Dosenku Pacarku (6)



Dirty Dancing
Now I've had the time of my life/No I never felt like this before
Yes I swear it's the truth/and I owe it all to you

'Cause I've had the time of my life/and I owe it all to you

I've been waiting for so long/Now I've finally found someone
To stand by me

We saw the writing on the wall/As we felt this magical/Fantasy

Now with passion in our eyes/There's no way we could disguise it
Secretly
So we take each other's hand/'Cause we seem to understand/The urgency
just remember

You're the one thing/I can't get enough of
So I'll tell you something/This could be love because
(CHORUS)
I've had the time of my life/No I never felt this way before
Yes I swear it's the truth/And I owe it all to you...
.........................
http://www.youtube.com/watch?v=5VSuCtebBT0
================= 5===============
" Cinta tidak selalu berakhir dengan pernikahan, bukankah begitu
bu....?"
" Ok, show must go on," bagaimana skripsimu, sudah kau perbaiki.?"
" Berikan aku kesempatan seminggu lagi bu, aku janji akan selesai."
Sebelum pulang, Susan mengajakku kerestauran di sebuah hotel, menurut
ukuran mahasiswa cukup mewah. (Bersambung)
=====================================
Susan memesan makanan kesukaannya, beafsteak dan sea food; sementara
dalam daftar menu tak kutemukan pangsit atau sate makanan kesukaanku.
Akhirnya pilihanku jatuh pada menu salad "kembaran"nya gado-gado.



" Zung mulailah belajar mengubah selera, kok malam begini makan
salad,"ucapnya ngenyek.
" Biasanya menu malamku, makan orang bu,"balasku
" Dasar orang batak, berapa orang sudah abang makan,?"
" Bercanda...belum ada bu, aku baru nyicip," jawabku.
Susan menyisihkan salad pesananku ke samping, dia menaruh makanan
pesanannya ke dalam piringku. Susan memesan dua gelas anggur merah
import, " Zung jenis ini cocok untuk beafsteak dan seafood," jelasnya
semangat.

"Aku fanta merah saja bu," ujarku ngenyek.
Susan tak dapat menahan ketawanya," abang kampungan, masak makan
pakai minum fanta, nanti diketawain orang sekampung bang."
" Iya sudah, "manson" sajalah," ucapku lagi.

" Minuman tukang sorong itu/buruh angkut dipasar," ucapnya
Aku kesal, iseng, aku minta anggur putih. Ehhh...rupanya anggur putih
memang ada. Sungguh, aku kira anggur itu hanya berwarna merah, memang
aku kampungan.

" Nah, kan ketahuan, abang pura-pura. Tapi anggur putih nggak cocok
dengan makanan ini,"katanya pula
Daripada kalah malu, aku jawab, sok tahu pula , "Iya, aku tahu,
anggur putih cocoknya dengan salad atau gado-gado bu."

Susan menutupi wajahnya dengan serbet, bahunya tergucang menahan geli
mendengar jawabanku. Sialan, kalau bukan ibu dosenku sudah
ku"pokkal" mulutmu dalam hati ku.
Berlagak sudah terbiasa minum anggur putih, aku teguk dengan terpaksa
setelah makan salad yang sebenarnya juga aku nggak begitu suka.
Ampun, rasa anggur putih membuat perutku "berontak" aku hampir
muntah tapi kutahan, mending anggur "viat sing" buatan orang batak
itu pikirku.
****
Susan wajahnya menunjukkan rasa heran ketika menghantarkan aku pulang
ke rumah kost ku diujung kampung tidak jauh dari persawahan penduduk,
sangat sederhana.

" Zung, kenapa pindah dari medan baru ? sudah berapa lama tinggal
disini ,?" tanyanya sebelum meninggalkanku.
" Baru dua bulan, aku ingin jauh dari kebisingan, jauh dari kenangan
yang menyiksaku.!" jawabku

" Oh...begitu...kasihan, tapi itu akibat ulahmu sendiri. Zung, besok
kamu datang ke rumah, bawa bahan skripsimu," ujarnya sambil "meremas"
daguku.

Malam sepeninggalnya, aku berniat memperbaiki skripsiku, tapi otakku
tak dapat kosentrasi. Pikiranku terganggu mengingat kejadian beruntun
sejak malam minggu, ketika aku dan Susan berdansa dan berpelukan
erat; ketika dia meletakkan kepalanya diatas bahu disisi kepalaku.
Ciuman dan gigitannya di daguku masih terasa "membekas."

Aku tak habis pikir, gerangan apa yang terjadi antara dia dan
suaminya. Hampir seluruh waktunya bersamaku ketika di diskotik malam
minggu itu. Tak kalah herannya ketika begitu beraninya "memagut'
bibirku didepan suaminya, sebelum Ira dan Sari memapah membawaku
pulang. Diselah bayang wajah ibu dosenku dengan sejumlah pertanyaan,
wajah Magda dan Mawar datang silih berganti.
*****
Esok harinya, aku tiba dirumah Susan menjelang malam, aku sedikit
khawatir Susan akan marah karena aku janji akan kerumahnya sore
hari. Pembantu pria membuka pintu gerbang, Susan menyongsongku
dipintu rumahnya. Dia menyambutku dengan sesungging senyuman. Sebelum
ditanya aku lebih dulu beri alasan kenapa datang agak kemalaman, "
maaf bu, beca dan angpingkot (angkutan pinggiran kota) agak jarang."
" Kasihan, orang kampung,"ujarnya ketawa sambil memutar kedua bahuku
menghadapnya.

Aku jengah, merasa tak nyaman dengan sambutannya. Mataku melirik
sekitar, kalau suami melihat tingkah isterinya. Lagi-lagi
Susan "protes"ketika dia kupanggil ibu.( Bersambung)

Los Angeles. August 21, 20008

Tan Zung


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar