Dosenku Pacarku (46)


Better In Time

Mau dengar lagunya, klik disini....

It's been the longest winter without you/ I didn't know where to turn
to /See somehow I can't forget you
After all that we've been through/Going coming thought I heard a
knock/Who's there no one/Thinking that I deserve it
Now I realize that I really didn't know/If you didn't notice you mean
everything /Quickly I'm learning to love again/All I know is I'ma be
ok
[Chorus:]
Thought I couldn't live without you/It's gonna hurt when it heals
too/It'll all get better in time
And even though I really love you/I'm gonna smile cause I deserve
to /It'll all get better in time

I couldn't turn on the TV/Without something there to remind me /Was
it all that easy/To just put aside your feelings
If I'm dreaming don't wanna laugh/Hurt my feelings but that's the
past/I believe it/And I know that time will heal it
If you didn't notice boy you meant everything/Quickly I'm learning to
love again/All I know is I'ma be ok
[Chorus:]
Thought I couldn't live without you/It's gonna hurt when it heals
too/It'll all get better in time
And even though I really love you/I'm gonna smile cause I deserve
to /It'll all get better in time

Since there's no more you and me/It's time I let you go /So I can be
free/ And live my life how it should be /No matter how hard it is
I'll be fine without you/Yes I will
[Chorus: x2]
Thought I couldn't live without you/It's gonna hurt when it heals
too/It'll all get better in time/And even though I really love
you/I'm gonna smile cause I deserve to /It'll all get better in time

===============45 ======================
Segera dia memutar tubuhnya menghadapku, suaranya manja, " bang
belum sekarang." Susan merangkul ku erat sekali, dan mengulang
ucapannya, " belum sekarang bang." Waduuh, aku cuma bercanda, kok
ditanggapi serius? Mati aku.
" Kok, Susan serius, aku hanya bercanda." ujarku.
" Aku serius bang.!" jawabnya belum melepaskan pelukannya.

=======================================
" Zung, kita pakai mobil suamiku saja, jalan menuju kesana banyak
kubangan,"ujarnya seraya menyerahkan kunci mobil "Land Cruiser".

Sebelum kami tiba, Susan menyuruhku menghentikan mobil disisi bahu
jalan,"tunggu sebentar bang, aku mau mengambil kunci rumah," ujarnya.
Aku dan Susan menuju rumah sederhana, disambut seorang perempuan usia
paruh baya.

"Selama ini, mereka sudah bertahun-tahun mengurus kebun dan rumah
peninggalan ayah. Entah mengapa suamiku tak pernah mau diajak
ketempat ini." ujarnya.

" Kapan Susan terakhir kesini,? tanyaku, sementara Susan membuka
pintu.
" Sejak ayah meninggal, ini kali pertama aku berkunjung kesini,
kecuali ibu sekali dua minggu masih tetap berkunjung."ujarnya dengan
suara tersendat.

"Susan kita kisini mau melanjutkan semaian kasih yang sedang
bergelora, bukan untuk menukil masa lalu."
" Iya Zung, maaf aku terbawa perasaan, " ujarnya, bibirnya menyapu
suara tersendat.

Susan menuntunku ke sebuah kamar, tampaknya tempat tidur dan "bed
cover" baru terpasang, semerbak wangi menyembul dari dalam kamar.
Susan merebahkan tubuhnya diatas kasur tempat tidur, membiarkan aku
berdiri menatap sekeliling ruangan.

" Puluhan tahun lalu, kamar ini , tempat aku, ayah dan ibu melepaskan
lelah setelah kami selesai "menjelajahi" kebun dan mandi bersama di
sungai yang baru saja kita lewati. Zung, kesini rebahan, abang
tampaknya letih."

Suasana rumah mungil dan kamar hampir melupakan "pesan moral ibuku".
Susan mengingatkanku ketika berahi melampaui akalku. " Zung, jangan.!
Bukan sekarang bang. Aku akan memberi segalanya pada waktunya."
ujarnya, sambil memelukku dan menciumku penuh kehangatan. Kali ini
aku hampir "kalah".

Ibu Rukiah,yang merawat rumah dan kebun, datang menyusul membawa
sejumlah bungkusan, " Neng Susan, aku sudah siapkan makanan dimeja."
teriaknya dari ruang makan.

Aku bergegas bangkit dari tempat tidur, tetapi Susan menahanku seraya
bertanya , " Zung, aku mencintaimu dengan sepenuh hati ku. Apakah
abang mencintaiku?"

" Iya Susan, aku mencintaimu, tetapi aku bingung kenapa aku mencintai
seorang perempuan yang telah mempunyai suami.?"
" Zung, aku telah mengutarakan semua kisah pernikahanku dengan
suamiku ."

" Iya, tetapi Susan masih terikat pernikahan dengannya. Bagaimanapun
aku harus menghargai ikatan itu."

Susan diam, matanya menatap hampa langit-langit kamar, tangannya
melepaskan pelukannya dari tubuhku. Aku segera mengakhiri kekakuan
dengan membalikkan tubuhku menghadapnya seraya berbisik di
telinganya, " Susan, aku akan segera menikahimu setelah Susan resmi
bercerai dengan suamimu."

Susan membalas dekapan ku erat seakan tak mau melepaskan. " Zung, aku
akan meminta cerai setelah dia kembali dari London. Seperti aku
ceritakan sebelumnya, suamiku ( dulu) ingin memulangkan aku kerumah
ibu, tetapi ketika itu aku masih menolak, aku tidak tega. Bang, nanti
setelah kita menikah, kita akan berbulan madu ke California, mau kan
abang.?"

"Jangankan ke California, ke bulanpun aku mau." jawab ku bergurau.

Kembali ibu Rukiah mengingatkan kami, jika makanannya telah sedia.
Susan melepaskan dekapannya turun dari tempat tidur mendahului ku,
dia berlagak mengangkat tubuh ku dari tempat tidur," bang ayo makan,"
ujarnya sembari ketawa.

Seperti biasanya, Susan mengisi piring dan gelasku, dia duduk persis
di sebelah ku. Sembari menikmati makanan siang dia mengutarakan
rencana kedepan bila nanti kami menikah, mulai dari jumlah anak
hingga pekerjaan setelah aku di wisuda.

Pada akhir tuturan rencananya, dia bertanya, " bagaimana bang, setuju
kita cukup punya anak dua? Zung, mau kan bekerja ditempat ayah
bekerja di masa hidupnya?"

Aku hanya mengangguk-anggukan kepala. Susan mencubit pahaku minta
jawaban pasti, " Zung, aku nggak suka cara abang menjawab pertanyaan
ku. Ayo bang, jawablah, kita cukup punya dua anak, dan abang mau
bekerja ditempat alamarhum ayah bekerja.?"

" Iya, dua belas anakpun aku setuju dan mau bekerja di perusahaan
tempat ayahmu-mertuaku- bekerja."
Mendengar aku berkata"mertua" Susan langsung berdiri dari kursinya
dan mendekap ku seraya memutar wajah ku menghadap wajahnya matanya
binar, mulutnya berujar, " Zung, sayang, abang belum sempat mengenal
ayahku," ucapnya dengan bibir bergetar. ( Bersambung)

Laughlin, Nevada. Oct 8,2008
Tan Zung

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar