Dosenku Pacarku (5)


Meat Loaf - I'd Do Anything For Love

And I would do anything for love/I'd run right into hell and back
I would do anything for love/I'd never lie to you and that's a fact
But I'll never forget the way you feel right now,/Oh no, no way
And I would do anything for love, but I won't do that
No, I won't do that Anything for love
Oh, I would do anything for love

I would do anything for love, but I won't do that/ No, I won't do that

Some days it don't come easy/Some days it don't come hard
Some days it don't come at all, and these are the days that never end
Some nights you're breathing fire/Some nights you're carved in ice
Some nights you're like nothing I've ever seen before or will again
Maybe I'm crazy, but it's crazy and it's true
I know you can save me, no-one else can save me now but you
........................
http://www.youtube.com/watch

========================== 4 ===========================
" Siapa perempuan teman abang tadi malam. Tampaknya abang menikmati
irama musik dengan perempuan itu." Keduanya kaget ketika kuberitahu,
perempuan itu adalah dosen sekaligus pembimbing skripsiku. " oh...iya
tetapi wajahnya masih muda, tapi "style" nya seperti anak
remaja, "ujar Ira tertawa (Bersambung)
========================================================
Usai kami serapan pagi, aku tanyakan kenapa mereka bekerja malam
sebagai pramuria.
"Apakah pekerjaan itu rendah bang dan salahkah kami bekerja sebagai
pramuria,?" tanyanya Sari
Aku merasa terpojok dengan pertanyaanku, pada hal sesungguhnya tidak
ada sedikitpun dalam benakku merendahkan pekerjaan apalagi
menyalahkan mereka.


" Oh...bukan..., maksudku, kenapa tidak kerja lain yang lebih
ringan ? Bukankah kalian terlalu letih karena pagi harus kuliah.?"

Bagi keduanya, tak ada pilihan bekerja sebagai pramuria, setelah
beberapa kali gagal melamar sejumlah perusahaan.

"Setiap perusahaan yang kami lamar membutuhkan pendidikan minimal
sarjana muda. Sebenarnya, kami merasa berat dengan pekerjaan ini,
tetapi keterbatasan keuangan orangtua, tidak ada pilihan lain.
Memang, pada umumnya orang menilai kami perempuan penghibur dan
murahan. Abang boleh tanyakan teman-teman, apakah kami
pernah "melacurkan'diri hanya karena uang. Kami masih mempunyai
kehormatan dan harga diri sebagai perempuan. Pekerjaan ini akan kami
akhiri setelah tamat sarjana muda. Kami rencana mau mencari pekerjaan
di kantor atau untuk sementara mengajar, doakan bang," ujarnya.

Hhmmm...sungguh mulianya perempuan didepanku, semangat juangnya
melebihi dariku yang masih"menetek" dari orangtua. Aku sungguh kagum,
sama kagumnya dengan temanku satu kampung, Ramos, mencari nafkah dan
uang kuliah dengan pekerjaan menarik beca dayung.

Aku merasa bersalah dengan pikiranku selama ini, bahwa mereka adalah
perempuan penghibur. Aku juga tak mengetahuinya jika mereka beberapa
kali mengajakku pulang bersama hanya ingin perlindungan diri.

Menurut Sari dan Ira, setiap usai kerja mereka selalu
dikompas/dipalakin oleh preman diskotik, jika mereka menolak preman
tak segan-segan menampari mereka. Bahkan menurut Ira, preman-preman
itu beberapa kali berusaha mengajak berbuat mesum.

" Bang, inilah resiko pekerja malam seperti kami. Pikiran mereka
semua jorok, mereka menganggap semua perempuan dapat di beli dengan
uang dan ke "jagoan" nya."

"Apakah kalian tak pernah melaporkan kepada manager atau ke petugas
keamanan,?"
" Setali tiga uang bang.!" ujar mereka sinis.

" Preman itu segan sama abang, makanya kami sering ajak pulang sama.
Tidak ada niat jelek, abang saja yang sombong,cuek. Beberapa bulan
lalu sebelum bar dibuka, kami dan kawanan preman itu kebetulan nonton
televisi. Kami melihat abang sedang berlaga dan menerima piala
kejuaraan. Satu diantara preman itu mengaku, dia dulu murid abang."

" Ohhh...jadi sekarang aku menjadi "bodyguard" kalian, tanpa bayaran
pula, ?" ujarku bercanda.
" Bukan begitu bang, kami mau bayar. Mendingan kami bayar kepada
abang daripada ke preman-preman itu," ujar mereka serius sembari
menambahkan, bahwa mereka kerja hanya pada hari rabu dan akhir pekan.

Aku menyanggupi menjadi"bodyguard" mereka tanpa bayaran, dengan
catatan aku tak mau tidur di rumah mereka, keduanya setuju. Wajah
mereka memancarkan keceriaan sangat, keduanya merangkulku serta
menciumi pipiku hingga aku tergeletak di sofa sederhana mereka.

" Hoiiii ...sudah.... aku sesak," ucapku, entah siapun yang mau
kubalas ciumannya, keduanya sama-sama cantik, wangi
pula.
*****
Susan, ibu dosenku, tidak sedikitpun menunjukkan perubahan sikap
sebagai dosen ketika bertemu denganku dihalaman kampus. Aku
mencoba "usil", setelah kulihat tak ada orang sekitar. Aku sapa dia
dengan hanya menyebut namanya tanpa ibu. Susan membalasku dengan
senyuman, " kamu datang ke ruanganku nanti pukul empat,"ujarnya
sambil meninggalkanku.

Aku menemuinya sesuai dengan waktu yang ditentukan. Jantungku terasa
mau copot melihat Magdalena ada di ruangannya. Meski sebelumnya kami
sudah saling menyapa, namun pertemuan di ruangan ibu dosen membuatku
kaget setengah mati. Apa pula ulah ibu dosen ini, pikirku. Magda
menatapku dingin, aku melihat matanya sembab sepertinya baru
mengeluarkan air mata.

Tidak lama kemudian, Magda meninggalkan aku dan ibu dosenku, "permisi
bang,"ujarnya pelan sembari menolehku.

"Abang keterlaluan, perempuan sebaik dia kau hancurkan hidupnya hanya
karena cemburu. Dia telah membuktikan bahwa pria yang kau curigai
itu, Magda tolak mentah-mentah, dan lelaki itu telah kembali ke
kotanya. " ucapnya.

" Iya bu, aku juga sangat menyesal, tetapi semua telah terjadi,
seandainya dia mau memaafkan, aku bersedia kembali merajut kasih
dengan dia. Tetapi itu menurutku itu sesuatu yang mustahil."

"Iya, aku mengerti perasaanya, aku juga telah berusaha membujuknya
supaya kalian kembali seperti sediakala, tetapi dia belum mau
menjawabku "ya" atau "tidak". Zung, maafkan aku, jika mencampuri
hubunganmu dengan Magda. Hampir seluruh mahasiswa angkatanmu tahu
hubungan kalian serius, bahkan sebahagian dosen mengetahui kalau
kalian akan segera menikah."

" Cinta tidak selalu berakhir dengan pernikahan, bukankah begitu
bu....?"

" Ok, show must go on," bagaimana skripsimu, sudah kau perbaiki.?"
" Berikan aku kesempatan seminggu lagi bu, aku janji akan selesai."
Sebelum pulang, Susan mengajakku kerestauran di sebuah hotel,
menurut ukuran mahasiswa cukup mewah. (Bersambung)

Los Angeles. August 21, 20008

Tan Zung

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar