Dosenku Pacarku (52)


"All Coming Back To Me"

Mau dengar lagunya, klik disini....

There were nights when the wind was so cold/That my body froze in
bed/If I just listened to it/Right outside the window
There were days when the sun was so cruel/That all the tears turned
to dust/And I just knew my eyes were/Drying up forever /I finished
crying in the instant that you left/And I can't remember where/or
when or how/And I banished every memory/you and I had ever made

But when you touch me like this/And you hold me like that/I just have
to admit/That it's all coming back to me

When I touch you like this/And I hold you like that/It's so hard to
believe but/It's all coming back to me/(It's all coming back, it's
all coming back to me now)

There were moments of gold/And there were flashes of light/There were
things I'd never do again
But then they'd always seemed right/There were nights of endless
pleasure/It was more than any laws allow
Baby Baby

If I kiss you like this/And you whisper like that/It was lost long
ago/But it's all coming back to me/If you want me like this/And if
you need me like that/It was dead long ago/But it's all coming back
to me/It's so hard to resist

And it's all coming back to me/I can barely recall/But it's all
coming back to me now/But it's all coming back
There were those empty threats and/hollow lies/And whenever you tried
to hurt me................

======================== 51 ================
Semangatku pulih seketika mendengar ajakannya, tak percuma mandi
disungai meski medatangkan malapetaka, dari sana inspirasi ku
muncul "melumpuhkan" hati mantan kekasihku. Oh...sungai....(selesai)
==========================================

"Nggak apa-apa, kayaknya kaki ku langsung sembuh, tapi tolong aku
bantu bangkit dari tempat tidur ini" ucapku ku bersemangat.

" Lho, katanya nggak apa-apa, kok malah minta tolong. Gaya abang dari
dulu tak berubah, sok menjeng, padahal sudah berteman dengan ibu-
ibu," ujarnya sambil meraih pergelangan tanganku.

" Manalah bisa langsung berubah, dari lima tahun dengan mu ke tiga
minggu dengan ibu Susan," ujar ku menggoda.
" Bang....yang sudah..sudahlah, nggak usah diingat lagi."
" Hanya itu yang aku ingat sekarang, entahlah nanti masih ada yang
tersisa dala sel otak ku."

" Semua serba salah sama abang, di diamin dibilang aku masih marah,
disahutin, malah ngelantur kemana-mana." ujarnya, tangannya memegang
tubuhku pada posisi berdiri.

" Ngelantur? Nggak juga, aku masih dalam jalur. Aku hanya
mengingatkan saja. Magda mersa risih atau malu diingatkan? tokh nggak
ada yang dengar."

" Ada bang."
" Siapa ?"
"Tongkat ini." jawabnya ketawa sambil menyerahkan tongkat penyanggah
kaki ku.

" Hei tongkat, kaulah jadi saksi apa yang aku dan Magda bicarakan,
dikamar ini. Cukup simpan dalam hatimu, tak usah berbicara kepada
siapapun, kecuali kepada teman perempuan ku yang masih ada disini,
itupun kalau diminta.

Meski aku dan kau tongkat baru bersahabat puluhan jam, engkau tahu
apa dalam hatiku sejak siang tadi bukan?. Kau mendampingi ku ditempat
tidur ini dan kau menjadi saksi ketika aku memeluk bingkisan dari
seseorang yang pernah aku kasihi dan sakiti, kepada mama tuanya yang
adalah ibu ku.

Tongkat, kau pastilah melihat ku, merenung dan mengeluarkan air mata
hingga membasahi bantal ku, aku yakin itu, kau melihat ku menitikkan
air mata meski tidak diringi sedu-sedan, bukan.?!"

Magda terduduk dipingir tempat tidur, setelah mendengar "pat gulipat
ku", ternyata masih manjur.

" Abang, maunya apa ?" tanyanya lembut sambil duduk disisi tempat
tidurku.
" Nggak apa-apa, aku cuma bicara kepada "sahabat" setia yang baru
terjalin puluhan jam, tongkat ini. Dia tak pernah berontak dan marah
apalagi dendam, meski aku antukkan ke benda keras, padahal dia telah
banyak membantu ku."

" Zung, aku nggak mengerti maunya abang apa !?" Kok bicaranya harus
melalui tongkat itu?"

" Tanyalah tongkat ini, dia akan bercerita banyak terhadap mu.!"
jawabku hampir memeluknya. Tapi aku takut dia langsung pulang
meninggalkan ku dan tongkat " media" baru bagi ku. Bak kata "bandit
Siantar men", kapas pun bisa jadi duit untuk bayar utang, apalagi
tongkat.????

" Zung, jadi ikut kerumah nggak.?" tanyanya sambil berdiri memegang
lengan ku.
" Ayolah, dari tadi aku dan tongkat ku sudah siap, Magda malah duduk,
kayak menungggu sesuatu."

" Halah..abang ngaco. Abang, permisi dulu sama ibu itu." usulnya
sambil membantu langkah ku keluar dari kamar.
Tante/Bibi menghantarkan aku dan Magda ke halaman rumah diiringi
senyuman "usil".

"Hati-hati bapa dijalan, nanti bapa nginap? Jangan lupa bawa
tongkatnya pulang," ujarnya iseng, entah apa pula maksudnya.
Magda setuju usulanku, aku duduk diatas boncengan.

Sepanjang perjalanan menuju rumahnya,aku tak berani
memegang "gonting"nya, aku serba kikuk, pegang sisi pahanya aku belum
berani, terpaksalah aku duduk kaku di atas boncengan motornya.
Aku menundukkan kepala, lebih tepatnya , menyembunyikan kepala
dibelakang tengkuknya, malu dilihatin orang, sepertinya aku baru
merasakan naik motor, kaku.
*****
Inang uda, maminya Magda, menyambutku diteras samping rumahnya. "
Kenapa lagi kau amang/nak" tanyanya sambil memelukku. Aku terharu
atas sambutannya.

" Apa khabar angkang/kakak dikampung. Bagaimana skripsi mu, sudah
selesai?"
Magda langsung menyambar pertanyaan maminya, " Sudah pasti selesailah
mam, sekarang abang bersahabat akrab dengan ibu dosen kami, ibu itu
juga dosen pembimbingnya si abang.!" ucapnya sambil menatap ku
diiringi senyuman.

Aku terdiam, kaget luar biasa. Magda membuka aib ku kepada maminya.
Tetapi syukurlah, maminya tidak menyimak apa kata putrinya, Magda.

Hmm... dalam hatiku, tambah satu " peluru" selain tongkat, untuk
menebus "dosa"ku, dulu.(Bersambung)

Los angeles, October 14,2008

Tan Zung

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar