Dosenku Pacarku (49)


"Every Little Thing You Do"

Mau dengar lagunya, klik disini....

Hello, let me know if you hear me /Hello, if you want to be near /Let
me know /And I'll never let you go
Hey love /When you ask what I feel, I say love /When you ask how I
know /I say trust /And if that's not enough
[ Chorus ]
It's every little thing you do /That makes me fall in love with
you /There isn't a way that I can show you /Ever since I've come to
know you
It's every little thing you say /That makes me wanna feel this
way /There's not a thing that I can point to /'Cause it's every
little thing you do
Don't ask why /Let's just feel what we feel /'Cause sometimes /It's
the secret that keeps it alive /But if you need a reason why

Is it your smile or your /laugh or your heart? /Does it really matter
why I love you? /Anywhere there's a crowd, you stand out
Can't you see why they can't ignore you /If you wanna know /Why I
can't let go /Let me explain to you
That every little dream comes true /With every little thing you do
[ Chorus X2 ]

=========================== 48 =====================
Kembali suara ibu Rukiah memanggil Susan dan memberitahu jika air
panasnya telah tersedia. " Bang sebentar aku persiapkan permandian
mu." ucapnya sambil meninggalkan ku.( Bersambung)
============================================

Susan dan Rukiah memapah ku ke kamar mandi. Aku menolak ketika Susan
menanyakan bila aku perlu dibantu, meski sebenarnya aku membutuhkan
bantuannya, " Zung, perlu dibantu?" tanya Susan setelah Rukiah
meninggalkan kami.

Susan menggedor pintu setelah beberapa lama dia tidak mendengar
percikan air dikamar mandi. Entah kenapa tanganku kurang kuat
mengangkat gayung membasahi tubuh. Aku terduduk di kursi yang di
sediakan Susan, mengerang kesakitan. Dia menggedor ulang seraya
menyuruh ku membuka pintunya.

Buru-buru ku membasahi wajah "menutupi" kelopak mata yang
mengeluarkan cairan menahan sakit. Susan segera menahan tubuh ku yang
hampir terjatuh setelah pintu ku bukakan. " Aku tadi tanya kalau mau
dibantu, abang menolak," ujarnya kesal sambil mendudukan ku diatas
kursi.

" Susan, aku kedinginan," ujarku, menolak secara halus "uluran
tangannya" memandikan ku.Susan memapahku ke kamar tidur setelah melap
sebahagian tubuh ku. Susan tidak keberatan ketika aku mengajak pulang
dan mampir di"klinik" pak Ginting yang merawatku beberapa bulan lalu
ketika aku mengalami kecelakaan.

Susan heran dan enggan turun dari mobil ketika kami tiba di depan
rumah pak Ginting, " bang, kita kerumah sakit saja," ajaknya. Aku
jelaskan, bahwa pemilik rumah ini adalah " dokter spesial tulang"
yang telah merawat ku ketika mengalami dua kali kecelakaan.

Pak Ginting dan isterinya menyongsong ku ke halaman rumah sambil
membawa tongkat penyanggah. "Kenapa lagi kau nak?" tanya ibu Ginting
dengan wajah prihatin.

Aku menyuruh Susan meninggalkan ku setelah melihat rasa enggannya
masuk ke rumah pak Ginting, " Susan pulang saja, aku nanti diantar
pulang sama mereka," ujarku pelan ketika pak Ginting mengemasi
ramuannya di dapur.

" Pukul berapa abang aku jemput.?"
" Tidak usah dijemput, nanti aku ditemani sama pak Ginting, mungkin
aku sampai besok disini," ujarku kesal, suara ku agak meninggi.

" Tidak usah menginap nak, nanti malam juga sudah bisa pulang,"
sahut pak Ginting dari dapur.

Susan merasakan rasa dongkol ku, "abang kok marah,?" tanyanya pelan.
Pak Ginting menyela percakapan kami, sebelum aku menjawab Susan, "
Yang ini yang ke berapa nak ku," tanyanya ketawa dalam bahasa daerah,
sambil membawa obat ramuannya.

"Tellu/tiga pak," jawab ku ketawa. Aku teringat pertanyaan yang sama
diajukan pak Ginting, ketika Magdalena dan Mawar bergantian merawat
ku dirumahnya,dulu.

Ibu Ginting yang mendengar percakapan kami, menasehati ku ketika aku
mengatakan, Susan adalah "serap".

Dengan bahasa daerah, segera aku minta maaf kepada ibu atas
kelancangan ku meski itu hanya gurauan, sementara pak Ginting
tersenyum seraya mengurut kaki ku.

Aku menjerit kesakitan ketika pak Ginting mengurut kaki ku,
sementara Ibu terus mengajak ku ngobrol untuk mengalihkan rasa sakit.
Aku melihat wajah Susan meringis, manik-manik bening menetes dari
kedua matanya, tangannya melap peluh di wajahku.

Susan duduk diatas dipan setelah minta ijin dari pak Ginting. Dia
mengangkat kepalaku ke atas kedua pahanya sambil mengusap kening dan
wajahku.

Susan memegang erat tanganku ketika aku berteriak menahan pijatan
tangan pak Ginting. Sepertinya aku kehabisan nafas menahan rasa
sakit; "ini yang terakhir," ujar pak Ginting mengakhiri pijatannya.

Pijatan terakhir ini menguras habis tenaga ku. Aku terkulai lemah
diatas pangkuan Susan; dia tidak merasa sungkan menciumi ku seraya
menahan isak, dihadapan pak Ginting dan isterinya.

"Dia nggak apa-apa nak. Sakitnya hanya sebentar, biarkan dulu dia
tidur sejenak, " ujar pak Ginting kepada Susan yang masih terus
mengelus-elus kening dan pipi ku.
" Zung, kita pulang, tidur dirumah ya bang," bisiknya ke telingaku.

Pak Ginting kembali kedapur, dia menyeduh jamu, " nak, minum ini
untuk mengembalikan tenaga mu," ujarnya.

Sejam kemudian, pak Ginting mengijinkan aku pulang. Sebelum
meninggalkan "klinik", Susan berbisik menanyakan ku berapa yang harus
dibayar sebagai balas jasa pak Ginting. Susan menyalamkan ketangan
pak Ginting, duakali lipat dari jumlah yang aku sebutkan.( Bersambung)

Los Angeles. Oct 9,2008
Tan Zung

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar