Dosenku Pacarku (53)


More than words

Mau dengar lagunya, klik disini...


Saying I love you/Is not the words I want to hear from you/It's not
that I want you not to say/But if you only knew/How easy /it would be
to show me how you feel/ More than words/Is all you have to do to
make it real/Then you wouldn't have to say
That you love me, yeah/Cause I'd already know.

What would you do (what would you do)/If my heart was torn in
two /More than words to show you feel
That your love for me is real/What would you say/If I took those
words away/Then you couldn't make things new/Just by saying I Love You
(Just saying I love you, saying I love you)/More than words/(Just
saying I love you, saying I love you)

Now that I've tried to (now that I've tried to)/Talk to you and make
you understand/All you have to do is
Close your eyes and just reach out your hand/And touch me/Hold me
close don't ever let me go/More than words/Is all you ever needed me
to show/Then you wouldn't have to say/That you love me, yeah/Cause I
already know/(Just saying I love you, saying I love you)/More than
words/[Repeat till fade]

==================== 52 ===================
Tetapi syukurlah, maminya tidak menyimak apa kata putrinya, Magda.
Hmm... dalam hatiku, tambah satu " peluru" selain tongkat, untuk
membayar utang "ketegaan" ku, dulu.(Bersambung)
================================

Mami Magda menanyakan kenapa lagi kaki ku. Aku menjawab dengan
berbohong sambil memelototin Magda, " Terpelintir ketika main bola
inang uda."

Mendengar jawabanku, Magda berlari berjingkat-jingkat masuk kerumah
sambil tertawa menutup mulutnya. Maminya membantu ku masuk kedalam
rumah, " Magda, bantu dulu ito/abang nya." seru mami Magda.

Magda segera kembali menemui aku dan maminya, wajahnya memerah
menahan tawa karena bohong ku. Kenapa Magda tertawa, ada yang lucu? "
tanya maminya sambil menuntunku.

" Nggak mam, aku tertawa karena tadi abang bilang kakinya terpelintir
karena main bola." jawabnya, Magda ikut menuntunku dari sisi kiri.

Aku "gemetaran" juga menunggu lanjutan jawabannya, jangan-jangan
Magda membuka tabir kebohonganku lagi, sekaligus membalaskan rasa
sakit hati dan dendamnya.? Tapi, apa iya dia tega "mencabik-cabik" ku
dihadapan maminya.?" Aku cubit pinggulnya pelan, isyarat, tolong
jangan permalukan aku.

" Kenapa ketawa kau inang, itonya sedang sakit malah ketawa?"
" Aku tertawa, karena abang "nggak tahu diri" mam."

" Apanya mulut kau itu, sama ito kok ngomongnya sembarangan,!" tegur
maminya.
" Iyalah mam, abang kan belum lama mengalami kecelakaan, kaki abang
belum pulih benar, kok malah main bola.!?"

Huhhh...hati ku lega, aku mengira, Magda akan mengahabisi ku dengan
membuka tabir kebohongan ku, "good job" Magda dalam hatiku. Kalau
saja inang uda, maminya Magda, tak disampingku, sudah pasti aku
hadiahi dia satu ciuman di pipinya, sebagai ucapan terimakasih.
***
Magda menyediakan makan malam kami bertiga- inang uda, aku dan
Magda. "Adik mu Jontahan sudah dua hari dirumah om dokter," ucap
inang uda ketika kami duduk di meja makan.

Aku mencoba "mengungkit" kenangan lama ketika almarhum ayah Magda
mengajak ku makan malam dimeja yang sama, "inang uda nggak ada
arsik," tanyaku sambil tertawa.

" Oala si abang, nyari yang ngga ada. Memang masaknya gampang, "
selah Magda.

" Besoklah amang iya, aku masak arsik. Magda, besok pagi kau belanja,
itonya mau makan arsik."
" Nggak ah, aku banyak kerjaan, kok abang ngerepotin.?"
" Magda, kau keterlaluan. Kan ito mu baru sekali ini minta." ucapnya
marah.

" Inag uda, aku cuma bercanda, lain kali saja, lagi, aku lusa mau
pulang, ibu ku pintar masak arsik kok." ujar ku.

" Idihh... langsung merajuk. Iya..iya ito eh..abang aku besok
belanja, aku akan beli ikan mas segudang.!" ucap Magda sambil
mendekatkan wajahnya ke arahku, disambut tawa
maminya,"eeehh...borungkon/putriku" ini.

" Malam ini, disini saja tidur amang, adik mu Jonathan baru pulang
besok lusa," ujar mami Magda.
" Bang, tempat tidur Jonathan berantakan, abang rapihkan sendiri."
sela Magda.

" Nggak usah dengarin dia amang, banyak kali "cengkunek" ito mu itu."
ucap maminya.
" Mam, lihat abang itu, makannya nggak selera, pikirannya melayang
entah keman-mana. Benar kan bang?" ucapnya centil.

" Sesekali marahin ito mu itu, kalau keterlaluan." ujar maminya
dengan mimik serius.

" Manalah aku berani"macam-macam" kepada abang itu kalau mam nggak
ada disini, ditimpuknya pula aku." ucapnya diiringi tawa berderai.

Aku hanya tersenyum menikmati percikan air dan aliran sungai yang
baru saja meliuk "membelah" jantungku, sejuk, sepertinya juga dengan
Magda.

Sementara kami menikmati makan malam diselingi percakapan ringan,aku
ingin segera kami bubar dari meja makan. Aku sedang berpikir
bagaimana aku mengajak Magda ke teras, berbicara sekaligus"memarahi"
karena ulahnya mengungkap kisah kasih ku dengan Susan kepada maminya.

Dering telephon mengakhiri percakapan sekaligus makan malam kami.
Mami Magda meninggalkan kami menjawab telephon. Aku memohon Magda
memapah ku ke teras, meski sebenarnya aku bisa berjalan sendiri
dibantu dengan tongkat.

" Magda tolong bantu aku ke teras, mau merokok sebelum tidur,"
ujarku. Sebenarnya aku nggak pernah menyentuh rokok lagi sejak dia
melarangku beberapa tahun sebelum hubungan kami putus. Aku hanya mau
memainkan "bola"yang sudah diumpannya melambung.

( Bersambung)

Los angeles, October 14,2008

Tan Zung

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar