Dosenku Pacarku (56)


"I knew I loved you"

Mau dengar lagunya, klik disini...

Maybe it's intuition/But some things you just don't question/Like in
your eyes/I see my future in an instant
And there it goes/I think I've found my best friend/I know that it
might sound more than a little crazy/But I believe

I knew I loved you before I met you/I think I dreamed you into life/I
knew I loved you before I met you/I have been waiting all my life

There's just no rhyme or reason/Only this sense of completion/And in
your eyes/I see the missing pieces
I'm searching for/I think I've found my way home/I know that it might
sound more than a little crazy/But I believe

I knew I loved you before I met you/I think I dreamed you into life/I
knew I loved you before I met you
I have been waiting all my life/(add the whos here)
A thousand angels dance around you/I am complete now that I've found
you/(and the whos here)

I knew I loved you before I met you/I think I dreamed you into life/I
knew I loved you before I met you
I have been waiting all my life/(and the whos here)
Repeat chorus 3x with chorus

=================55 =================
" Magda, kau keterlaluan, Aku bukan buaya dan Susan bukan bangkai.
Aku dan dia manusia waras." kataku sengit
" Nggak, kalian berdua manusia pesong." ucapnya tak kalah sengit.
===================================

Mendengar suara gaduh di teras, mami Magda membuka jendela,
menjulurkan kepalanya kearah kami, "apa yang kalian ributkan.!?"
Magda diam, takut didamprat lagi, soalnya malam ini aku
jadi "bintang" dirumah Magda.

Aku menjawab inang uda, maminya Magda, " Aku tadi cerita buaya inang
uda, Magda langsung berteriak ketakutan." ucapku, sementara kaki
Magda menendang keras tumit ku dibawah meja, takut aku
melaporkan "kenakalan" nya.

" Dimana , kenapa buayanya," tanya maminya.
" Di Sungai Deli, kemarin sore ditangkap ramai-ramai oleh warga
setelah diumpan dengan bangkai kucing." jawab ku. Kulihat wajah Magda
lega diakhir ceritaku kepada maminya.

" Magda, suara mu jangan terlalu keras, ini sudah larut malam," ingat
maminya.
Magda menundukkan kepalanya diatas meja sambil ketawa, setelah
maminya menutup jendela. Tiba-tiba tangannya mencubit tanganku, "
abang kok bisa secepat itu mengarang cerita," ucapnya masih tertawa.

" Itu datang sendiri, apalagi kalau kepepet. Tadi aku melihat wajah
mu ketakutan setelah mami menegur kita. Iya aku terpaksa "melindungi"
mu, sebelum kamu kena damprat.

Biar aku " buaya", masih punya hati, tak tega melihat sahabat
ketakutan, itulah aku dan sebenarnya kamu tahu itu, dan itulah arti
persahabatan, melindungi ketika sahabatnya dihantaui rasa takut."
kataku sambil menahan tangannya dalam gemgaman ku.

Magda segera menarik tangannya, sambil berujar, " Sudah
siap "khotbahnya" bang ? Aku mau tidur.!"

"Magda, penyakitmu masih seperti dulu, cepat merajuk. Magda sendiri
tak membantah apa yang aku katakan. Berarti aku benar, kan? Kenapa
Magda jadi sewot sendiri?"

" Kalau abang masih terus mengoceh, besok, aku nggak mau belanja ikan
untuk arsik mu itu."

" Yang menyuruh mu mami, bukan aku. Manalah mungkin seperti
aku "sanggup" menyuruhmu, apalagi untuk makanan kesenangan ku,
ahh...mimpinya itu." ucapku. Magda mulai " kehilangan akal"
menghadapi gocekan bola liar yang dilemparkan nya kepada ku.

" Baiklah Magda, sebelum kamu pergi tidur, apa jalan keluar yang
harus aku perbuat. Sekali lagi aku katakan, aku mencintai ibu itu,
bahkan kemarin malam aku berjanji mau menikahinya. Aku hanya terbawa
perasaan atas "penderitaan"nya."

" Zung, berjanji menikahi isteri orang ? Taruh dimana hati mu bang?
ujarnya sambil menggeleng-gelengkan kepala, kemudian meletakkannya
diatas meja, aku mendengar nafasnya sengal.

" Nggak tahulah, sejak aku jauh dari mu, otak dan hatiku mengembara
kemana-mana dan semakin bego."

Magda masih tertunduk diatas meja. Aku diam, menunggu dia tenang
mengendalikan perasaannya. Perlahan Magda mengangkat kepalanya dan
bangkit dari kursi. Aku melihat kedua matanya memerah," abang salah
sasaran, aku bukan orang yang pas untuk menjawabnya. Aku juga korban
dari cintamu dalam perjalanan panjang yang kita rajut bersama.

Bagaimana aku mampu memberi mu jalan keluar.?" Abang mengalami
kesulitan membuat suatu keputusan dengan seseorang yang baru
berhubungan beberapa minggu.?" Bukankah abang dengan gampang telah
memutuskan kisah cinta yang kita bina selama lima tahun.?"

" Magda, lupakanlah masa lalu, berulangkali aku telah minta maaf .!"
" Iya, aku hanya mengingatkannya. Bang, aku tidak setuju abang
berhubungan dengan dia, karena ibu Susan masih mempunyai suami,
ternyata abang tidak hanya mencintainya. Maaf, aku tak mampu lagi,
apalagi mendengar pengakuan abang akan menikahinya.

Seandainya abang jatuh cinta dengan perempuan yang belum mempunyai
suami, bahkan nikah dengan perempuan itu, aku tak akan mencampurinya,
itu mutlak hak abang. Cukup? Sudah bisa aku tidur bang.!?" tanyanya,
suaranya tersendat.

Magda mengulang permohonannya untuk meninggalkan ku. Aku tetap diam,
menatap hampa wajahnya. Magda juga menatapku, kemudian tertunduk,
mengangkat wajahnya lagi menatapku.

" Maaf bang, kalau aku tak dapat membantu mu malam ini, juga mohon
maaf kalau Magda tadi bicara kasar kepada abang. Selamat malam bang,
Magda mau tidur, " ucapnya sambil meninggalkan aku duduk diam membisu.

Aku tak lagi menghalanginya pergi, kecuali menghela nafas panjang.
Aku duduk merenung cukup lama, sementara udara semakin dingin,
arlojiku menunjukkan waktu tengah malam. Dibantu tongkat ku, aku
masuk ke rumah setelah tak menemukan secarik kertas disekitar teras.

Aku masuk ke kamar Jonathan, adiknya Magda. Aku melihat kamarnya
telah ditata rapih. Segera mengambil secarik kertas dan
menuliskan "note' singkat , " Magda aku pulang."

Selesai menuliskannya, kembali menuju teras rumahnya dan meletakkan
kertas yang berisi pemberitahuan itu diatas meja teras dengan
membebani batu kecil. ( Bersambung)

Los angeles. October 15,2008

Tan Zung

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar