Dosenku Pacarku (9)


Crazy In Love
And its funny how time /Steals the feelings from a love affair
And there's no place to lay the blame/It ain't a case of no one cares
Helplessly just watch it fade away/Neither will admit we both just
wanna say
I do
I miss the days when we were crazy in love/When you were not sure of
me/ And I wasnt sure of you
I do

Bring back the days when we were crazy in love/I wanna feel that way
again
When we were crazy in love/Oh it used to be so easy
When we touched and I was so high/I could get intoxicated just by
looking in your eyes
Baby is there anything that we can do?/Cos I know youre missing me
Like Im always missing you
I do
..........

http://www.youtube.com/watch?v=Lny4AzG_kbQ
===============8 ====================
Susan tetap diam, membisu. Hmmm.... selesailah aku malam ini,pikirku.
Aku coba jurus lain bagaimana mencairkan suasana. Aku benar-benar
ketakutan kalau nanti akan mempengaruhi perkuliahan ku yang akan
segera berakhir. ( Bersambung)
=====================================
" Bu....ibu Susan mau apa sayang...? mau "xo", "black label"
atau "chivaz".? Aku ingin, ibu dan aku pesta hingga pagi, ayo
sayang. Honey..... do you want some beer, manson or fanta?" bahasa
ku "gado-gado" mana tahu itu bisa mempengaruhi, pikirku.



Yessss......aku berhasil !. Mendengar pilihan terakhir itu, Susan
mengerucutkan kelopak matanya, tetapi tak berucap apa, dia terus
menatapku seraya menggelengkan kepalanya pelan. Huuhh...aku kecele,
aku pikir aku berhasil. Aku hampir menyerah melihat tingkahnya,
melebihi mantan pacarku yang masih perawan Bunga dan Magdalena ketika
sedang merajuk.

Terakhir aku keluarkan jurus "ulok dari /ular phyton sedang tidur";
(pura-pura lelap tetapi siap melilit) hahahah...

Aku tarik lehernya kearah ku, kepala ku rebahkan diatas bahunya, "
honey...bicaralah... mau mu apa...?" bisik ku ke dekat telinganya,
tapi ekspresi wajahku tak seindah mulutku ketika meluncurkan
kata.."honey", sungguh, sebenarnya hati ku tak sudi berucap itu.

Susan masih diam, tetapi dia membiarkan kepalaku melekat diatas
bahunya. Kami diam sejenak, seperti orang sedang tapakur,
mengheningkan cipta.

Malam ini aku"melacurkan" mulutku, tetapi bukan hatiku.
Munafik...iya..tak apalah, tak ada pilihan lain.
Aku merasakan cairan hangat mengalir ke atas bahuku. Oalahh....urusan
semakin rumit dan mendalam, pikir hatiku sesaat.

Meski aku telah "kenyang" dengan urusan air mata perempuan, selama
lima tahun, tetapi yang ini "rasa"nya kok beda. Tak tahu apa
alasannya Susan menangis, cengeng. Susan menahan isaknya, dia menarik
nafas dan melontarkan pujian, menurut ku, racun.

"Zung, kamu sangat pintar meluluhkan hati perempuan, kamu.... nakal,"
ucapnya sambil memberiku "hadiah" kemenangan, ciuman, hanya itu.
Nikmatnya memang beda, karena dia mencium tidak diiringi gelora nafsu
seperti yang sudah-sudah. Aku merasa lega. Kejadian malam itu,
menambah pengalaman sekaligus kehati-hatian ku, paling tidak hingga
nanti di meja hijau. Tetapi, aku belum mengerti makna air matanya.

*****
" Zung tolong tambahkan minuman ku.....sayang."
"Bagaimana aku mau mengambil, Susan masih "nempel" seperti ini,"
ujarku, senyumku ku paksakan. Susan, tak mau juga beranjak dari
pangkuanku, kepalanya juga masih terbenam diatas bahuku.
" Jan....Rojan........" suara Susan pelan, seperti kehabisan nafas
memanggil pembantu prianya.

Segera aku membekap mulut Susan dengan tanganku sebelum melanjutkan
panggilannya, " Susan..sudah larut malam, kok masih ngoceh...?"
" Aku mau es lagi sayang, " ujarnya sambil menggigit telapak tanganku
pelan.
" Susan, malam ini aku siap jadi "pembantu"mu." ujarku sembari
beranjak dari sofa.

" Nggak Zung....., you're my man." ujarnya, kedua tangannya menahan
tubuhku hingga aku rebah dipelukannya. Hmmm.."bab" pendahuluan telah
usai, kini masuk pada "bab" yang entah keberapa.

Pada babak ini, Susan pegang kendali, sementara. Tetapi tatapan
kedua matanya itu, membangkitkan gairahku. Pengalaman berpacaran
bertahun-tahun, aku dapat me"terjemahkan" tatapan matanya. Segera
ku"habisi" dia hingga menggeliat gelegapan. Aku akhiri "ronde olah
tubuh" ini dengan kemenangan mutlak. ( Bersambung)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar