan, ayolah bang, temani Maya, "
bujuknya.
" Berangatlah kalian, aku menyusul." jawab ku.

Maya tak bergerak dari tempatnya berdiri dan terus membujuk ku di
dukung oleh ibu. Akhirnya aku mengalah, segera aku bangkit meski
perasaan dihinggapi rasa malas.

Aku melihat Maya masih dirumah, ah....dia menunggui ku selesai mandi
seraya bercakap-cakap dengan ibu. Ibu agak lemas, tak bergairah,
ketika melihatku mengenakan pakaian kemeja lengan pendek tanpa dasi.
Maya mendekati ku," Zung, kok ke gereja pakaiannya seperti itu. Abang
marahan dengan Sinta,?"

" Nggak, apa hubungannya pakaian ku dengan Sinta.?"
Ibu mendekatiku dan berujar, " Kamu nggak menjaga perasaan paman mu.
Paman mu juga akan kesal kepada ibu dan ayah, dikira kami tidak
mengingatkan mu." ujar ibu lembut.

Lagi-lagi aku mengalah menuruti "kemauan" ibu dan Maya untuk
mengganti kemeja dan memakai dasi. Maya mengajak ku jalan bersama
diiringi senyum dikulum dan menyanjung ku, " Zung tampak semakin
gagah dengan pakaian seperti itu." ujarnya.

" Gagah kata mu, nggak tahu perasaan ku tersiksa dengan pakaian
seperti ini. Aku tak suka. Tapi demi kau aku rela," balas ku. Aku tak
menyadari kalimat terakhir membuat hatinya berbunga-bunga.

" Maya pergi duluan dengan ibu, aku belum dapat berjalan dengan
sempurna. Nanti kita ketemu di gereja." ucap ku.
" Kita sama sajalah bang, aku nanti mendampingi abang jalan."

" Hari ini, Maya mendampingi Sinta bukan aku," ucap ku.
" Iya, aku tahu bang, ayolah, " ajaknya ambil menggandeng tangan ku.
Pagi ini Maya sedikit lebih "agresif", tidak seperti yang aku kenal
dulu, pemalu dan pendiam.

Aku coba lagi "mengusirnya": "Maya duluanlah, kamu kan pendamping
Sinta, nanti kamu di tungguin."
" Nggak. Aku sudah katakan kepada mereka, nanti ketemu di gereja, "
jawabnya.

Aku berusaha menutupi langkah ku yang masih pincang dengan berjalan
pelan dengan Maya. Jarak rumah ke gereja hanya sekitar seratus meter.

Selama prosesi acara pernikahan dalam gereja, pikiran ku tak fokus.
Pikiran dan hati masih terganggu dengan hubungan ku dengan Susan.

Sementara acara berlangsung, Maya sesekali melirik kearah ku, tak
sengaja kami bersua mata. Selesai acara pemberkatan nikah, Maya
memisahkan diri dari rombongan pengantin saat undangan memberi ucapan
selamat kepada kedua pengantin dan keluarga.

Maya menjemput ku dari kursi dan menggandeng lengan ku menuju depan
mimbar tempat keluarga menerima ucapan selamat. Aku berusaha menolak,
tetapi Maya bersikeras mengajak ku. Akhirnya aku mengalah lagi dengan
bujukannya, dan aku tak ingin mempermalukannya dihadapan orang
banyak. ( Bersambung)
Los Angeles, October 30 , 2008

Tan Zung

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar