Eksperimen Anak-anak


Eksperimen Anak-anak
Oleh: Mula Harahap

Ketika masih kecil Henry Ford--penemu produksi mobil dengan sistem ban berjalan itu--pernah membendung selokan yang mengalir di dekat rumahnya sehingga menimbulkan banjir besar. Entah apa yang ada di kepala Henry Ford waktu itu. Mungkin dia hanya sekedari ingin tahu apa akibatnya kalau selokan dibendung.

James Watt penemu mesin uap itu pernah merebus air di dalam ketel tanah liat dan menutup semua lubang pada ketel tersebut juga dengan tanah liat. Akibatnya tentu bisa dibayangkan: ketel itu meledak dan memporak-porandakan dapur ibunya..

Thomas Alva Edison pernah duduk mengerami sejumlah telur ayam. Tentu saja telur ayam itu tidak sempat menetas karena Thomas Alva Edison sudah keburu dianggap gila oleh ibu dan tetangganya

Anak-anak memang selalu ingin mengetahui jawaban dari banyak hal. Kadang-kadang jawaban itu bisa diperoleh dari orang dewasa yang lebih mengetahui. Tapi tidak semua orang dewasa mau secara sabar menjawab pertanyaan anak-anak yang acapkali memang sepele, aneh atau menjengkelkan itu. Karena itu--di samping mengajukan pertanyaan--anak-anak juga suka melakukan eksperimen.

Saya pernah terkejut menemukan stoples berisi beberapa ikan mas koki di dalam freezer kulkas. Tentu saja air di dalam stoples itu telah menjadi es dan semua ikan mas koki “stucked” di dalam es tersebut. Ketika saya bertanya kepada anak laki-laki saya mengapa ia melakukannya, maka jawabannya hanyalah, "Saya hanya mau tahu, kalau ikan ditaruh di dalam kulkas, dia akan jadi apa?"

Ketika saya masih anak-anak maka salah satu eksperimen yang saya ingat pernah saya lakukan ialah yang berkaitan dengan kantor pos. Dulu saya kepingin tahu apakah tukang pos mau mengantarkan surat yang saya kirim ke nama dan alamat saya sendiri. Tapi karena saya takut dimarahi oleh tukang pos, maka pertama-tama saya mengirim surat ke nama dan alamat saya dengan menyertakan nama dan alamat rekaan. Eh, ternyata surat itu sampai.

Kebehasilan dengan eksperimen pertama membuat saya menjadi lebih berani. Saya mengirim surat dengan nama dan alamat si penerima tercantum jelas, tapi nama dan alamat si pengirim dikosongkan. Eh, ternyata surat itu sampai juga.

Akhirnya saya semakin berani. Saya mengirim surat dengan nama dan alamat si pengirim maupun si penerima sama dan tercantum jelas, yaitu nama dan alamat saya sendiri. Surat itu saya pos-kan disebuah kotak surat dekat sekolah. Selama dua atau tiga hari saya menunggu dengan harap-harap cemas.

Eh, bukan main gembiranya saya, ketika surat itu sampai juga dan ternyata tukang pos tidak marah. Tapi Ayah--yang ketika surat itu tiba sedang berada di rumah--justeru marah kepada saya, "Apakah kau tidak punya pekerjaan lain yang lebih penting selain mengirim surat kepada dirimu sendiri, hah?" katanya.

Anak-anak memang memiliki "reasoning"-nya sendiri yang acapkali tidak bisa dipahami oleh orang dewasa. Karena itu pertanyaan Ayah tak pernah saya jawab. Tapi saya sangat berharap bahwa saat ini di alam baka sana Ayah juga sedang bermain "internet". Dan biarlah catatan ini menjadi jawaban atas pertanyaan yang diajukannya lebih dari 45 tahun yang lalu itu, yaitu bahwa anak lelakinya ini tidaklah se-iseng dan se-gila yang diduganya [.]

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar