Dosenku Pacarku (3)


"Words" ( Bee Gees )
Smile an everlasting smile/A smile could bring you near to me
Don't ever let me find you gone/'Cause that would bring a tear to me
This world has lost it's glory/Let's start a brand new story
Now my love right now there'll be/No other time and I can show you

How my love/Talk in everlasting words
And dedicate them all to me/And I will give you all my life
I'm here if you should call to me/You think that I don't even mean
A single word I say

It's only words, and words are all
I have to take your heart away/You think that I don't even mean
A single word I say/It's only words, and words are all
I have to take your heart away/It's only words, and words are all
I have to take your heart away

http://www.youtube.com/watch

================= 2 ===========
Aku siap melayani "tantangan" Magdalena adu cepat menyelesaikan
skripsi kami yang tertunda gara-gara asmara meradang.
Aku berusaha mengurangi "jam terbang" kehidupan malam kecuali malam
minggu, sukar aku meninggalkannya. (Bersambung)
================================
Akhir pekan, bulan kedua setelah aku kembali ke kehidupan malam. Aku
bertemu ibu dosen pembimbingku bersama suaminya di diskotik tempat
tongkronganku "melepaskan" kepenatan jiwa.



Ibu dosen membuyarkan penikmatan lagu " biarlah sendiri" Edy
Silitonga dipojok ruangan. Aku merasa "surprise", bagaimana dia
mengenaliku dalam cahaya remang. Memang aku sengaja memilih duduk
dipojok. Aku tak sudi diganggu siapapun termasuk pramuria yang selalu
mengajakku pulang sama.

" Aku dari tadi melihatmu duduk sendirian, mana tunanganmu ?"
tanyanya sambil duduk dekatku, sementara suaminya ditinggal dikursi
sendirian.

Aku gelagapan, tak tahu mau jawab apa, aku tertangkap basah,
pikiranku langsung tertuju "hukuman" yang akan kuterima mengenai bab
yang disuruh rombak tak kunjung usai.

Aku semakin kaget ketika ibu dosenku memanggilku abang, " heh....bang
jawab, abang sendirian...?
"Ya...iya bu," ucapku bibirku gemetar.

"Mana dia tunanganmu Magda ? dulu abang minta waktu diundur untuk
menyelesaikan skripsimu karena mau nikah."

" Kami sudahan , nggak jodoh bu."
" Jangan panggil aku ibu, panggil saja namaku, dikampus boleh abang
panggil ibu, ok?"

" Ya, iya bu Susan, " jawabku sambil melirik kemeja suaminya.
" Aku sudah bilang jangan panggil ibu, Susan saja cukup."
Ibu dosenku memanggil pramuria menambah minumanku, " cukup, aku sudah
cukup bu...ehhh...Susan, aku hampir sempoyongan," ucapku.

" Tambah sedikit lagi saja bang; boleh aku tahu, kenapa abang sudahan
dengan tunangamu Magda," tanyanya seraya menambah minumanku.

" Tapi ini bukan bagian dari kelengkapan skripsiku kan?" candaku.
" Hmmm...abang ...lupakan dulu skripsimu, esok lusa masih ada waktu
membicarakannya."

" Beberapa kali aku dan suami kesini, aku perhatikan, abang sering
gonta-ganti pasangan, kali ini abang sendirian, kenapa."
" Aku ingin menyendiri, terlalu banyak beban pikiranku."

" Tunangan mu,?"
" Iya dan...skripsiku."
" Oh....iya? Senin lusa datang kekantor ku biar kita perbaiki,
sekarang abang releks," ujarnya sambil menyalakan rokoknya.

Suaminya bergabung dengan kami. Kami semakin larut mereguk
keniikmatan malam dengan senandung silih berganti. Ibu menarik
suaminya turun berdansa.

Sementara mereka asyik melenturkan tubuh megikuti nada dan irama,
aku ketoilet membuang minuman yang baru saja ditambahkan pramuria.
Mataku sudah mulai berkunang-kunang dan perut merasa mual. Ditoilet,
aku mengeluarkan dengan paksa alkohol dari perutku sebelum aku
terjungkal didepan ibu dosen dan suaminya.

Aku kembali ketempat dudukku, kepala sedikit agak lega. Dalam
kesendirian, aku hanyut mengikuti irama musik mendayu lembut
menghantar khayalku ke mantan pacar Magdalena meski sudah dua bulan
kami berpisah; khayalku sesekali ke Mawar, sebab sebelumnya, sudah
ada sedikit tautan dalam hati.

Susan dan suaminya kembali ketempat duduk, tampak Susan kelelahan,
dia menyandarkan dirinya keatas dada suaminya sembari memintaku
menyalakan rokoknya yang terselip diantara kedua bibirnya.

Ah....Susan, kau memancing gairahku yang lama membeku, ucapku dalam
hati. Kenapa pula mesti aku yang disuruh menyalakan rokoknya padahal
dia memegang "zippo"nya. Tanganku sedikit gemetar mengambil "zippo"
dari jepitan jari lentiknya.

Susan, ibu dosenku mendekatkan bibirnya ketanganku ketika memantik
zippo miliknya. Kepalanya kembali disandarkan ke atas dada suaminya,
tetapi matanya binar kearahku. Mataku tak mampu menatap ibu dosen
yang kesehariannya "galak" didalam kelas. (Bersambung)

Los Angeles. August 14, 200

Tan Zung

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar