Sindrom Masa Pensiun.


-Anne Yurico-

Suatu hari bapak berkata kepadaku “riko, bapak mau kursus montir motor dulu”. “Hah? Apa bapak bisa?” tanyaku. “Bisalah, bapak kan mengerti mesin”, katanya. “Tapi bapak kan sudah tua, dan sekarang teknologi motor sudah modern, manalah bapak bisa mengikutinya“ lanjutku. Tapi bapak tetap bersikukuh, untuk mengikuti kursus itu. Dua kali seminggu selama tiga bulan dan biaya nya pun murah, itu katanya. Itulah ide pertama bapak untuk menjalani masa hidupnya setelah pensiun, sebenarnya bukan pensiun, karena istilah pensiun itu hanya ada untuk pegawai negri-setahuku, sementara bapak bekerja di perusahaan swasta.

Cita-citanya setelah kursus dan pensiun, bapak mau membuka bengkel motor di Rantau Prapat. Waktu aku bertanya mengapa harus di Rantau Prapat, toh di Jakarta atau di Bandung juga bisa. Bapak menjawab, sudah banyak bengkel motor di kota-kota besar ini, sekalianlah biar dekat dengan ompung dan namborumu.Bapak akhirnya menjalani kursus itu dengan rajin, itu laporan mamak kepadaku, karena aku tidak melihatnya langsung, mereka tinggal di bandung sementara aku di jakarta.Lalu suatu saat bapak meneleponku “riko, bapak sudah selesai kursus nih, hebat lho” katanya. “apanya yang hebat pak?” tanyaku. Lalu bapak bercerita, sepulang dari kerja bapak mendatangi tempat kursus sesuai dengan jadwal, teman-teman kursus bapak semuanya masih muda-muda, dan kebanyakan lulusan STM.


Rupanya pada saat akhir kursus diadakan ujian buat peserta kursus, caranya dengan memberikan satu motor yang sengaja dibuat rusak oleh instrukturnya di beberapa tempat. Lalu mereka berlomba untuk melakukan trouble-shooting. “Bapak juara satu lho,” katanya bangga. “Wah, hebat dong bapak” kataku sambil berdoa semoga di masa pensiun bapak selalu senang.Setelah dua bulan berlalu, ketika aku datang berkunjung ke bandung, bapak berkata kepada ku bahwa bapak mau kursus sablon.“Hah, jadi cemana mengenai montir motor itu pak?” tanyaku kaget. Lalu bapak berkata “setelah kupikir-pikir, sayang kali lah ilmuku mengenai tekstil ini, kenapa tidak kupergunakan saja, pengetahuan tentang motor itu tak apalah jadi tambahan ilmuku”.Mmmm, sebagai anak yang baik, ya aku harus dukung juga 'kan, yang penting di masa pensiun tetap bahagia.Lalu kembali bapak mengikuti kursus, sepulang dari kantor nya. Sama, dua kali seminggu selama tiga bulan. Bedanya kursus ini membutuhkan kain atau kaos yang masih polos untuk latihan. Jadilah mamak sebagai seksi sibuk untuk perlengkapan kursus sablon.


Suatu saat bapak menelepon lagi, “riko, payah ‘kali nya yang kursus sablon ini, sudah modern rupanya mereka bukan seperti dulu lagi”.Setelah kutanya, apa nya yang modern. Ternyata patrun atau entah apalah namanya yang digunakan untuk menyablon di setting melalu komputer, lalu kalau ada contoh gambar discan lewat scanner. Duh, kasian sekali bapak ku ini, gaptek… :D, pikirku.“berapa sih ‘ko harga komputer dan scanner itu? Mahal gak?” tanyanya. Lalu untuk men-support masa setelah pensiun bapak, maka kucarilah komputer dan scanner murah di glodok.“Tapi bapak harus belajar dulu mengoperasikan komputer itu ya”, pesanku. “Iya, bapak sudah cari koq kursus komputer murah-murah di bandung”, katanya.


Akhirnya kursus lagi lah bapak mengenai operating system, yang ini satu kali seminggu setiap hari sabtu selama satu bulan. Lalu suatu hari aku meneleponnya “pak, udah cemana kursus komputer itu?” lalu bapak menjawab „bagus, lancar. Tapi ada yang lucu, waktu kutanya sama instruktur bagaimana cara mematikan komputer ini, peserta kursus lain yang semuanya masih muda-muda menjawab, “disiram pake’ air aja pak gultom”. Hahaha… lucu ya.” Terpaksalah aku ikut tertawa, padahal aku tahu, pastilah peserta kursus yang masih muda-muda itu sering meledek bapak ku yang gaptek… :D


Kira-kira tiga bulan kemudian, ketika hari libur bapak mendatangi kami ke jakarta. Katanya, „ko, gimana kalo bapak belajar microsoft office aja? Nanti setelah mengerti, bapak mau buka kursus komputer lah di ranto prapat” nah, waktu mendengar yang ini, aku tidak dapat menahan tertawa, karena kembali lagi, belum selesai dengan kursus menyablon melalui komputer, sudah ada ide lain yang muncul, ke rantau prapat pulak.Tapi tanpa mengurangi rasa hormatku, kukatakan „pak, agak sulit nanti belajar nya, karena cukup banyak yang dipelajari di microsoft office itu, pusing nanti bapak”.Untuk usul ku yang satu ini, bapak sepertinya setuju. Mungkin dia ngeri membayangkan kepusingannya. Apalagi kalau mouse nya lompat-lompat seperti yang dia alami, ketika itu sudah malam hari kira-kira jam 10, bapak meneleponku hanya untuk melaporkan bahwa mouse miliknya tak bisa diaturnya lagi „melompat-lompat dia ‘ko...” katanya. :D


Ketika saatnya masa pensiun tiba, aku berinisiatif menelepon bapak, untuk menanyakan apa yang akhirnya bapak pilih untuk dikerjakan setelah pensiun. Lalu katanya, „ah, kurasa bapak masih bisa bekerja, masih sanggup. Lagipula ada teman bapak yang mengajak bapak untuk bekerja di perusahaannya.” "Bagaimana menurut mu?" tanyanya. Yah.... sebagai seorang anak aku hanya bisa menyetujuinya, tak kuasa aku membendung semangat nya.Akhirnya berangkatlah bapak dan mamak menuju klaten, tempat dimana bapak masih bisa bekerja. Dua tahun lagi, katanya, setelah itu, pensiunpun aku.Ah, bapak, rupanya sudah kena sindrom masa pensiun.Ada kebanggaan tersendiri ketika menyadari bahwa bapak yang sudah tua berumur hampir 63 tahun masih memiliki semangat untuk belajar. Juga ada kebanggaan bahwa dengan umur 63 tahun masih dibutuhkan dalam pekerjaan. Tapi adakah kebanggaanku ketika menyadari bahwa seharusnya se-usia beliau, dia sedang santai di ruang keluarga dan bercanda dengan cucu-cucunya?


Ah, tak taulah, mungkin nanti, menjelang dua tahun selesai masa kerja di klaten, akan datang lagi sindrom masa pensiun dan bapak akan meneleponku lagi untuk ide baru tentang menghabiskan masa pensiun nya. Nah, untuk yang ini aku akan mengajukan satu ide, „ bagaimana kalo bapak tinggal saja di rumah, menemani pahompu bapak yang sudah berjumlah 8 orang itu?” entah bagaimana nanti jawaban bapak.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar