Dosenku Pacarku (47)


All You Need Is Love - Movie Mix

Mau dengar lagunya, klik disini...


Love, love, love./Love, love, love./Love, love, love.
There's nothing you can do that can't be done./Nothing you can sing
that can't be sung./Nothing you can say but you can learn how to play
the game./It's easy.

Nothing you can make that can't be made./No one you can save that
can't be saved./Nothing you can do but you can learn how to be you in
time./It's easy.
All you need is love./All you need is love./All you need is love,
love./Love is all you need.

All you need is love./All you need is love./All you need is love,
love./Love is all you need.
Nothing you can know that isn't known./Nothing you can see that isn't
shown.
Nowhere you can be that isn't where you're meant to be./It's easy.

All you need is love./All you need is love./All you need is love,
love./Love is all you need.

All you need is love (all together, now!)/All you need is love.
(everybody!)/All you need is love, love.
Love is all you need (love is all you need).
Yee-hai!/Oh yeah!/She loves you, yeah yeah yeah./She loves you, yeah
yeah yeah.

=================== 46 =============
Mendengar aku berkata"mertua" Susan langsung berdiri dari kursinya
dan mendekap ku seraya memutar wajah ku menghadap wajahnya mata
berbinar, mulutnya berujar, " Zung, sayang, abang belum sempat
mengenal ayahku," ucapnya dengan bibir bergetar. ( Bersambung)
=====================================

Selesai makan, Susan meninggalkanku sendirian di meja makan. Tidak
lama kemudian Susan keluar dari kamar dengan pakaian celana pendek
dan t-shirt.

Kali pertama Susan berani "mempertontonkan" kemolekan tubuhnya di
hadapanku dengan pakaian minim. Tanpa sepengetahuanku, Susan juga
sudah menyiapkan pakaian yang sama seperti yang dia kenakan, "Zung,
ganti pakaianya, aku sudah siapkan dikamar," ujarnya.

Kami menelusuri jalan kecil menuju sungai bening yang terbentang luas
mengalir membentur batu-batu besar, meliuk diantara akar pohon besar
yang tumbuh dipinggir sungai. Sambil berlari kecil, Susan meraih
tanganku dan melingkarkan di atas pinggulnya. Sesekali dai menatapku
dan mendaratkan bibirnya di pipiku.

Susan menghentikan langkahnya di tepi sungai, kembali menatapku,
tangannya diletakkan diatas pundakku. Meski baru dalam hitungan
minggu bersahabat dengannya, sedikit, aku telah paham "body
langguage"nya. Segera aku angkat tubuhnya dalam pelukanku sembari
melangkah menuju ke dalam sungai.

Beberapa pasang mata memperhatikan tingkah anak manusia yang sedang
merajut kasih, aku dan Susan. Ibu Rukiah tersenyum menatap kami dari
seberang sungai sambil menuntun bocahnya meninggalkan kami yang
sedang "menenun" kasih di tengah dinginnya sungai mengalir.

Susan masih dalam pangkuanku, aku memilih tempat diatas akar kokoh
yang menopang pohon besar. Susan enggan melepaskan tanggannya dari
atas pundakku. Aku duduk diatas akar pohon sementara Susan masih
bergelayut manja dalam pelukan.

"Susan, kamu nggak malu dilihatin banyak orang dari seberang sana,?"
tanyaku. Susan hanya menggelengkan kepala perlahan kemudian memagut
daguku. Aku akhiri "sesi" ini dengan melepaskan tanganku, tubuhnya
tercebur kesungai. Aku segera melompat kearahnya sebelum dia
mengumpat, marah.

Sementara dia gelegapan dalam sungai, aku mengangkat tubuhnya ke atas
pelukanku. Wajahnya merengut, tangannya memukul-mukul dadaku, "Zung
nakal," ujarnya. Kembali aku benamkan tubuhnya kedalam sungai, aku
melepaskan tanganku sembari meninggalkan Susan, berenang menjauhinya.

Susan berteriak ditingkahi batuk karena kerongkongannya keselak air
masuk melalui mulutnya, " Bang aku kedinginan," teriaknya sambil
mengangkat kedua tangannya minta tolong. Aku biarkan dia sendirian,
aku duduk diatas batu besar ditengah sungai.

Susan terus berteriak meminta tolong keluar dari sungai. Aku balas
teriak, " berusahalah sendiri, hidup harus ada perjuangan," jawabku
dalam gurauan.

Susan mengomel sambil melangkah keluar menuju akar pohon, dia duduk
kedinginan mengibas-ngibaskan rambutnya tanpa menolehku. Aku merasa
puas "mempermainkan" nya, aku juga merasa geli melihat tingkah Susan
yang sehariannya adalah dosen ku.

Aku bangkit dari batu besar tempatku duduk berjalan menuju pinggir
sungai meninggalkan Susan masih duduk di atas akar pohon. Susan terus
berteriak memanggil, aku terus melangkah tanpa menolehnya.

Susan menyusul, berlari terseok-seok tertahan arus sungai. Kali ini
Susan berteriak agak keras memanggil, " Zung, tunggu, abang mau
kemana? Tunggu Susan bang."

Aku terus melangkah meninggalkannya dengan perasaan geli, dalam
hatiku, Susan memang benar-benar "jatuh menggelepar" pada diri ku.
Aku tak tega mendengar teriakannya berulang memanggil ku. Aku
menghentikan langkah sambil memutar tubuh menoleh kearahnya yang
sedang berlari kecil.

Ketika aku melangkah hendak menyongsongnya, kaki kananku terbentur
dengan batu kecil, aku jatuh terjerembab kedalam air. Aku berteriak
menahan rasa sakit di pergelangan kaki, bekas korban kecelakaan
lalulintas, dulu. Akh....aku menyesal"mempermainkan" Susan. Hanya
sesaat, aku telah menerima "karma", kataku dalam hati.

Aku mendengar gemercik air mengiringi langkah Susan yang semakin
cepat menemuiku yang masih mengaduh menahan rasa sakit. Aku menggapai
batu dengan kedua tanganku dibantu dorongan kaki kiri ku.

Susan segera mengangkat tubuh ku dari dalam sungai, meliingkarkan
tangan ku keatas bahunya. Susan meringis mendengar jeritanku menahan
rasa sakit.

Perlahan Susan mendudukan ku ke atas batu tempat duduk ku sebelumnya,
sementara Susan duduk diatas batu kecil menghadap ku. Dia mengusap
kelopak mataku yang berurai airmata dengan kedua telapak tangannya.

Susan meluruskan kakiku di atas kedua pahanya sembari mengurut
telapak dan jari kaki ku. (Bersambung)

Laughlin, Nevada. Oct 8,2008

Tan Zung




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar