Dosenku Pacarku (67)


"I Wanna Love You Forever"

Mau dengar lagunya, klik disini...

You set my soul at ease /Chased darkness out of view /Left your
desperate spell on me / Say you feel it to /I know you do /I've got
so much more to give / This can't die, I yearn to live /Pour yourself
all over me /And I'll cherish every drop here on my knees

CHORUS
I wanna love you forever /And this is all I'm asking of you /10,000
lifetimes together /Is that so much for you to do? /Cuz from the
moment that I saw your face /And felt the fire in your sweet embrace
I swear I knew. /I'm gonna love you forever

My mind fails to understand /What my heart tells me to do /And I'd
give up all I have just to be with you
and that would do /I've always been taught to win /And I never
thought I'd fall /Be at the mercy of a man
I've never been /Now I only want to be right where you are.

CHORUS
In my life I've learned that heaven never waits no /Lets take this
now before it's gone like yesterday
Cuz when I'm with you there's nowhere else /That I would ever wanna
be no /I'm breathing for the next second I can feel you /Loving
me ... I'm gonna love

CHORUS

================= 66 ==========
" Aku cuma cerita sedikit. Aku juga tahu dari Maya ( bukan nama
sebenarnya ). Om dia dan Susan sama-sama dosen di kampus abang."
" Ah...kalian bocor halus semua, kuping pakai antena bercabang
seribu," keluh ku. (Bersambung)
==============================
" Bang, Maya nanyain mu terus. Dia tahu kalau abang sudah putus
dengan Magda."
" Apalagi nih, Sinta, "jangan antarkan aku dalam pencobaan", aku
sedang "senu " ini." ucap ku.


" Ompung juga senang sama dia, abang kan tahu ompung " hempot", tiada
hari tanpa "komporin" Maya. Ompung "napitpit"*) juga tahu; katanya,
kalau abang mau dengan Maya, dia akan berikan satu ekor sapinya untuk
pesta abang. Eh...Zung, besok pakai jas, Maya pendamping ku." ucapnya.

" Sinta, aku nggak ada jas. Besok aku ngga datang ke pesta mu.
" lanteung" kalian semua," ucapku geram.

" Bang kok marah sama ku? Aku cuma beritahu. Mestinya abang bilang
terimakasih," balasnya ketawa.

Baru saja rasa kesal kutumpahkan kepada pariban ku Sinta,
ompung"napitpit" datang dengan Maya. Oalah..sempurnanya "pencobaan "
ini, yang satu belum selesai, kini ditambah lagi dengan "masalah"
baru, Maya.

Maya, perempuan cantik , cerdas tetapi pendiam, teman satu kelas
ketika es-em-pe. Dia dilahirkan dan dibesarkan ditengah keluarga
religius, kebetulan kakeknya adalah seorang pendeta pertama dan
pendiri gereja di kabupaten.

Abang-adik ayahnya serta namboru/bibinya termasuk keluarga berhasil
dalam segi pendidikan, semuanya sarjana. Karena keberhasilan keluarga
ini, juga karena keluarga religius, lelaki sekitar agak
enggan "bermain api" dengan keturunannya.

Suatu waktu ketika penamatan es-em-pe, dengan gaya "maluku"( malu-
malu kucing) menghampirinya, ingin mengatakan sesuatu, tetapi nggak
jadi, keburu mamanya datang.

Keinginan itu tak pernah terpenuhi, kebetulan sejak es-em-a jarang
ketemu dan aku telah mempunyai teman Magdalena. Kalau kebetulan
pulang sama saat liburan semesteran, Maya tidak pernah keluar rumah,
hanya ketemu di gereja dan itu berlangsung hingga dia menyelesaikan
sarjana.
Maya menyelesaikan sarjananya lebih awal, sementara aku masih
menghadapi sidang meja hijau bulan berikutnya.

Ompung memanggil ku dengan semangat, "Zung , salam dulu" pariban "mu
ini, sekolahnya sudah selesai."
Aku mengalihkan pembicaraan,"ompung, mana sapinya.?"

" Bereslah itu, ompung sudah siapkan untuk pesta mu." ujar ompung
Maya hanya tersenyum mendengar percakapan aku dan ompung.
"Zung, kapan datang," tanyanya Maya mengawali pertemuan kami.

Malas juga menjawab pertanyaan basa-basinya, hati ku juga tawar
karena dia sudah tahu hubungan ku dengan Susan. Aku pingin tahu
sejauh mana dia mengetahui hubungan ku dengan Susan.

Maya tidak menolak ketika tangannya ku gandeng berjalan keluar rumah.
Hatiku merasa geli, melihat ompung napitpit mengembangkan senyumnya
sambil meremas kedua tangannya tanda rasa senang.

" Maya, kamu mengenal Susan?" tanyaku ketika kami sudah diluar. Wajah
Maya sedikit berubah dengan pertanyaanku.
" Nggak, kenapa.?"
" Kata Sinta, kamu tahu hubunganku dengan Susan?"
" Oh..iya, aku cuma dengar dari percakapan teman-teman om dirumah.
Mereka tidak tahu kalau abang aku kenal."

"Apa yang mereka bicarakan?"
" Aku nggak tahu persis, aku dengan sambil lalu saja, kebetulan nama
mu disebut-sebut." ucapnya.
" Benar kamu nggak tahu apa yang mereka bicarakan mengenai hubungan
ku dengan Susan?.

" Iya..aku nggak tahu." jawabnya.
" Baiklah , aku punya hubungan dengan Susan karena dia dosen
pembimbingku. Kebetulan akhir-akhir ini aku sering ke rumahnya."
" Katanya, suaminya sedang keluar negeri?." tanya Maya.
"Iya, itu jugalah sebabnya aku sering kesana bantuin Susan sekaligus
supir pribadi." jelasku.

Aku kembali mengajak Maya kerumah bergabung dengan keluarga. Daripada
seisi rumah "ribut", aku duduk berdampingan dengan Maya. Tapi Maya
tidak akan pernah mau memulai pembicaraan, itu sifatnya dari dulu,
pendiam. "Kompor" kiri kanan sudah "menyala", apalagi ompung ku.

" Maya, bikin dulu teh untuk Tan Zung," perintah ompung ku
Maya segera bergegas ke dapur menuruti permintaan ompung. Menghindari
ocehan lanjutan dari ompung, aku segera menyusul Maya ke dapur.

" Maya kalau nggak keberatan tolong siapkan makanan untuk ku, aku
lapar." Aku membantunya mempersiapkan makanan, dengan membagi tugas;
aku mempersiapkan piring dan cangkir, Maya mengisi piring dan cangkir
yang telah kusiapkan.

"Aku masih kenyang." ujarnya setelah melihat aku siapkan dua piring
dan cangkir."
"Jadi, maksud mu kamu "menonton" ku makan sendirian, iya nggak
usahlah,? " ujarku sedikit kecewa.

Maya mengalah. Dia duduk bersama ku menikmati makan malam sambil
bernostalgia ketika masa es-de dan es-em-pe, sedikit mulai nyerempet
mengenai kisah-kasih asmara.

Maya diam ketika ku tanyakan siapa pacarnya sekarang, malah bertanya,
mengenai hubungan ku dengan Magda.

Jawab dulu pertanyaan ku, baru aku menjawab pertanyaan mu, " siapa
lelaki beruntung yang mendampingi mu.?" ( Bersambung)

Los Angeles, October 29, 2008

Tan Zung
====
*). ompung napitipit = panggilan untuk nenek -ibu ayah ku- br
napitupulu. tdk jelas kenapa panggilan seperti itu.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar