Dosenku Pacarku (87)


" Without You"

Mau dengar lagunya, klik disini...
No I cant forget this evening/Or your face as you were leaving/But I
guess thats just the way/ The story goes/You always smile but in your
eyes/Your sorrow shows/Yes it shows

No I cant forget tomorrow/When I think of all my sorrow/When I had
you there/But then I let you go/And now its only fair/That I should
let you know/What you should know
*) I cant live/ If living is without you/I cant live/I cant give
anymore 2 X

No I cant forget this evening/Or your face as you were leaving/But I
guess thats just the way/ The story goes/You always smile but in your
eyes/Your sorrow shows/Yes it shows
*) I cant live/ If living is without you/I cant live/I cant give
anymore 2 X

================= 86 ===============
Aku kaget. Aku tak menyangka kalau Magda masih menyisakan hati yang
terluka atas hubungan kami.( Bersambung)
===================================

"Magda, tadi aku telah ingatkan, Susan salah mengerti tentang
hubungan kita. Atau kamu masih kecewa dengan ku? Bukan kah kita sudah
sepakati untuk melupakannya? Kenapa Magda bersedih lagi.

Aku sudah berulangkali mohon maaf, Magda masih belum tulus memaafkan
ku?. Aku, sungguh telah melupakannya. Itu sebabnya aku hampir setiap
hari datang kerumah ini, karena Magda telah kuanggap bagian dari
keluarga ku.

Magda diam. Dia mengambil envelope itu lagi dan menyerahkan ketangan
ku. Aku pindah kedekatnya, " Magda, relakanlah aku pergi agar aku
tidak punya beban. Aku tak ingin melihat mu bersedih seperti itu.

Magda, aku menyadari kekeliruanku dulu. Aku sadar tak mungkin lagi
mendulang cinta dari hati yang terluka. Aku telah merelakan mu pergi
dengan siapapun lelaki yang mencintai mu.

Magda menggelengkan kepalanya." Nggak bang, semuanya telah berakhir,
hatiku telah tertutup, " ucapnya dengan suara serak.
" Magda, besok aku mau berangkat, lepaskanlah aku dengan tulus.
Tolong jangan menambah beban pikiran ku lagi. Magda
telah "menyelamatkan" aku dengan Susan. Kini malah Magda menyiksa
perasaan ku saat mau pergi."

Magda diam, kedua matanya masih memerah mengeluarkan airmata
membasahi wajahnya. Dia meninggalkan ku sendirian di ruang tamu. Aku
duduk diliputi rasa tanya, kenapa sikap Magda berubah lagi
terhadapku. Pada hal akhir-akhir ini aku telah dianggapnya keluarga
dekat sebagai bersaudara.

Kini aku seakan mendengar gaung genta dari lorong gelap nan sepi.
Telingaku tak mampu lagi mendengar gaung yang melolong panjang dan
memilukan, mendera kalbu. Aku tak kuasa menahan getar cekaman sukma
dari seseorang yang pernah aku kasihi.

Aku merebahkan tubuh dalam kepenatan jiwa diatas sofa ruang tamu.
Mata ku sukar terpejam didera galau membalut jiwa. Malam itu, Magda
tampaknya tidak dapat tidur. Magda menemuiku dalam pembaringan siksa,
membujuk ku pindah ke ruangan yang telah dipersiapkannya. Aku
menolak.

" Magda, biarkan aku disini, sendiri menikmati kebekuan dan kebuntuan
hati," ujarku sambil menggigil menahan dingin menusuk persendian
tulang-tulang ku.

" Abang nanti sakit. Besok mami memarahi ku lagi kalau abang masih
tidur disini. Ayolah bang, aku sudah siapkan kamar untuk mu,"
bujuknya.

Aku bergeming. Magda mengambilkan selimut dan menutupi tubuh ku
setelah aku bersikeras tidak mau pindah. "Selamat malam bang,"
ujarnya sambil berlutut, meraih tangan ku dan menciumnya.
****
Pagi hari usai serapan, aku dan Magda duduk berduaan di meja makan.
Inanguda ku, maminya Magda, telah keluar rumah.
" Zung, besok aku nggak bisa mengantar abang ke airport." ujarnya
dengan wajah kuyu.

" Magda, apa yang membuat hati mu berubah secepat itu ? Apa perlu
abang membatalkan keberangkatan ku? Apa lagi yang harus aku lakukan
agar hati mu puas? Terakhir ini aku mendengar dan mengikuti nasihat
mu, bebanku hilang. Sekarang malah Magda menambah beban ku."

"Bang, nggak ada yang berubah. Hanya aku belum siap berpisah dengan
mu. Aku menyesali kenapa abang datang lagi dan kali kedua
meninggalkan ku. Tak ada lagi teman ku berbagi rasa, walaupun kita
selalu bertengkar. Aku sangat menyayangi mu sebagai saudara ku.

Zung, aku tidak mengingat lagi masa lalu kita. Aku nggak sakit hati,
hanya aku tidak tega memberangkatkan mu. Jangan sakit hati bang,
Magda tak mampu melihat mu meninggalkanku sendirian di airport dan
aku akan menanggung kesedihan sepeninggal mu."

"Baiklah Magda, aku menghargai alasan mu. Tetapi ingatlah, masa-masa
yang indah terakhir ini, sebagai keluarga dekat, kau akhiri dengan
kesan menyakitkan. Aku tak yakin, Magda telah memafkan ku dengan
tulus. Magda hanya berpura-pura, meski aku dengan tulus menemani mu
sebagai keluarga dekat ku.

Ugghh...aku permisi, selamat tinggal ito ku Magda yang baik." ujar ku
sambil beranjak dari meja makan dan menyerahkan kunci motor yang
tadinya aku pinjam untuk sesuatu urusan.

Magda tidak menghalangi ku pergi, tetapi dia menangis sambil berlari
ke ruangan dapur. Magda berdiri di depan jendela dapur sambil menyeka
air matanya. Aku mengikutinya dari belakang dengan perasaan gelisah.
Sedikipun aku tak menduga kalau sikapnya akan berujung seperti itu.

Aku mencoba mengingat-ingat barangkali ada sesuatu ucapan ku yang
menyinggung perasaannya. Tapi aku sangat yakin, terakhir ini tidak
sekalipun aku menyakiti hatinya; Juga, tidak pernah mempengaruhinya
agar hubungan kami kembali.

Aku berdiri kaku menatapnya masih dengan wajah sedih. Bibirnya
bergetar menahan tangis sambil melangkah ke kursi di sudut ruangan
dapur. Kedua tangannya menopang wajahnya, matanya menatap kearah ku,
hampa.

" Magda, nggak apa-apa kalau tidak mau mengantarkan aku ke airport.
Tetapi, katakan sejujurnya sebelum aku meninggalkan rumah ini, apa
yang membuat sikap mu seperti itu.

Aku janji, tidak akan tersinggung dan marah. Justru sikap mu seperti
ini, tanpa pejelasan, membuat aku tersinggung dan sakit hati untuk
seumur hidup, sungguh, " ucapku serius.

Aku menunggu jawaban terakhir sebagai simpul persahabatan ku; Sebagai
keluarga, sekaligus sebagai perempuan yang pernah aku cintai dengan
tulus, walau pada akhirnya terhempas diterjang badai.

Aku juga menatapnya hampa, kecewa, iya sangat kecewa. Akankah
semuanya berakhir tanpa aku mengerti apa dan mengapa? Detik-detik
mencekam menunggu jawabannya membuat hatiku semakin tersiksa.
Perlahan aku membalikkan tubuhku sambil melangkah keluar dari ruang
dapur.

Segera aku menghentikan langkah ku ketika mendengar Magda menghela
nafasnya, panjang.
" Iyalah bang, aku mau ikut mengantarkan mu ke airport," ujarnya
pelan.

Aku segera berlari menghampirinya serta mengangkat tubuhnya seperti
anak kecil. Magda sesak dan berteriak sambil memukul-mukul dada ku.
" Lepaskan aku, lepaskan aku abang genit,!" teriaknya .
Kedua tanganya mencubit pipiku, kuat berbekas.

Giliran ku berteriak ketika Magda mencubit pipi ku kali kedua. "
Biarin, supaya abang tetap ingat Magda," ujarnya.
Magda menyerahkan kunci motornya yang aku telah kembalikan, " Nih
kuncinya, abang raja perajuk," ujarnya,
" Magda ratu cerewet," balas ku sambil menyeka air mata yang tersisa
diwajahnya.
****
http://www.youtube.com/watch?v=cIc7EvT2zsw

Sebelum aku meninggalkan Magda, entah kenapa secara spontan hatiku
tergerak ingin ziarah kekuburan papi Magda, bapauda ku. Selama ini
aku terus diliputi rasa bersalah. Dulu, aku tidak ikut menghantarkan
jenazahnya ke pemakaman. Dalam perjalanan, Magda bertanya, kenapa
aku tiba-tiba mengajaknya ziarah.

" Entah kenapa. Aku teringat papi ketika kita duduk makan bersama
semasa hidupnya. Ketika itu papi menawarkan pekerjaan untuk ku
setelah tammat sarjana muda." ujar ku. Magda mempererat tangannya
dalam boncengan serta meletakkan wajahnya di atas punggung ku. Aku
merasakan hangatnya tetesan airmatanya membasahi punggungku.

Aku dan Magda berlutut di didepan pusara setelah membersihkan serta
meletakkan kembang diatasnya. Aku tak dapat menahan rasa sedih ketika
mendengar isakan Magda.

Dalam tangisnya Magda berujar lirih sambil memeluk pusara, wajahnya
diletakkan diatasnya, " Papi, abang datang lagi. Papi, besok abang
pergi lagi meninggalkan aku dan papi."

Aku mengangkat wajahnya dari atas pusara serta memeluknya. Magda
semakin terisak dalam pelukanku, " Abang telah memaafkan papi,?"
tanyanya dalam isak. Tubuhku terguncang menahan tangis mendengar
pertanyaannya.

" Magda, tidak..!. Tidak ada yang perlu dimaafkan. Papi tidak
bersalah , aku seharusnya minta maaf sebelum papi pergi , " ucapku
menahan teriak dalam pelukannya.

Aku dan Magda tersentak ketika sepasang tangan menyentuh lengan kami.
Aku dan Magda menoleh ke atas. Tanpa kami sadari, mami dan adiknya
Jonathan sedang berdiri dibelakang kami. Magda segera berdiri dan
memeluk maminya kemudian mami memeluk ku.

" Sudah puas amang rindu mu kepada bapauda.?" tanyanya.
Aku mengangguk, " Iya inang uda, rindu ku telah puas. Aku kini merasa
lega berangkat ke Jakarta." jawab ku tersendat.

Jonathan memelukku erat sekali," Bang kemana saja? Selamat bang, maaf
aku nggak bisa hadir pada acara wisuda lalu,"ujarnya sambil menyalam
ku. (Bersambung)

Los Angeles. November 13, 2008

Tan Zung

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar