Dosenku Pacarku (85)


"Boasa ingkon pajumpang"

================ 84 ===============
" Aku tak salah memilih sahabat meski ratu cerewet, " ujarku seraya
mengelus pipinya, lembut. Magda membalasnya dengan jeweran
dikupingku, " Terimakasih raja perajuk.!" ucapnya. ( Bersambung)
===================================

Esok harinya, aku dan Magda berangkat dengan mengenderai mobil ke
rumah Susan. Susan menyambut kami dengan ramah.
" Kita berangkat dengan mobil ku saja, " ujar Susan sambil
menyerahkan kunci mobilnya kepada ku.


Sedikit agak kaku antara Magda dan Susan sebelum kami berangkat.
Susan memilih duduk dibelakang, sementara Magda menginginkan Susan
duduk mendampingi ku.

" Iya, sudahlah dari pada buang-buagg waktu, kalian berdua duduk di
belakang, aku jadi sopir ," ucap ku sambil menghidupkan mesin mobil.
Magda dan Susan tertawa mendengar ocehan ku. Susan buru-buru masuk
dan duduk disampingku.
"Abang kita marah nih." ujar Susan sambil tertawa.

Suasana ceria menyelimuti hati kami bertiga ketika menyelusuri jalan
menuju rumah mungil ditengah kebunnya. Sesekali aku memegang tangan
Susan dan Magda bersamaan. Keduanya menyambut tangan ku dan
menggemgamnya erat.

Demikian juga ketika kami berenang bersama di sungai. Kami bertiga
tertawa lepas ketika tubuh Susan dan Magda ku benamkan kedalam
sungai. Tak ada lagi batas antara mahasiswa dengan dosen.

Susan mengaku kelelahan, dia menepi kebibir sungai, sementara Magda
masih asyik menikmati sejuknya air sungai. Magda menganggukkan
kepalanya, ketika kuberi "sign", aku mau mengikuti Susan. " Ah..ito
ku Magda sangat luar biasa pengorbanan serta ketulusan hatinya,"
bisik ku dalam hati.

Aku dan Susan duduk di tepi sungai. Sesekali Susan mempermainkan air
dan menyiram wajah ku sambil tertawa. Tak pernah sekalipun Magda
menoleh kearah kami hingga aku dan Susan meninggalkan sungai.

Di rumah mungil itu, Susan mengajak ku mandi bersama, tetapi aku
menolak dengan dalih, " Nanti nggak enak dengan Magda."
" Abang memang benar sudah kembali lagi kepada Magda?" tanyanya
sambil membuka pintu kamar mandi.

Aku tak memberi jawaban pasti. " Menurut Susan bagaimana,?" tanyaku
balik. Susan diam dan menutupkan pintu kamar mandinya. Aku mengetuk
pintu kamar mandi dan bertanya: " Susan, kenapa diam? Kamu marah?.

Susan membuka pintu dan menarik ku kedalam. Susan mencumi ku dengan
gairah. Susan tak peduli meski aku sudah berulang kali berbisik ke
telinganya.
" Susan, kamu nggak malu kalau nanti kita dilihat Magda.? Diakhir
ciumannya mengucapkan : " Zung , aku rela melepaskan mu demi
kebahagian abang dengan Magda."

Aku memeluknya dan berucap lirih di telinganya: " Terimakasih Susan,
selama ini telah banyak membantu ku. Maafkan aku bila telah
mengingkari janji ku. Terimakasih Susan merelakan ku pergi. Aku tak
akan melupakan, bahwa Susan pernah berlabuh dalam kalbu ku meski
dalam bentangan waktu yang sangat singkat."

Aku meninggalkannya dikamar mandi dengan berat hati ketika dia mulai
menitikkan airmata. Sementara Susan masih menangis, Magda kembali
dari sungai. Aku berbisik kepadanya " Susan di dalam, dia sedang
menangis."

Magda mengerti, dia kembali lagi kesungai meninggalkan aku dan Susan
dirumah. Aku menemui Susan kekamar mandi karena masih terus menangis.
Dia mengabaikan bujukan ku supaya diam.

Aku menuntunnya kembali keruang tamu. Dia meninggalkan ku di ruang
tamu dan masuk kedalam kamar. Susan membaringkan tubuhnya, masih
dalam tangis. Aku menemuinya setelah Susan berhenti dari tangisnya
dan membujuk; "Susan, mari kita pulang hari sudah mulai gelap."

Tangis Susan kembali memecahkan kesunyian, " Zung, kemarilah,
peluklah aku untuk yang terakhir kali," ujarnya dalam pembaringan.
" Sepertinya Magda sudah datang dari sungai, dia ada diruang tamu, "
ujar ku mengingatkannya.

" Aku tak perduli. Aku juga telah punya suami, aku rela memberi mu
yang terbaik."

Hatiku bergetar mendengar ucapannya. Aku memeluknya dengan rasa
kasih sayang, tanpa diiring nafsu birahi. Kembali aku mengucapkankan
kalimat ku sebelumnya; "Aku tak akan melupakan, bahwa Susan pernah
berlabuh dalam kalbu ku meski dalam bentangan waktu yang singkat.
Susan, mandilah agar kita pulang." bujuk ku.
Susan bangkit dari tempat tidur, dia tidak menolak ketika aku
menggandeng tangannya ke kamar mandi.

Magda menggigil sambil berlari kecil kerumah, sementara Susan telah
selesai berpakain siap-siap untuk pulang. Susan menyambut Magda,
seakan tidak ada sesuatu yang terjadi. Dia menyuguhkan teh panas yang
telah disediakan ibu penjaga rumah kepada Magda.

Aku berpura-pura protes, sekedar menambah kehangatan suasana, " Lho,
aku dari tadi disini tak setes airpun Susan suguhkan kepada ku. Susan
diskriminatif, hanya melayani sesama perempuan," ujar ku.

" Buru-buru Susan menuangkan air teh ke gelas dan mengantarkannya, "
ini tuan paduka," ujarnya bergurau. Magda tertawa mendengar
percakapan ku dengan Susan.

Ketika akan pulang, Susan memaksa Magda duduk didepan mendampingi
ku. " Magda, kau duduk didepan sebelum tuan paduka murka." gurau
Susan. ( Bersambung)

Los Angeles. November 12, 2008

Tan Zung




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar