Dosenku Pacarku (58)


"Please don't tell me how the story ends"

Mau dengar lagunya, klik disini...

This could be our last goodnight together/We may never pass this way
again/ Just let me enjoy `til it's over or forever/Please don't tell
me how the story ends

See the way our shadows come together/Softer than your fingers on my
skin/ Someday this may be all that we'll remember of each
other/Please don't tell me how the story ends

( 2 X) Never's just the echo of forever/Lonesome as the love that
might have been
Just let me go on loving and believing `til it's over/Please don't
tell me how the story ends
Please don't tell me how the story ends......

======================= 57============
Magda mengangkat wajahnya menatapku, dia menggelengkan kepalanya, "
nggak bang, nggak lagi, biarlah kita tetap berhubungan sebagai teman
biasa. Bang, ayo kita tidur, nanti mami bangun." ujarnya sambil
melepaskan pelukannya.(Bersambung)
=======================================

Magda menuntunku kekamar, semangat ku hilang setelah dia menolak
niatku kembali merajut hubungan dengannya. Magda menghantarkan ku
hingga ketempat tidur, aku merebah tanpa gairah.

Kembali Magda membuat aku bingung, sebelum meninggalkan kamar, dia
mencium pipiku ku diiringi linangan air mata, kali ini tanpa
sepenggal kata.

Aku merasakan getarangan tangannya ketika memegang wajah ku sambil
mencium kening ku. Magda berlutut disisi tempat tidur, " bang maafkan
aku iya.!" pintanya sendu. Tak lama kemudian dia bangkit, dia kembali
mencium kening ku seraya berujar, " malam baik bang, selamat bermimpi
indah."

Sebelum meninggalkan ku, Magda menutupi seluruh tubuh ku dengan
selimut di iringi senyuman, tangannya melap air mata yang aku tak
sadari mengalir perlahan. Senyumannya berubah menjadi tangisan,
ketika meninggalkan kamar ku, sepertinya ada cetusan perasaan yang
tak dapat diungkapkannya.

Ah..seandainya aku bisa berjalan sempurna, tak akan kubiarkan dia
meninggalkan ku dengan linangan air mata. Magda menutup pintu kamar
ku, mulutnya menahan isak.

Aku tak habis pikir, apa yang dia tangisi. Ketika aku membujuknya
merajut kembali hubungan kami, dia menggelengkan kepala dan berkata,
tidak!. Ah..sebuah misteri cinta yang selalu muncul diantara suka dan
luka.

****
Aku tidak menemukan inang uda, mami Magda, ketika aku bangun dari
peraduan malam. Kini aku merasa tersiksa, karena tongkat ku ditinggal
di ruang teras. Aku meyusuri ruangan dengan tertatih-tatih, tangan ku
topangkan ke dinding sambil berambat menuju ruangan teras.

Tak lama kemudian, aku melihat Magda muncul di pintu kamarnya,
wajahnya kuyu sementara matanya masih tampak sembab, pakaiannya masih
sama seperti tadi malam.

Aku bersikap ramah dan menyapanya, " Ito, nggak jadi ke pasar ?"
tanyaku sambil melangkah menuju ruang teras. Segera Magda menyongsong
dan membantu ku, dia langsung memeluk tubuh ku yang hampir
sempoyongan.

"Ini semua gara-gara kamu." ujarku ketika dia menahan tubuh ku.
" Kenapa bang, kok pagi-pagi sudah marah?.
" Iyalah, tadi malam, tongkat kau suruh tinggalkan diteras, akhirnya
seperti ini, aku tersiksa."

"Kenapa nggak abang bangunkan Magda.?"
" Manalah aku tahu, jika Magda masih ada dikamar. Kalau aku tahu,
nggak usah di ketuk, aku langsung tidur bersama mu."

" Enak saja, memang aku ibu Susan."
" Memang bukan.! Tapi apa bedanya kamu dengan Susan, sama-sama
perempuan yang jatuh cinta kepada ku."

" Zung, nanti aku benar-benar lepaskan pegangannya."
" Terserah kamu, memang nasib orang lemah seperti ini, selalu
tertindas!"
" Oalah..bang, pagi-pagi kita sudah ribut. Kapan kita damainya
bang.!?"

" Jika, hati ketemu hati, mata ketemu mata, mulut ketemu... " sebelum
mengakihir kalimat ku, tiba-tiba tangannya membekap mulut ku.

" Nah kan ? Ini juga bentuk penindasan, bicarapun aku tak bebas,
mulut ku di bungkam, ekspresi di berangus." ucapku, setelah Magda
melepaskan tangannya dari mulutku. Aku mempererat peganganku di atas
bahunya. Magda menatap, dia masih memapahku hingga ke ruang teras.

" Sudah selesai "pidato"nya bang? ucapnya setelah aku duduk.
Magda permisi dan meninggalkan aku, "Aku mau mandi dulu bang."
ucapnya.

"Perlu ditemani ?" ujarku bergurau.
" Boleh bang, tapi abang jangan pakai tongkat dan kaki.!"
" Maksud mu apa.?"
" Abang boleh datang, terbang. Aku tungguin abang dikamar mandi.!"
jawabnya membalas gurauanku.

Ah....wajahnya kuyu, mata sembab, sepertinya hati masih berbunga-
bunga. Aku semakin bingung "menterjemahkan" semua kejadian sejak
tengah malam hingga pagi ini, ada apa diantara tangis dan tawa.?

( Bersambung)
Los angeles, October 16,2008

Tan Zung

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar