Dosenku Pacarku (45)


"when you love someone"

Mau dengar lagunya, klik disini...

When you love someone - you'll do anything /you'll do all the
crazy /things that you can't explain
you'll shoot the moon - put out the sun /when you love someone

you'll deny the truth - believe a lie /there'll be times that
you'll /believe you can really fly
but your lonely nights - have just begun /when you love someone

when you love someone - you'll feel it deep inside /and nothin'
else /can ever change your mind
when you want someone - when you need someone /when you love
someone...

when you love someone - you'll sacrifice /you'd give it
everything /you got and you won't think twice
you'd risk it all - no matter what may come /when you love someone...
yeah
you'll shoot the moon - put out the sun /when you love someone

================ 45 ============
Aku menggoda Susan, mengajak mandi bersama--padahal aku lihat dia
sudah mandi dan berdandan rapi, "Susan, ayo temani aku mandi." ajakku.
Susan tidak menanggapiku, hanya senyum sambil setengah
berteriak, "Zung...buruan aku sudah lapar." ( Bersambung)
=================================

Segera aku berlari menuju kamar mandi......akh..lagi-lagi
Susan "berzakat". Sepasang pakaian --jeans dan t-shirt- digantung
dikamar mandi. Dari kamar mandi aku berteriak, " Susan, pakaian ini
untuk siapa, untuk suami atau untuk pacar.?"

Susan menjawab dengan teriakan pula, untuk " mahasiswaku, pacarku.!"
Susan telah menungguku dimeja makan, dia tersenyum melihat pakaian
yang aku kenakan. "Zung, kita serapan sekedarnya, aku capek nggak
sempat masak, nanti siang kita makan diluar." ujarnya.
"Pembantu dimana."
" Ada, ada perlu apa cariin dia.?"
" Kenapa bukan dia yang masak.?"
" Nggak boleh, dirumah ini hanya aku yang dapat melayani abang,
spesial.!"

" Spesial...? nggak juga, kemarin aku mau masukin mobil yang buka
grasi pembantumu.!"
" Zung, masa tega, aku yang buka grasi.?" ucapnya tertawa.
****
TUTURAN kisah Susan, mengubah prasangka buruk terhadapnya yang selama
ini melekat dalam diriku. Kisah Susan yang masih terekam segar dalam
benakku hampir mengurungkan niatku pulang kampung, sebagaimana usul
Magdalena, menjauhi Susan sekaligus melupakannya.

Aku ingin menceritakan, sekedarnya, ikhwal kisah Susan kepada Magda
dan Mawar, walau Susan telah mengingatkanku agar tidak menceritakan
kepada siapapun. Harapanku, Magda dan Mawar dapat mengubah "stigma"
binal terhadap Susan.

Suasana pagi hingga siang mengukir kesan tersendiri bagi diriku, juga
dengan Susan, meski aku dan dia menghabiskan waktu hanya dengan
sendagurau, kadangkala Susan bergelayut manja dipangkuanku. Sikapku
berubah drastis sejak mendengar kisahnya. Perasaan seakan tidak lagi
bersahabat dengan seorang "ibu".

Setelah kami puas bercengkerma dirumah, Susan mengajakku ke suatu
desa yang aku belum pernah kujalani.
" Zung masih merasa capek? Kita jalan kesana yuk?" ajaknya,
sambil,bergegas masuk kedalam kamarnya.

Susan memanggilku dari dalam kamarnya, " Zung, sebentar kesini,
bantuin aku."
Segera aku berlari kecil menemuinya dikamar, " Apa yang perlu
kubantu.?" tanyaku sembari melihatnya berdiri didepan lemari
pakaiannya.

" Pilih bang, warna apa yang abang suka aku kenakan siang ini,?"
ujarnya sambil memilah-milah pakaiannya dalam lemari.
" Semuanya bagus, terserah Susan yang mana."

" Nggak bang, mesti abang yang pilih," bujuknya manja.
Aku pilih gaun berwarna biru, mirip gaun Magda. Susan ketawa
cekikian atas pilihanku, " Zung kita bukan mau kepesta.!"

" Tadi aku bilang terserah kamu, tetapi kamu paksa aku memilih.
Setelah aku pilih, kamu tertawa ngenyek," kataku sambil
meninggalkannya.

Buru -buru Susan menahanku, " Bang...nggak aci merajuk. Iya..aku
akan pakai pilihan abang, tetapi jangan pergi dulu." pintanya.
" Masa aku lihatin kamu ganti pakaian."?
" Bukan, boleh aku bawa pakain satu lagi.?"
" Terserah, bawa satu koper juga nggak apa-apa kok, sekalian kita
kawin lari." balasku bercanda.

Segera dia memutar tubuhnya menghadapku, suaranya manja, " bang belum
sekarang." Susan merangkul ku erat sekali, dan mengulang ucapannya, "
belum sekarang bang."

Waduuh, aku cuma bercanda, kok ditanggapi serius? Mati aku.
" Kok, Susan serius, aku hanya bercanda." ujarku.
" Aku serius bang.!" jawabnya belum melepaskan pelukannya.

Los Angeles. September 25, 2008
Tan Zung




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar